TERBARU

Mata Israel Memandang Luka Palestina, Apa yang Terjadi?

Mata Israel Memandang Luka Palestina, Apa yang Terjadi?


Gelombang protes besar mengguncang Israel seiring dengan rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperluas operasi militernya di Jalur Gaza. Puluhan ribu warga turun ke jalan di berbagai kota akhir pekan lalu, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran publik atas arah kebijakan pemerintah.

Jeritan Keluarga Sandera: "Nyawa Mereka Terancam!"

Inti dari gelombang protes ini adalah kecemasan mendalam terhadap nasib sekitar 50 sandera Israel yang masih ditahan Hamas. Keluarga para sandera khawatir ekspansi militer yang direncanakan justru akan menempatkan orang-orang terkasih mereka dalam bahaya yang lebih besar.

"Keputusan untuk menduduki lebih banyak wilayah secara langsung mengancam nyawa para sandera," ungkap Gil Dickmann, sepupu Carmel Gat, sandera yang dieksekusi Hamas setelah pasukan Israel mulai memasuki Rafah. "Itulah yang terjadi pada Carmel. Dia disandera di Rafah. Ketika tentara memutuskan menduduki Rafah, Hamas mengeksekusinya bersama lima sandera lainnya."

Naama Shueka, sepupu Evyatar David yang baru-baru ini muncul dalam video yang dirilis Hamas, senada dengan Dickmann, menyerukan penghentian pertempuran. "Kami berteriak: Tolong hentikan pertempuran. Tolong selamatkan orang-orang yang kami cintai. Tolong jangan biarkan mereka mati kelaparan," serunya.

Opini Publik Bergeser: Mayoritas Dukung Negosiasi

Seiring berjalannya waktu dan konflik yang tak kunjung usai, dukungan publik terhadap tuntutan keluarga sandera tampaknya semakin menguat. Sebuah survei terbaru oleh Israel Democracy Institute (IDI) menunjukkan pergeseran sikap yang signifikan di kalangan masyarakat Israel.

Pada pertengahan Oktober 2023, tak lama setelah serangan 7 Oktober oleh Hamas, hanya sekitar 17% warga Israel yang mendukung negosiasi dengan tujuan membebaskan sandera, bahkan jika itu berarti menghentikan perang. Namun, menjelang peringatan satu tahun serangan tersebut, angka dukungan melonjak tajam menjadi 53%.

Lebih lanjut, survei yang dilakukan oleh media lokal Channel 12 pada pertengahan Juli tahun ini menemukan bahwa mayoritas warga Israel, mencapai 74%, mendukung pemerintah mencapai kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan seluruh sandera dan mengakhiri perang di Gaza.

Minimnya Empati untuk Gaza: Realitas yang Mengkhawatirkan

Walaupun mayoritas warga Israel menginginkan pembebasan sandera, keselamatan tentara, dan ketidaksetujuan terhadap penanganan perang oleh Netanyahu, riset lain mengungkap gambaran yang lebih kompleks. Survei menunjukkan empati terhadap warga Palestina masih minim, dan keengganan untuk bekerja sama dengan pihak yang dianggap musuh tetap kuat.

Dalam survei IDI yang dilakukan pada akhir Juli, ketika responden ditanya seberapa besar mereka terganggu oleh laporan kelaparan dan penderitaan di Gaza, lebih dari tiga perempat warga Yahudi Israel (79%) menjawab tidak terlalu terganggu atau sama sekali tidak terganggu. Sebagian besar juga percaya militer Israel telah melakukan cukup banyak upaya untuk menghindari penderitaan yang tidak perlu.

Sebaliknya, 86% warga Arab Israel mengaku sangat atau cukup terganggu oleh laporan mengenai bencana kemanusiaan di Gaza.

Survei lain mencoba menggali alasan terpenting bagi responden untuk mengakhiri perang. Lebih dari separuh menyebutkan pembebasan sandera sebagai alasan utama, sementara hanya sekitar 6% yang mengatakan perang harus diakhiri "karena besarnya korban jiwa" dan demi mencapai perdamaian.

Seorang warga Tel Aviv yang tak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa isu Gaza memang semakin banyak diperbincangkan. "Tapi fokus umum tetap pada sandera dan tentara, serta keengganan untuk terjebak dalam perang tanpa akhir," ujarnya.

Ia menambahkan, realitas yang dialami warga Gaza dan Israel sangat berbeda. "Blokade Gaza selama 17 tahun, dengan segala akibatnya bagi penduduk sebelum perang—dan hanya sejam berkendara dari Tel Aviv—juga tidak pernah benar-benar menarik perhatian orang Israel," jelasnya.

Pergeseran ke Ekstrem: Sikap Radikal Jadi Mainstream?

Sebuah studi pada Maret 2025 oleh Tamir Sorek, profesor di Pennsylvania State University, menemukan bahwa sekitar 82% warga Yahudi Israel dapat membayangkan pengusiran total warga Palestina dari Gaza.

Menurut Sorek, sikap yang dulunya dianggap marjinal dan ekstrem ini kini menjadi arus utama, berakar sejak 1930-an, menguat seiring runtuhnya prospek perdamaian pada 1990-an, meningkatnya kecemasan eksistensial, dan semakin kuatnya pengaruh politik Zionis religius di abad ke-21.

Survei Pew Research Center pada bulan yang sama juga menemukan bahwa hanya 21% warga Israel yang percaya bahwa Israel dan negara Palestina dapat hidup berdampingan secara damai, angka terendah sejak 2013. Temuan ini diperkuat oleh laporan lapangan dari berbagai media internasional seperti BBC, The New York Times, dan Sueddeutsche Zeitung.

Suara-Suara Oposisi Mulai Terdengar Lebih Keras

Penulis Israel Etgar Keret telah berbulan-bulan memprotes kebijakan pemerintah. Ia merasa senang karena semakin banyak warga yang bergabung dalam aksi protes tersebut. "Saya ingin orang yang berjuang bersama saya melakukannya demi alasan universal, liberal, dan penuh cinta kemanusiaan. Tapi meski tidak seperti itu, tujuan kami pada dasarnya sama," ujarnya.

Keret juga mencoba menjelaskan mengapa warga Israel kurang peduli pada nasib warga Palestina. "Ada orang-orang yang syok, takut, dan tidak tahu apa yang Netanyahu lakukan. Mereka hanya bergerak dari satu putaran 'spin' Netanyahu ke putaran berikutnya," jelasnya. "Jika Anda menonton berita di Israel, dari minggu ke minggu, mereka akan mengatakan hal yang berlawanan. Tidak ada yang konsisten dan sangat sedikit yang masuk akal."

Namun, sebagian pengkritik media di Israel mencatat bahwa berdasarkan laporan rating, hanya sekitar 40% warga Israel yang menonton program berita utama di televisi. Sementara itu, menurut Asosiasi Internet Israel, sebanyak 78% warga menggunakan media sosial, yang menjadi platform utama penyebaran dokumentasi dan berita mengenai perang di Gaza.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment