TERBARU

Keterbatasan Hidup Manusia dalam Perspektif Al-Qur'an Kajian QS. Al-A‘rāf Ayat 34 Berdasarkan Tafsir Ulama dan Hadis Nabi

Keterbatasan Hidup Manusia dalam Perspektif Al-Qur'an Kajian QS. Al-A‘rāf Ayat 34 Berdasarkan Tafsir Ulama dan Hadis Nabi

Qumedia -  Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan manusia memiliki batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Prinsip ini merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran spiritual, etika kehidupan, dan orientasi amal seorang Muslim. Artikel ini mengkaji QS. Al-A‘rāf ayat 34 yang berbicara tentang kepastian ajal setiap umat, dengan pendekatan tafsir tematik (tafsīr mawḍū‘ī). Kajian ini merujuk pada penjelasan para mufassir klasik seperti Ibn Kathīr, al-Ṭabarī, dan al-Qurṭubī, serta diperkuat dengan hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesadaran akan keterbatasan hidup mendorong manusia untuk bersegera dalam taubat, memperbaiki kualitas amal, dan tidak terpedaya oleh kehidupan dunia. Artikel ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus materi dakwah yang aplikatif bagi umat.

Kesadaran akan keterbatasan hidup merupakan salah satu prinsip fundamental dalam ajaran Islam. Al-Qur’an secara konsisten mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan setiap makhluk memiliki batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Konsep ini bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan pesimisme, melainkan untuk membentuk orientasi hidup yang bertanggung jawab dan bernilai akhirat.

Al-A‘rāf ayat 34 menegaskan bahwa setiap umat memiliki ajal yang tidak dapat dimajukan ataupun ditunda. Ayat ini memiliki implikasi atau dampak teologis (Apa yang dikatakan atau diajarkan oleh agama tentang suatu hal atau teori) dan praktis (Bertindak atau berprilaku berdasarkan ajaran agama) yang luas, baik dalam konteks individu maupun kehidupan sosial umat manusia. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap ayat ini menjadi penting untuk memperkuat kesadaran keimanan dan etika kehidupan umat Islam.

Teks dan Terjemah QS. Al-A‘rāf Ayat 34

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Dan setiap umat mempunyai ajal; maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.

Analisis Konsep Ajal dalam Al-Qur’an

Secara bahasa, kata ajal (أَجَل) berarti batas waktu yang ditentukan. Dalam Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk menunjukkan ketetapan Allah SWT terhadap masa hidup individu maupun keberlangsungan suatu umat. Ajal bersifat pasti, tidak bergantung pada kehendak manusia, dan merupakan bagian dari qadha dan qadar Allah.

Al-A‘rāf ayat 34 menegaskan bahwa ajal tidak dapat diubah, baik dengan usaha manusia maupun dengan kekuatan duniawi. Hal ini menunjukkan keterbatasan mutlak manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Pandangan Para Ulama Tafsir

Tafsir Ibn Kathīr

Ibn Kathīr menjelaskan bahwa ayat ini mencakup ketetapan ajal bagi setiap umat, baik berupa kehancuran akibat kedurhakaan maupun berakhirnya generasi manusia. Ketika ajal telah tiba, tidak ada kekuatan yang mampu menahannya, sebagaimana tidak ada yang mampu mempercepatnya.

Tafsir Al-abarī

Al-Ṭabarī menafsirkan ayat ini sebagai penegasan terhadap kepastian sunnatullah dalam kehidupan manusia. Menurutnya, ajal telah ditentukan dan dicatat di Lauḥ Maḥfūẓ, sehingga manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya.

Tafsir Al-Qurubī

Al-Qurṭubī menekankan aspek peringatan dalam ayat ini. Panjang angan-angan dan penundaan taubat merupakan bentuk kelalaian manusia terhadap kepastian ajal. Oleh sebab itu, ayat ini mendorong manusia untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Hadis-Hadis yang Relevan

Rasulullah ﷺ menegaskan kepastian ajal dalam banyak hadis, di antaranya :

إِذَا جَاءَ أَجَلُ الْعَبْدِ لَمْ يُؤَخَّرْ

Apabila ajal seorang hamba telah datang, maka tidak akan ditunda. (HR. Aḥmad)

Hadis lain menyebutkan :

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. (HR. al-Tirmiżī)

Selain itu, Nabi ﷺ juga menganjurkan umatnya untuk senantiasa mengingat kematian sebagai sarana memperbaiki kualitas hidup dan amal.

Implikasi Etis dan Praktis bagi Kehidupan Manusia

Pemahaman terhadap QS. Al-A‘rāf ayat 34 melahirkan beberapa implikasi penting, antara lain:

  1. Kesadaran bahwa waktu hidup terbatas mendorong manusia untuk tidak menunda kebaikan dan taubat.
  2. Kehidupan dunia tidak dijadikan tujuan akhir, melainkan sarana menuju kehidupan akhirat.
  3. Setiap individu dituntut untuk mengisi hidupnya dengan amal ṣāliḥ yang bernilai keberlanjutan.

Penutup

Al-A‘rāf ayat 34 menegaskan bahwa kehidupan manusia berada dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Kesadaran terhadap kepastian ajal seharusnya membentuk sikap hidup yang bertanggung jawab, berorientasi akhirat, dan penuh kesungguhan dalam beramal. Dengan memahami ayat ini secara mendalam, umat Islam diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih bermakna dan siap menghadapi pertemuan dengan Allah SWT. Qumedia

Penulis: Suhendar | Editor: Rifqi Fauzan Sholeh
Reference:
  • Ibn Kathīr. Tafsīr al-Qur’ān al-’Aẓīm. Dār Ṭ
  • Al-Ṭabarī. Jāmi‘ al-Bayān ’an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Dār Hajr.
  • Al-Qurṭubī. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Mu’assasah al-Risālah.
  • Aḥmad bin Ḥ Musnad Aḥmad.
  • Al-Tirmiżī. Sunan al-Tirmiżī.
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment