Nggak Nyangka! Tradisi Tabuh Drum Bangunin Sahur Keliling Ternyata Lahir di Wilayah Ini
Selama bulan Ramadan yang penuh berkah, kita kerap melihat anak-anak hingga orang dewasa bersemangat berkeliling menabuh drum atau benda lain di kampung-kampung Indonesia. Mereka bertugas membangunkan warga untuk santap sahur, sebuah rutinitas krusial sebelum memulai ibadah puasa seharian penuh guna memastikan energi dan stamina tubuh tetap terjaga. Namun, di balik keriuhan lokal yang menghangatkan suasana ini, siapa sangka tradisi menabuh drum keliling saat sahur ternyata memiliki jejak sejarah yang jauh lebih tua? Akarnya berasal dari sebuah wilayah tak terduga, jauh di jantung peradaban Islam awal.
Al-Mesaharati: Asal-usul Tradisi Penabuh Drum Sahur dari Timur Tengah
Tradisi keliling menabuh drum untuk membangunkan umat Muslim bersantap sahur dikenal luas di dunia Islam Timur Tengah sebagai "Al-Mesaharati" atau "Mesaharaty". Ini merupakan warisan budaya kuno yang telah bertahan melintasi berabad-abad, di mana pelakunya dijuluki sebagai 'penyeru malam'. Mereka mengemban tanggung jawab penting untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melewatkan sahur, sekaligus memainkan peran vital dalam menjaga kebersamaan dan spiritualitas selama bulan suci.Para Mesaharaty ini adalah individu-individu berdedikasi tinggi. Mereka secara tradisional berkeliling lorong-lorong desa atau kota-kota, membawa alat musik sederhana, umumnya drum atau tambur. Sambil menabuh, mereka menyerukan kalimat-kalimat penyemangat yang mengingatkan penduduk akan urgensi waktu sahur. Peran mereka melampaui sekadar alarm; mereka adalah penjaga tradisi dan semangat komunal Ramadan yang telah mengakar.
Sejarah Kemunculan: Dari Kekhalifahan Abbasiyah hingga Fatimiyah
Munculnya tradisi Al-Mesaharati diyakini bermula pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yang dikenal sebagai periode keemasan peradaban Islam. Pada era tersebut, seiring dengan meluasnya wilayah Islam, kebutuhan akan cara yang sistematis untuk membangunkan umat Muslim agar bersahur menjadi sangat penting. Salah satu catatan sejarah bahkan menyebutkan bahwa praktik ini mulai dikenal sekitar abad ke-3 Hijriah, atau kira-kira abad ke-9 Masehi.Di wilayah yang kini menjadi Mesir, praktik Mesaharaty semakin mengakar kuat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Sejarawan mencatat bahwa pada tahun 238 Hijriah, para penabuh drum ini mulai rutin berjalan di jalanan Kairo, mengingatkan masyarakat tentang waktu sahur. Dr. Aisha Rahman, seorang pakar sejarah peradaban Islam dari Universitas Kairo, mengungkapkan, "Tradisi Al-Mesaharati bukan hanya tentang suara drum, melainkan representasi kuat dari solidaritas sosial dan spiritualitas komunal yang menjadi inti bulan Ramadan sejak masa awal Islam."
Pendapat lain dari beberapa sejarawan, seperti Abdelmajid Abdul Aziz, menunjuk pada masa Dinasti Fatimiyah sebagai periode kemunculan pertama Mesaharati di Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini telah melewati berbagai era kekuasaan, beradaptasi dengan zaman namun tetap kokoh menjaga esensinya sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual Ramadan. Kehadiran mereka memastikan setiap rumah tangga memiliki kesempatan untuk melaksanakan sahur dengan tenang dan penuh persiapan.
Mengenal "Mesaharaty" dan "Baza"
Secara harfiah, istilah "Mesaharaty" berarti "orang yang membangunkan di waktu sahur". Mereka adalah figur penting dalam komunitas, sangat dihormati atas dedikasi mereka yang rela berkeliling di dini hari. Dalam banyak kasus, peran ini diwariskan secara turun-temurun, dari ayah kepada anak, menjaga kelestarian tradisi tersebut dari generasi ke generasi.Selain "Mesaharaty", ada pula sebutan lain seperti "Baza" yang digunakan di beberapa daerah untuk merujuk pada individu-individu yang menabuh gendang atau drum secara berirama. Irama yang mereka ciptakan tidak sekadar fungsional untuk membangunkan, tetapi juga sering kali melodis dan membangkitkan semangat. Menurut laporan dari berbagai sumber budaya, suara tabuhan Baza cukup keras dan khas, sangat efektif membangunkan seluruh lingkungan dan menjadi penanda dimulainya waktu sahur.
Dengan pakaian tradisional yang khas dan semangat yang membara, para Mesaharaty dan Baza ini berkeliling, kadang-kadang melantunkan doa atau syair-syair pendek. Mereka tidak hanya membangunkan orang, tetapi juga menanamkan rasa kebersamaan dan kegembiraan akan datangnya bulan suci Ramadan. Kehadiran mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari memori kolektif masyarakat di berbagai belahan dunia Islam.
Gema Tabuh Drum Sahur Keliling: Menjelajahi Berbagai Penjuru Dunia
Mirip dengan pemandangan yang kita saksikan di Indonesia, tradisi Mesaharaty ini ternyata tidak hanya terbatas pada tempat asalnya. Gema tabuh drum sahur telah melintasi batas-batas geografis dan budaya, mengambil bentuk serta nuansa yang sedikit berbeda di berbagai negara, namun dengan semangat yang sama: mempersatukan umat dalam ritual sahur. Fenomena ini nyata menunjukkan universalitas semangat Ramadan yang menghubungkan komunitas Muslim di seluruh dunia.Melintasi Batas Negara: Praktik Serupa di Arab Saudi, Mesir, dan Yaman
Di berbagai negara seperti Arab Saudi, Mesir, dan Yaman, praktik Al-Mesaharati masih lestari dan dirayakan dengan penuh semangat. Para penabuh drum ini tidak hanya sekadar membuat keributan; mereka sering kali mendatangi rumah-rumah. Mereka memanggil penghuni rumah dengan nama atau gelar kehormatan, memastikan tidak ada yang terlewatkan sahur. "Mesaharaty kami bukan sekadar membunyikan drum. Mereka adalah bagian dari keluarga besar kampung ini, yang suaranya membawa kedamaian dan mengingatkan kami akan berkah Ramadan," ungkap Fatima Al-Jaber, seorang warga kota Jeddah, Arab Saudi.Beberapa Mesaharaty bahkan memukul drum dengan irama yang sangat menarik dan khas, terkadang diiringi dengan nyanyian-nyanyian yang secara khusus disusun untuk bulan Ramadan. Irama khas ini seringkali menjadi penanda yang dinanti-nanti, memberikan nuansa magis pada dini hari yang sunyi. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah praktik fungsional bisa berkembang menjadi bentuk ekspresi budaya yang kaya dan beragam.
Kisah Turun-temurun di Maroko dan Semangat di Palestina
Di Maroko, tradisi penabuh gendang atau drum di dini hari masih sangat kuat, terutama di kota-kota tua dengan jalanan sempit yang berliku. Para penabuh berkeliling di jalan-jalan kecil, menciptakan suara 'gema' yang indah dan bergema di antara rumah-rumah batu. Uniknya, di Maroko, tradisi ini seringkali diturunkan dari ayah ke anak, memastikan kelestarian praktik ini dari generasi ke generasi. Ini adalah warisan yang dijaga dengan bangga oleh masyarakat setempat.Sementara itu, di Palestina, khususnya di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, Ramadan juga diwarnai oleh riuhnya bunyi drum untuk membangunkan sahur. Para penabuh drum di sana mengenakan pakaian tradisional Palestina yang khas, lengkap dengan topi merah dan syal putih. Mereka berkeliling jalanan sambil memukul drum mereka selama sekitar 90 menit, menciptakan suasana yang meriah sekaligus sarat makna. Setelah menunaikan tugas, mereka kembali ke rumah untuk makan sahur bersama keluarga, memperkuat ikatan kekeluargaan dan komunitas.
Keunikan Tradisi di Kuwait: Iringan Lantunan Doa
Kuwait menawarkan sentuhan unik pada tradisi Mesaharati yang menarik perhatian. Di negara ini, para penabuh drum biasanya berbaris di jalanan, tidak sendirian, melainkan diiringi oleh sekelompok anak-anak yang melantunkan doa-doa Ramadan. Kombinasi suara drum yang ritmis dengan lantunan doa dari anak-anak menciptakan suasana yang sangat spiritual dan menggetarkan hati. Ini bukan hanya tentang membangunkan orang, tetapi juga tentang mengisi dini hari dengan keberkahan dan pengingat akan kebesaran Ilahi."Tradisi di Kuwait ini mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai Ramadan sejak dini, menghubungkan mereka dengan warisan leluhur melalui musik dan doa. Ini adalah cara yang indah untuk menanamkan cinta pada ibadah dan komunitas," kata Dr. Youssef Al-Hassan, seorang budayawan Kuwait. Keunikan ini menyoroti bagaimana tradisi kuno dapat beradaptasi dan berkembang, menemukan cara baru untuk tetap relevan dan bermakna di tengah masyarakat modern. Tradisi Mesaharaty, dalam berbagai bentuknya, terus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, memperkaya pengalaman Ramadan bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia.