Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat

Pelajari cara menyiasati kenikmatan dunia seperti harta, keluarga, dan berbagai perhiasan kehidupan agar menjadi sarana meraih ridha Allah dan kebahag
Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat

Qumedia - Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat

زُيِّنَ لِنَّاسِ حُبُ الشَّهَوتِ مِنَ النِسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعْعَامِ وَالْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَابِ

Telah dihiasi (hati) manusia (dengan) kesukaan (ya'ni dijadikan manusia dengan sifat suka kepada) kepada barang-barang yang diingini (yaitu barang-barang yang biasa diingini). Yaitu perempuan-rempuan dan anak cucu dan emas dan perak yang berpikul-pikul dan kuda-kuda (kenaikan) yang bagus-bagus dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang; yang demikian itu perhiasan hidup di dunia; tetapi di sisi Allah ada tempat kembali yang baik. (QS. Ali 'Imran [3]: 14) 

Perempuan

1. Perempuan Sewaktu-waktu Bisa menjadi Pemicu Sumber Fitnah


مَاتَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ.

"Tidaklah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita." (Fat-hul Baari (IX/410) [Al Bukhari (no. 5096), Muslim (no. 2740) 

2. Niat Berkeinginan kepada Perempuan karena Berlandaskan Dorongan Agama

وَإِنَّ خَيْرَ هذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ كَانَ أَكْثَرُ هَا نِسَاءً.

"Dan sesungguhnya paling baik umat ini adalah yang paling banyak istri." (Fat-hul Baari (IX/ 15) [Al Bukhari (no. 50691)].

3. Kriteria Perempuan yang Lebih Baik dari Perhiasan Dunia

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتََاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَمَرَ هَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِه

"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. Jika suami memandangnya, maka ia (istri) menyenangkannya. Jika memerintahnya, maka ia menaatinya, dan jika suami tidak berada di sisinya, maka ia senantiasa menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya." (Muslim (II/1090) [Potongan pertama riwayat ini, yaitu الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَ الْمَرْ أَةُ  الصَّالِحَةُ  diriwayatkan oleh Muslim (no. 1467). Potongan yang lain diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1664), Ibnu Majah (no. 1857) dengan sedikit perbedaan lafazh. Namun riwayat keduanya didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam kitabnya Dhaiiful Jaami' (no. 1643), Dha'iif Sunan Ibni Manajh (no. 408)].

4. Perempuan Merupakan Salah Satu Bagian yang Disenangi Nabi

حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطَّيْبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ

 "Dijadikan aku mencintai wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mata hatiku di dalam shalat." (An-Nasa-i dalam Al-Kubraa (V/280). [ Shahih : an-Nasa-i dalam Sunan an-Nasa-i (no. 3940) Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam _Shahiihul Jaami' (no. 3124). Dari Anas رضي الله عنه  ]

5. Selain Wanita, Rasulullah SAW juga menyukai Kendaraan

Dari 'Aisyah رضي الله عنها  berkata: "Tidak ada yang lebih dicintai Rasulullah SAW setelah wanita kecuali kuda." Dalam riwayat lain disebutkan: "... selain kuda kecuali wanita." (An-Nasa-i (VI/217 dan VII/61) dari Anas. (bukan dari 'Aisyah رضي الله عنهما seperti disebutkan). [An-Nasa-i (no. 3564), (no. 3941). Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Dha'iif Targhiib WA Tarhiib (no. 803)]. Diriwayat lain yang disebut penulis ternyata tidak ada dalam riwayat an-Nasa-i]

5. Keutamaan Kriteria Perempuan yang Dinikahi; Subur dan Penyayang

 تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

"Nikahilah wanita yang penyayang dan memiliki banyak keturunan, karena aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lainnya pada hari Kiamat kelak." (Ibnu Hibban (VI/134) [ Shahih: Diriwayatkan juga oleh Ahmad (III/245), Abu Dawud (no. 2050). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam Shahiihul Jaami' (no. 2940)

Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat 2

زُيِّنَ لِنَّاسِ حُبُ الشَّهَوتِ مِنَ النِسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعْعَامِ وَالْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَابِ

Telah dihiasi (hati) manusia (dengan) kesukaan (ya'ni dijadikan manusia dengan sifat suka kepada) kepada barang-barang yang diingini (yaitu barang-barang yang biasa diingini). Yaitu perempuan-rempuan dan anak cucu dan emas dan perak yang berpikul-pikul dan kuda-kuda (kenaikan) yang bagus-bagus dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang; yang demikian itu perhiasan 

hidup di dunia; tetapi di sisi Allah ada tempat kembali yang baik. (QS. Ali 'Imran [3]: 14) 

Allah SWT dalam firman-Nya di atas mengemukakan bahwa manusia itu menyenangi harta. Hal ini tentu fitrah yang Dia karuniakan kepada manusia. Akan tetapi manusia dalam penggunaan harta yang dititipkan itu berbeda-beda. Padahal pertanggungjawaban terhadap harta begitu berat di akhirat kelak. Berikut mengenai cara menyikapi syahwat memiliki dan menggunakan harta, di antaranya:

- Harta Memiliki Banyak Harta Benda ( Qinthar ) 

  1. Kecintaan kepada harta yang tercela digunakan untuk: a) berbangga-bangga (at Takatasur/ Fakhur); b) angkuh dan sombongnya kepada orang-orang lemah; dan c) menindas orang fakir. 
  2. Kecintaan kepada harta yang mulia digunakan untuk : a) memberikan nafkah; b) mempererat silaturahim; dan c) berbuat baik dan ketaatan. 
  3. Orang mukin berada di tengah; tidak menahan yang mestinya dikeluarkan (bakhil) dan tidak terlalu dermawan kepada yang mestinya perlu menahan (tabdzir). 

Allah SWT berfirman:

وَلَاتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَاتَبْسُطْهَاكُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًامَّحْسُورًا.

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah), nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Qs. Al-Israa [17]: 29)

Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat 3

زُيِّنَ لِنَّاسِ حُبُ الشَّهَوتِ مِنَ النِسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعْعَامِ وَالْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيوةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَابِ

Telah dihiasi (hati) manusia (dengan) kesukaan (ya'ni dijadikan manusia dengan sifat suka kepada) kepada barang-barang yang diingini (yaitu barang-barang yang biasa diingini). Yaitu perempuan-rempuan dan anak cucu dan emas dan perak yang berpikul-pikul dan kuda-kuda (kenaikan) yang bagus-bagus dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang; yang demikian itu perhiasan 

hidup di dunia; tetapi di sisi Allah ada tempat kembali yang baik. (QS. Ali 'Imran [3]: 14)

Kemudian Allah berfirman terkait yang disenangi oleh manusia seperti binatang ternak, berupa unta, sapi, dan kambing. Selain binatang ternak ada pula sawah yang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Di akhir ayat Allah mengemukakan terkait kehidupan yang indah namun sebetulnya fana. Sedangkan pahala dan tempat kembali yang lebih baik adalah surga-Nya. Qumedia

Referensi:
Further Reading:
Copied 👍

Latest News

  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat
  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat
  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat
  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat
  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat
  • Menyiasati Dunia untuk Menggapai Akhirat

Post a Comment