Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)

Mengenal kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam pendidikan Islam di Pesantren Persis melalui lebih dari 120 karya yang membentuk kurikulum, tradisi intele
Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)

Qumedia - Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter, identitas, dan arah intelektual umat Islam di Indonesia. Dalam sejarah perkembangannya, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pembentukan moral serta agen perubahan sosial di tengah masyarakat.

Di tengah dinamika modernisasi dan globalisasi, pesantren dituntut untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuannya. Dari proses inilah lahir sejumlah ulama yang mampu menjembatani tradisi klasik dan kebutuhan zaman modern. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam proses tersebut adalah KH. Aceng Zakaria (1948–2022), seorang ulama Persatuan Islam (Persis) yang dikenal sebagai pendidik, penulis produktif, dan pembaru pemikiran Islam.

Selama lebih dari empat dekade, KH. Aceng Zakaria memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di lingkungan Persis. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dari aktivitas mengajar dan dakwah, tetapi juga melalui ratusan karya tulis yang hingga kini masih digunakan sebagai bahan ajar di berbagai pesantren Persis.

Lahir dari Tradisi Keilmuan Pesantren

KH. Aceng Zakaria lahir pada 11 Oktober 1948 di Kampung Sukarasa, Desa Citangtu, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Ayahnya, KH. Ahmad Kurhi, dikenal sebagai ahli tauhid dan tasawuf, sementara pamannya, Mu’allim Anshor, merupakan mubaligh Persis yang aktif menyebarkan gagasan tajdid atau pembaruan Islam.

Sejak kecil, Aceng Zakaria telah akrab dengan dunia pesantren. Ia mempelajari berbagai kitab dasar seperti Safinah, Jurumiyah, Sharaf Kailani, dan Imriti. Selain belajar kepada ayahnya, ia juga memperoleh pendidikan agama dari para ulama di lingkungan pesantren sekitar Garut.

Perjalanan intelektualnya semakin berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Persis Pajagalan Bandung pada akhir tahun 1960-an. Di sana, ia berguru kepada KH. E. Abdurrahman, salah satu tokoh penting Persis. Kemampuannya dalam membaca kitab berbahasa Arab tanpa harakat membuatnya langsung ditempatkan di tingkat Mu’allimin dan berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu sekitar 16 bulan.

Setelah lulus, ia dipercaya menjadi pengajar di Pesantren Pajagalan sebelum kemudian mengabdikan dirinya di berbagai lembaga pendidikan Persis, termasuk Pesantren Persis Bentar Garut, Pesantren Persis 99 Rancabango, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) Garut.

Selain aktif dalam pendidikan, KH. Aceng Zakaria juga berkiprah di organisasi Persatuan Islam. Ia pernah menjadi anggota Dewan Hisbah Persis sejak tahun 1990 dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum PP Persis pada periode 2015–2022.

Awal Kiprah sebagai Ulama Penulis

Tahun 1982 menjadi titik penting dalam perjalanan intelektual KH. Aceng Zakaria. Pada masa inilah ia mulai aktif menulis karya-karya keislaman secara sistematis.

Kebiasaan membaca dan menulis selama sekitar tiga jam setiap hari melahirkan produktivitas yang luar biasa. Hingga akhir hayatnya, ia telah menghasilkan tidak kurang dari 120 judul buku. Dari jumlah tersebut, 117 karya telah diterbitkan dan sisanya masih berupa naskah yang belum dipublikasikan.

Karya pertamanya yang banyak dikenal adalah Al-Hidāyah fī Masā’il Fiqhiyyah Muta‘āriḍah, sebuah kitab fiqih yang kemudian menjadi salah satu referensi penting dalam pendidikan Persis.

Melalui karya-karya tersebut, KH. Aceng tidak hanya menyampaikan ilmu agama, tetapi juga membangun tradisi berpikir yang sistematis, berbasis dalil, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ragam Karya dalam Berbagai Bidang Keilmuan

Karya-karya KH. Aceng Zakaria mencakup berbagai bidang ilmu Islam. Secara umum, karya-karyanya dapat dikelompokkan ke dalam sepuluh kategori utama:

  • Fiqih
  • Aqidah
  • Akhlak
  • Bahasa Arab
  • Dakwah
  • Hadis
  • Muamalah
  • Tafsir
  • Tamhid
  • Umum

Dari seluruh kategori tersebut, bidang fiqih menjadi tema yang paling banyak ditulis dengan jumlah sekitar 37 buku. Diikuti oleh bidang bahasa Arab sebanyak 22 buku dan aqidah sebanyak 14 buku.

Beberapa karya yang paling dikenal antara lain:

  • Al-Hidāyah fī Masā’il Fiqhiyyah Muta‘āriḍah
  • Al-Muyassar fī ‘Ilm al-Naḥwi
  • Belajar Nahwu Sistem 40 Jam
  • Ilmu al-Tauhid
  • Al-Mabādi’ fī ‘Ilm Muṣṭalaḥ al-Ḥadīṡ
  • Al-Asāsī fī ‘Ilm al-Farā’iḍ
  • Hadyu ar-Rasūl

Seluruh karya tersebut diterbitkan oleh Ibn Azka Press, penerbit yang didirikan oleh putranya, Yudi Wildan Rosid.

Dari Buku Menjadi Kurikulum Pesantren

Keistimewaan kontribusi KH. Aceng Zakaria bukan hanya terletak pada banyaknya karya yang ditulis, melainkan pada sejauh mana karya-karya tersebut digunakan dalam praktik pendidikan.

Pada dekade 1990-an, kitab Al-Hidāyah mulai digunakan secara resmi di Pesantren Persis 19 Bentar Garut. Sejak saat itu, karya-karya beliau semakin banyak diadopsi oleh pesantren-pesantren Persis sebagai bahan ajar utama.

Penggunaan kitab-kitab tersebut menunjukkan bahwa pemikiran KH. Aceng tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam sistem pendidikan.

Pesantren Persis 99 Rancabango: Pusat Implementasi Pemikiran KH. Aceng

Salah satu pesantren yang paling banyak menggunakan karya KH. Aceng Zakaria adalah Pesantren Persis 99 Rancabango Garut.

Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari 50 karya beliau digunakan secara aktif dalam kurikulum pesantren ini. Karya-karya tersebut mencakup bidang:

  • Akhlak
  • Aqidah
  • Bahasa Arab
  • Fiqih
  • Hadis
  • Tafsir
  • Muamalah
  • Tamhid

Kitab seperti Al-Hidāyah, Al-Muyassar, dan Ilmu al-Tauhid menjadi bahan ajar utama yang membentuk pola pikir ilmiah para santri.

Melalui kitab-kitab tersebut, santri diajarkan untuk:

  • Memahami dalil secara mendalam
  • Menelaah perbedaan pendapat ulama
  • Berpikir kritis dan objektif
  • Mengembangkan kemampuan analisis keagamaan

Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga pada pembentukan nalar keagamaan yang logis dan sistematis.

Digunakan Lintas Generasi di Berbagai Pesantren Persis

Pengaruh KH. Aceng Zakaria tidak hanya terbatas di Rancabango.

Di Pesantren Persis 106 Al-Falah Kopo, sejumlah karya seperti Ilmu al-Tauhid, Al-Muyassar fi ‘Ilmi al-Nahwi, Hadyu Rasul, dan Al-Mabadi fi ‘Ilmi Mushthalah al-Hadits menjadi bagian dari kurikulum resmi.

Sementara itu, di Pesantren Persis 34 Cibegol, kitab Al-Muyassar dan Hadyu Rasul terus digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab dan fiqih.

Para alumni dan pengajar menyebut bahwa karya-karya KH. Aceng membentuk identitas epistemologis pesantren Persis. Pola berpikir yang dikembangkan melalui karya-karyanya menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan tetap menggunakan pendekatan ilmiah yang kritis dan argumentatif.

Menjembatani Turats dan Tajdid

Salah satu kontribusi terbesar KH. Aceng Zakaria adalah kemampuannya menghubungkan warisan keilmuan klasik (turāṡ) dengan semangat pembaruan Islam (tajdīd).

Melalui karya-karyanya, tradisi pesantren tetap dipertahankan, namun disajikan dengan metode yang lebih sistematis, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan modern.

Pendekatan ini memungkinkan santri untuk tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam klasik, sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman secara rasional dan ilmiah.

Warisan Intelektual yang Terus Hidup

KH. Aceng Zakaria wafat pada tahun 2022 dalam usia 74 tahun. Namun, pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di lingkungan Persis tidak berhenti bersama kepergiannya.

Lebih dari 120 karya yang ia tinggalkan terus digunakan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di berbagai pesantren Persis, kitab-kitabnya masih menjadi bagian penting dari kurikulum formal maupun kajian nonformal.

Warisan tersebut menunjukkan bahwa KH. Aceng Zakaria bukan hanya seorang ulama dan penulis produktif, tetapi juga arsitek pendidikan Islam yang berhasil membangun fondasi intelektual Persis selama lebih dari empat dekade.

Penutup

Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam pendidikan Islam Persis pada periode 1982–2022 merupakan salah satu contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat memengaruhi perkembangan pendidikan melalui karya tulis, pemikiran, dan keteladanan.

Melalui lebih dari 120 karya yang mencakup berbagai disiplin ilmu Islam, ia berhasil memperkuat kurikulum, membangun tradisi intelektual, serta membentuk metodologi pembelajaran yang khas di lingkungan Persis. Karya-karyanya tidak hanya menjadi sumber belajar, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter ilmiah, kritis, dan berorientasi pada dalil.

Empat dekade pengabdian KH. Aceng Zakaria telah melahirkan warisan keilmuan yang terus hidup dalam dunia pesantren dan menjadi fondasi penting bagi perkembangan pendidikan Islam Persis hingga hari ini. Qumedia

Reference:
Further Reading:
Copied 👍

Latest News

  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)
  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)
  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)
  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)
  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)
  • Kontribusi KH. Aceng Zakaria dalam Pendidikan Islam di Pesantren Persis (1982–2022)

Post a Comment