Gaza Kembali Merana, 18 Nyawa Melayang Akibat Serangan Israel, Termasuk Para Bocah
Gaza Kembali Berdarah: 18 Nyawa Melayang Akibat Serangan Israel, Evakuasi Medis Pasien Terhenti
Jalur Gaza kembali dilanda duka mendalam menyusul serangkaian serangan militer Israel pada Rabu (4/2) waktu setempat. Rentetan tembakan tank dan serangan udara yang menghantam wilayah itu telah merenggut setidaknya 18 nyawa warga Palestina, termasuk empat anak-anak. Tragedi ini menambah panjang daftar penderitaan di Jalur Gaza, sebuah daerah kantong yang selama ini terkepung. Ironisnya, insiden mematikan ini bertepatan dengan penghentian aktivitas evakuasi pasien melalui perlintasan perbatasan Rafah, yang baru saja dibuka kembali setelah nyaris dua tahun.
Korban Jiwa dan Respons Militer Israel
Rincian Serangan dan Wilayah Terdampak
Serangan intensif yang dilancarkan militer Israel menghantam sejumlah lokasi penting di Jalur Gaza. Laporan menyebutkan, tembakan tank menghujani berbagai titik, disusul oleh serangkaian serangan udara yang menargetkan Kota Gaza, kota terbesar di Jalur Gaza, serta kota Khan Younis di bagian selatan daerah kantong Palestina. Kebrutalan serangan tersebut tidak hanya menyisakan kehancuran infrastruktur, tetapi juga menelan korban jiwa yang signifikan, termasuk anak-anak tak berdosa.Data terkini dari sumber medis setempat mengonfirmasi delapan belas individu telah kehilangan nyawa mereka. Empat di antaranya adalah anak-anak, sebuah fakta yang menggarisbawahi dampak mengerikan konflik terhadap populasi paling rentan. "Ini adalah pemandangan yang menyayat hati. Anak-anak yang seharusnya bermain kini terbaring tak bernyawa akibat serangan ini," ujar seorang petugas medis di Gaza yang meminta namanya tidak disebutkan, menggambarkan situasi pilu di lapangan.
Klaim dan Justifikasi Militer Israel
Menanggapi rentetan serangan tersebut, militer Israel tak tinggal diam dan segera mengeluarkan pernyataan resmi mengenai operasi mereka. Menurut keterangan yang dirilis, serangan tank dan udara dilancarkan sebagai respons terhadap insiden penembakan yang dilakukan seorang pria bersenjata ke arah tentara Israel. Militer Israel mengklaim, insiden tersebut mengakibatkan seorang tentara cadangan mengalami luka serius."Operasi ini merupakan respons defensif yang terkoordinasi untuk melindungi pasukan kami dari ancaman langsung. Kami menargetkan posisi-posisi yang relevan dengan pelaku penyerangan," demikian bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip dari laporan media internasional. Kendati demikian, kelompok hak asasi manusia dan organisasi kemanusiaan internasional menyerukan penyelidikan independen terhadap proporsionalitas serangan tersebut, mengingat tingginya jumlah korban sipil, terutama anak-anak. Insiden ini terjadi di tengah suasana gencatan senjata yang masih berlaku di wilayah tersebut, menambah kompleksitas situasi yang ada.
Penutupan Perlintasan Rafah dan Dampak Kemanusiaan
Penghentian Evakuasi Medis
Bersamaan dengan eskalasi militer, otoritas Israel juga secara mendadak memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas evakuasi pasien melalui perlintasan perbatasan Rafah. Perlintasan yang menghubungkan Jalur Gaza dan Mesir ini padahal baru saja dibuka kembali awal bulan ini, setelah ditutup selama hampir dua tahun. Keputusan mendadak ini segera memicu kekhawatiran serius mengenai nasib ratusan pasien Palestina yang sangat membutuhkan perawatan medis mendesak di luar Gaza.Penghentian ini terjadi hanya dua hari setelah perlintasan tersebut dibuka kembali, yang sebelumnya menjadi salah satu ketentuan penting dalam kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober tahun lalu. "Penghentian ini adalah pukulan telak bagi mereka yang hidupnya bergantung pada akses ke perawatan medis di luar Gaza," kata seorang pejabat kesehatan Gaza kepada awak media, menyoroti krisis kemanusiaan yang kian mendalam.
Kesaksian Para Pasien dan Tenaga Medis
Dampak langsung dari penutupan Rafah dirasakan betul oleh para pasien yang telah bersiap untuk menyeberang. Juru bicara Bulan Sabit Merah menyampaikan bahwa sejumlah pasien sudah tiba di sebuah rumah sakit di Khan Younis, menunggu giliran untuk dievakuasi, ketika mereka tiba-tiba diberitahu mengenai penundaan tersebut. Raja'a Abu Teir, seorang pasien Palestina yang seharusnya dievakuasi, mengungkapkan kekecewaannya. "Mereka menghubungi para pasien dan mengatakan bahwa hari ini tidak ada perjalanan sama sekali, perlintasan ditutup. Saya tidak tahu sampai kapan saya harus menunggu," ujarnya dengan nada putus asa di rumah sakit.Beberapa pasien bahkan dilaporkan terpaksa menunggu di dalam ambulans, terjebak dalam ketidakpastian setelah menerima kabar buruk tersebut. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya kondisi kesehatan di Gaza, di mana fasilitas medis seringkali tidak memadai untuk menangani kasus-kasus serius.
Klarifikasi dan Persyaratan Pembukaan Kembali
Menanggapi protes dan kekhawatiran yang muncul, COGAT, badan Israel yang mengendalikan akses ke Gaza, mengeluarkan pernyataan. Pada Rabu (4/2), COGAT menyatakan bahwa perlintasan perbatasan Rafah "tetap dibuka" secara teknis. Namun, mereka belum menerima detail koordinasi yang diperlukan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memfasilitasi perlintasan tersebut.Hingga kini, WHO sendiri belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim COGAT ini. Situasi ini menciptakan ketidakjelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kurangnya koordinasi, dan yang paling penting, kapan evakuasi medis dapat dilanjutkan untuk menyelamatkan nyawa para pasien.
Situasi Sebelum Penutupan
Sebelum penutupan mendadak ini, pembukaan kembali perlintasan Rafah telah memberikan secercah harapan. Ini merupakan kali pertama dalam berbulan-bulan sejumlah kecil warga Palestina dapat menyeberang. Berdasarkan keterangan para petugas medis Gaza kepada wartawan, sebanyak 16 pasien dari Jalur Gaza dan 40 orang pendamping mereka berhasil menyeberang ke Mesir pada Selasa (3/2) waktu setempat.Secara terpisah, sumber kepolisian Hamas juga mengonfirmasi bahwa sedikitnya 40 orang telah menyeberang ke Mesir pada Selasa (3/2) malam. Angka-angka ini menunjukkan betapa vitalnya perlintasan Rafah sebagai jalur kehidupan bagi mereka yang membutuhkan bantuan medis dan akses ke dunia luar. Kini, harapan tersebut kembali pupus, meninggalkan ribuan warga di Gaza dalam ketidakpastian dan penderitaan yang berkelanjutan di tengah ketegangan yang tak berkesudahan.