Presiden Israel Terancam Ditangkap Saat Tiba di Australia, Ini Alasannya?
Presiden Israel, Isaac Herzog, kini tengah menghadapi seruan penangkapan serius jelang kedatangannya di Australia. Undangan dari Canberra, yang semula dimaksudkan untuk menghormati para korban penembakan massal di Pantai Bondi yang menargetkan festival Yahudi, justru memicu kontroversi dan ancaman tak terduga ini. Mengapa kepala negara Israel tersebut terancam ditangkap di negara yang dikenal sebagai sahabat?
Desakan Penangkapan Presiden Israel Isaac Herzog
Kunjungan empat hari Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia, yang dijadwalkan dimulai pada Senin, 9 Februari mendatang, diwarnai gelombang desakan penangkapan dari berbagai pihak, khususnya para aktivis hak asasi manusia. Seruan ini terang-terangan menyoroti peningkatan ketegangan akibat konflik di Timur Tengah dan implikasinya di panggung internasional.Seruan dari Pengacara HAM PBB
Desakan paling keras datang dari Chris Sidoti, seorang pengacara HAM ternama yang juga menjabat sebagai anggota Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB. Komisi ini secara spesifik bertugas menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Israel dan wilayah Palestina. Sidoti dengan tegas menyatakan bahwa Herzog "harus ditangkap jika dia datang" ke Australia, merujuk pada temuan dan rekomendasi dari komisi PBB tersebut.Tidak hanya menyerukan penangkapan, Sidoti juga mendesak pemerintah Australia untuk segera membatalkan undangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia bahkan menyebut Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, telah melakukan "kesalahan bodoh" dengan mengundang kepala negara Israel itu. "Itu keputusan yang salah, dan itu perlu dibatalkan sebelum terlambat," tandasnya, menekankan urgensi situasi ini.
Dasar Tuduhan: Hasutan Genosida
Dasar dari seruan penangkapan yang dilayangkan Sidoti adalah tuduhan yang sangat serius: "menghasut terjadinya genosida." Tuduhan ini berlandaskan laporan penyelidikan PBB yang dibentuk pada tahun 2025. Laporan tersebut menduga Presiden Herzog menghasut genosida ketika ia menyatakan bahwa "seluruh bangsa" Palestina bertanggung jawab atas serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Pernyataan Herzog ini, yang digarisbawahi oleh laporan tersebut, dinilai sebagai generalisasi berbahaya yang berpotensi memicu kekerasan lebih lanjut terhadap warga sipil.Israel sendiri telah menolak laporan penyelidikan PBB ini secara tegas, menggambarkannya sebagai "menyimpang dan salah." Pemerintah Israel bahkan menyerukan pembubaran badan PBB yang bertanggung jawab atas penyelidikan tersebut, menegaskan bahwa mereka tidak mengakui validitas temuan tersebut. Perselisihan ini menambah kompleksitas kunjungan Herzog ke Australia, menempatkan Canberra dalam posisi yang dilematis.
Tujuan Kunjungan dan Sikap Pemerintah Australia
Meskipun desakan untuk mencabut undangan begitu kuat, Pemerintah Australia tetap menegaskan komitmennya terhadap kunjungan Presiden Herzog. Kunjungan ini dipandang sebagai momen penting untuk menunjukkan solidaritas dan memperingati tragedi kemanusiaan yang baru-baru ini menimpa komunitas Yahudi di Australia.Agenda Kunjungan Presiden Herzog
Presiden Isaac Herzog direncanakan berada di Australia selama empat hari. Fokus utama kunjungannya adalah bertemu dengan komunitas Yahudi di Australia dan memberikan penghormatan kepada para korban penembakan massal di Pantai Bondi. Tragedi yang terjadi pada 14 Desember 2025 itu menargetkan festival Yahudi, meninggalkan duka mendalam dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya antisemitisme di negeri tersebut. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan dukungan moral dan memperkuat hubungan kedua negara, terutama dalam menghadapi ancaman terorisme.Penjelasan Menteri Luar Negeri Australia
Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, memberikan penjelasan tegas mengenai alasan di balik undangan kepada Presiden Herzog. Wong menyatakan bahwa undangan tersebut sesuai dengan keinginan komunitas Yahudi di Australia yang sedang berduka. "Presiden Herzog diundang ke Australia untuk menghormati para korban Bondi dan untuk bersama serta memberikan dukungan kepada komunitas Yahudi Australia setelah serangan teroris dan serangan anti-Semitisme terburuk di tanah kita yang pernah kita saksikan," jelas Wong. Pernyataan ini menunjukkan prioritas pemerintah Australia untuk mendukung warganya yang terdampak tragedi, sekaligus menegaskan sikap mereka terhadap isu terorisme dan antisemitisme.Reaksi dan Protes Terhadap Kunjungan Herzog
Di tengah agenda kunjungan yang sarat makna bagi komunitas Yahudi, kedatangan Presiden Herzog juga memicu gelombang protes dari kalangan aktivis pro-Palestina di Australia. Sejumlah kelompok telah menyerukan demonstrasi di berbagai wilayah, termasuk di Sydney, untuk menentang kehadiran kepala negara Israel tersebut. Protes ini mencerminkan polarisasi pandangan terhadap konflik Israel-Palestina yang terus berlanjut dan dampaknya pada hubungan diplomatik serta sosial di negara-negara lain. Mereka mendesak pemerintah Australia agar mempertimbangkan kembali undangan tersebut, dengan alasan bahwa kunjungan Herzog akan mengesahkan tindakan yang mereka anggap melanggar hak asasi manusia.Latar Belakang: Tragedi Penembakan di Pantai Bondi
Kunjungan Presiden Herzog dan segala kontroversi di baliknya tidak dapat dilepaskan dari latar belakang tragedi penembakan massal yang mengguncang Pantai Bondi, Sydney, pada akhir tahun lalu. Peristiwa berdarah ini menjadi titik pijak bagi undangan pemerintah Australia kepada Herzog, sekaligus menambah lapisan kompleksitas pada suasana politik dan keamanan setempat.Kronologi dan Jumlah Korban
Peristiwa penembakan yang memilukan terjadi pada Minggu malam, 14 Desember 2025, saat festival Hanukkah sedang berlangsung meriah di Pantai Bondi, Sydney. Festival keagamaan Yahudi tersebut tiba-tiba berubah menjadi ajang kekerasan brutal ketika dua pelaku melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Akibat serangan tersebut, sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Para korban mencakup beragam usia, termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun, dua penyintas Holocaust, serta sepasang suami istri yang tewas saat mencoba menggagalkan serangan. Insiden ini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh warga Australia dan menimbulkan kekhawatiran serius akan keselamatan publik.Identifikasi Pelaku dan Motif Terorisme
Respons cepat dari kepolisian New South Wales berhasil mengidentifikasi dan menangkap para pelaku. Salah seorang tersangka penembak tewas di tempat setelah baku tembak dengan polisi, sementara yang lainnya berhasil ditahan. Kepolisian New South Wales kemudian mendakwa tersangka utama, Naveed Akram, dengan terorisme, 15 dakwaan pembunuhan, dan sejumlah kejahatan lainnya.Penyelidikan mengungkapkan bahwa Naveed Akram dan ayahnya, Sajid Akram, terlibat dalam aksi penembakan tersebut. Pihak berwenang menyatakan bahwa "indikasi awal menunjukkan ini serangan teroris yang diilhami oleh ISIS, sebuah organisasi teroris yang terdaftar di Australia." Polisi akan menyatakan di pengadilan bahwa tindakan para pelaku dimaksudkan untuk memajukan tujuan keagamaan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat, yang menjadi ciri khas aksi terorisme. Di dalam mobil yang terdaftar atas nama Naveed dan diparkir di dekat Pantai Bondi, ditemukan dua bendera ISIS buatan sendiri, semakin menguatkan dugaan motif terorisme yang terkait dengan kelompok ekstremis.
Situasi di Australia menjelang kedatangan Presiden Herzog mencerminkan rumitnya hubungan internasional di tengah konflik global dan ancaman terorisme. Kunjungan yang awalnya bertujuan untuk solidaritas dan penghormatan ini kini dibayangi oleh desakan penangkapan dan demonstrasi. Pemerintah Australia dihadapkan pada tugas berat untuk menyeimbangkan hubungan diplomatik, menjaga keamanan, dan merespons tuntutan dari berbagai kelompok masyarakat di tengah polarisasi pandangan yang kian menajam.