Kebaikan dan Keburukan dalam Kehidupan Seorang Muslim

Qumedia - Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya selalu hadir berdampingan dan menjadi bagian dari ujian yang dihadapi setiap manusia. Ketika seseorang berusaha melakukan kebaikan, keburukan akan selalu berupaya menggoyahkan dan menghalangi langkahnya. Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa melakukan keburukan, sedikit demi sedikit keburukan tersebut dapat menutupi berbagai kebaikan yang pernah dilakukannya.
Bahkan, jika seseorang terus-menerus tenggelam dalam perbuatan buruk tanpa adanya keinginan untuk bertaubat, bukan tidak mungkin hal itu menjadi sebab tertutupnya pintu hidayah dari Allah SWT. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa menjaga dirinya agar tetap berada di jalan kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Hidayah dan Kehendak Allah SWT
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 125:
فَمَنْ یُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ یَّهْدِیَهٗ یَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ وَمَنْ یُّرِدْ اَنْ یُّضِلَّهٗ یَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَیِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی السَّمَآءِ ؕ كَذٰلِكَ یَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَی الَّذِیْنَ لَا یُؤْمِنُوْنَ
"Barang siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-An'am: 125)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa hidayah merupakan hak mutlak Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan hidayah kepada orang lain tanpa izin-Nya. Meskipun seseorang sangat mencintai atau menyayangi kerabatnya, tetap saja hidayah berada dalam kekuasaan Allah semata.
Namun demikian, Allah SWT tidak memberikan hidayah secara sembarangan. Hidayah berkaitan erat dengan usaha dan kesungguhan seseorang dalam mencari kebenaran. Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia. Ketika seseorang memiliki keinginan untuk kembali kepada ajaran Islam, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah, maka ia telah membuka jalan bagi datangnya hidayah.
Sebaliknya, apabila seseorang tidak memiliki niat untuk memperbaiki diri, bahkan merasa benar dengan kesalahan yang dilakukannya, maka ia akan semakin jauh dari petunjuk Allah. Apa yang dianggap baik menurut dirinya belum tentu baik menurut Allah SWT. Bisa jadi seseorang merasa telah mengikuti ajaran Rasulullah SAW, padahal yang dilakukannya justru bertentangan dengan sunnah beliau.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat terjebak dalam tipu daya setan yang terus menyesatkannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya pintu hidayah terasa semakin sulit untuk diraih.
Allah SWT berfirman:
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
Karena Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia, maka setiap niat, keinginan, dan usaha yang dilakukan seseorang tidak akan pernah luput dari pengetahuan-Nya.
Keutamaan Berbuat Kebaikan
Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya membiasakan diri untuk selalu melakukan kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang dilakukan, semakin kecil peluang bagi keburukan untuk menguasai diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 26:
لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌۗ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوْهَهُمْ قَتَرٌ وَّلَا ذِلَّةٌۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
"Bagi orang-orang yang berbuat baik (ada pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Wajah-wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula diliputi kehinaan. Mereka itulah para penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Yunus: 26)
Ayat ini memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang senantiasa berbuat baik selama hidupnya. Allah SWT tidak hanya menjanjikan pahala, tetapi juga memberikan tempat terbaik di akhirat, yaitu surga.
Lebih dari itu, Allah SWT memberikan kenikmatan yang luar biasa berupa kesempatan untuk melihat-Nya. Nikmat ini merupakan karunia yang sangat agung dan menjadi salah satu balasan bagi mereka yang istiqamah dalam ketaatan dan amal saleh selama hidup di dunia.
Besarnya Pahala Sebuah Niat Baik
Salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah besarnya pahala yang diberikan atas niat baik.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seseorang yang berniat melakukan kebaikan akan mendapatkan satu pahala meskipun belum sempat melaksanakannya. Apabila kebaikan tersebut benar-benar dilakukan, maka Allah SWT melipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih sesuai kehendak-Nya.
Sebaliknya, ketika seseorang berniat melakukan keburukan tetapi mengurungkannya karena takut kepada Allah, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna.
Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk menunda berbuat baik atau merasa ragu dalam melakukan amal saleh.
Kebaikan Sebagai Tameng dari Keburukan
Kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi benteng yang melindungi seseorang dari berbagai bentuk keburukan. Ketika hati terbiasa dengan amal saleh, maka ia akan lebih mudah menolak godaan maksiat dan berbagai tipu daya setan.
Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Yunus ayat 26, orang-orang yang berbuat baik akan dibebaskan dari kehinaan pada hari kiamat. Wajah mereka tidak diliputi kesedihan maupun debu kehinaan karena amal kebaikan yang mereka lakukan selama hidup di dunia.
Maka dari itu, marilah kita mengisi kehidupan sehari-hari dengan berbagai amal kebaikan yang diridhai Allah SWT dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin kuat pula perlindungan diri kita dari berbagai keburukan.
Penutup
Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Hidayah Allah SWT akan lebih mudah diraih oleh mereka yang memiliki keinginan untuk memperbaiki diri dan bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran. Sebaliknya, keburukan yang terus-menerus dilakukan dapat menjadi penghalang datangnya hidayah.
Karena itu, hendaknya setiap Muslim senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, menjaga niat, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Dengan demikian, kita berharap termasuk golongan penghuni surga yang mendapatkan berbagai kenikmatan abadi di dalamnya, termasuk nikmat terbesar yaitu melihat Allah SWT.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)
Wallahu a'lam bish-shawab. Qumedia
Post a Comment