TERBARU

Prabowo ke AS, Rapat Perdana Board of Peace dan Momen Penentuan Tarif Trump

Prabowo ke AS, Rapat Perdana Board of Peace dan Momen Penentuan Tarif Trump


Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan segera bertolak ke Amerika Serikat, siap mengemban dua misi penting: menghadiri rapat perdana Board of Peace dan meneken kesepakatan krusial terkait tarif impor. Lawatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah langkah strategis Indonesia di panggung global, menunjukkan komitmen Jakarta dalam diplomasi perdamaian sekaligus penguatan ekonomi bilateral dengan AS, demi kepentingan nasional di tengah riuhnya dinamika geopolitik.

Agenda Utama: Rapat Perdana Board of Peace

Kehadiran Presiden Prabowo dan Komitmen Indonesia

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada rapat perdana Board of Peace di Amerika Serikat menjadi agenda yang sangat dinanti. Forum diskusi strategis untuk isu-isu perdamaian global ini diinisiasi langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keterlibatan Indonesia, melalui kepala negaranya, menegaskan posisi Jakarta sebagai pemain kunci dalam diplomasi internasional yang senantiasa berorientasi pada stabilitas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, sebelumnya telah mengonfirmasi undangan tersebut diterima oleh pemerintah Indonesia. "Dapat kami infokan bahwa pemerintah telah menerima undangan rapat perdana Board of Peace, dan Presiden Prabowo Subianto akan hadir," ujarnya beberapa waktu lalu. Pernyataan ini sekaligus menandakan keseriusan Indonesia untuk terlibat aktif sejak tahap awal pembentukan dan penentuan arah kerja dewan tersebut.

Partisipasi Presiden Prabowo juga dipandang sebagai momentum emas untuk mempererat hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, yang merupakan mitra strategis Indonesia di berbagai sektor. Lebih jauh, forum Board of Peace diharapkan dapat menjadi platform vital bagi Indonesia untuk menyuarakan pandangannya mengenai berbagai konflik global, termasuk upaya de-eskalasi dan resolusi yang berkeadilan.

Peran Indonesia dalam Mengupayakan Perdamaian Berkelanjutan

Indonesia tidak sekadar hadir sebagai peserta, melainkan bertekad membawa agenda konkret dalam upaya perdamaian global. Komitmen kuat ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dipegang teguh Indonesia sejak lama, yakni berperan aktif dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam kesempatan ini, Indonesia akan secara khusus menggarisbawahi pentingnya perlindungan warga sipil di wilayah konflik. Situasi di Gaza, misalnya, menjadi salah satu perhatian utama. Pemerintah Indonesia senantiasa menyerukan penghentian kekerasan dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan bagi warga Palestina.

"Indonesia akan menggunakan Board of Peace untuk memperjuangkan perlindungan warga sipil, mendorong pemulihan dan rekonstruksi Gaza, serta mengupayakan perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina berdasarkan solusi dua negara," terang Nabyl Achmad Mulachela, menegaskan posisi teguh Indonesia dalam mendukung hak-hak kemerdekaan Palestina, sesuai dengan amanat konstitusi.

Melalui forum ini, Indonesia berharap dapat berkontribusi pada kerangka kerja yang lebih efektif dalam penanganan krisis kemanusiaan dan pembangunan kembali daerah pascakonflik. Dialog yang konstruktif di Board of Peace diharapkan dapat menghasilkan konsensus global yang lebih kuat untuk mendorong resolusi konflik yang komprehensif dan lestari.

Momen Penentuan Tarif Impor dengan AS

Progres Negosiasi dan Agreement on Reciprocal Tariff (ART)

Di samping agenda diplomasi perdamaian, kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat juga akan menjadi momen krusial dari aspek ekonomi. Salah satu agenda penting yang akan dihelat adalah penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) atau Kesepakatan Tarif Timbal Balik. Kesepakatan ini merupakan puncak dari serangkaian negosiasi intensif antara Jakarta dan Washington, yang bertujuan menciptakan iklim perdagangan lebih adil dan menguntungkan kedua belah pihak.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo akan menghadiri acara pada tanggal 19 Februari, dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART. Negosiasi terkait ART sendiri telah berlangsung cukup lama, melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait di Indonesia.

Meskipun angka akhir yang disepakati masih menunggu pengumuman resmi, Airlangga sempat membocorkan progresnya. "Kan kita sudah turun dari (tarif) 32 ke 19, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai," tutur Airlangga kepada awak media di kompleks Istana Kepresidenan. Ini menunjukkan upaya serius kedua negara dalam mengatasi hambatan perdagangan dan meningkatkan volume ekspor-impor.

Dampak Potensial Kesepakatan Tarif bagi Indonesia

Penandatanganan ART diproyeksikan membawa dampak positif yang signifikan bagi perekonomian Indonesia, khususnya sektor ekspor. Dengan adanya tarif timbal balik yang lebih rendah atau bahkan nol, produk-produk unggulan Indonesia akan memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi di pasar Amerika Serikat. Hal ini berpotensi meningkatkan volume ekspor, terutama untuk komoditas seperti tekstil, produk manufaktur, dan hasil perkebunan.

Kesepakatan ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi asing langsung (FDI) dari Amerika Serikat ke Indonesia. Iklim perdagangan yang stabil dan terprediksi, didukung oleh kesepakatan tarif, akan memberikan kepastian bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Di sisi lain, negosiasi ART juga secara cermat mempertimbangkan kepentingan industri dalam negeri Indonesia agar tidak tergerus oleh impor dari AS. Oleh karena itu, kesepakatan yang dicapai diharapkan bersifat `win-win solution`, di mana kedua negara dapat merasakan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan sektor-sektor strategis masing-masing. Kesepakatan ini menjadi landasan penting untuk memperkuat hubungan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Kunjungan Presiden Prabowo ke AS pada Februari mendatang, dengan agenda ganda di bidang perdamaian dan ekonomi, menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain global yang strategis. Melalui Board of Peace, Indonesia berupaya aktif membentuk narasi perdamaian. Sementara itu, penandatanganan ART diharapkan menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional, memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjalin kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment