Ngaji Ramadan Bareng HNW di UMJ, Begini Cara Civitas Akademika Perkuat Iman, Ilmu, dan Amal
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), belum lama ini berkesempatan menghadiri acara buka puasa bersama sekaligus memperingati Nuzulul Quran. Acara yang berlangsung khidmat di lingkungan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu menjadi panggung bagi HNW untuk menyampaikan tausiyah. Dalam pesannya, ia menekankan agar Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk mengukuhkan tiga pilar penting dalam kehidupan: iman, ilmu, dan amal. Menurut HNW, ketiga pilar ini adalah fondasi kokoh untuk mencapai keunggulan, baik bagi umat maupun kemanusiaan secara menyeluruh.
Memperkuat Iman, Ilmu, dan Amal ala Muhammadiyah
HNW tak menyembunyikan rasa syukurnya bisa kembali bersua dengan bulan suci Ramadan. Kebahagiaannya bertambah lantaran momen ini dirayakan di lingkungan kampus yang mengangkat tema "keunggulan Ramadan". Baginya, tema tersebut begitu selaras dengan identitas Muhammadiyah yang sejak lama melekat dengan ideologi Al-Ma'un.Ideologi Al-Ma'un dan Teladan KH Ahmad Dahlan
"Kalau bicara tentang iman, ilmu, amal, dan keunggulan, maka salah satu kata kuncinya adalah ideologi Al-Ma'un yang sudah populer dan mentradisi di Muhammadiyah," tutur HNW saat memberikan tausiyahnya. Pernyataan itu ia sampaikan pada Kamis, 5 Maret lalu, di Masjid At-Taqwa, kompleks UMJ, Tangerang Selatan, Banten. HNW memaparkan, ideologi tersebut merupakan cerminan nyata bagaimana Al-Quran tidak hanya berhenti di tataran teks, melainkan mampu dihadirkan dan membumi dalam setiap tindakan keseharian.Tradisi luhur ini, imbuh HNW, telah diteladankan secara gamblang oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Sosok ulama kharismatik itu membuktikan implementasi nilai-nilai Al-Quran dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, hingga melahirkan dampak positif yang berkesinambungan. HNW menekankan, tradisi ini wajib diteruskan sebab terbukti ampuh menciptakan keunggulan umat melalui perpaduan iman, ilmu, dan amal yang harmonis.
Kepedulian Global Muhammadiyah: Kasus Palestina
Tak hanya itu, HNW juga menyentuh aspek konkret perpaduan iman, ilmu, dan amal yang diperagakan Muhammadiyah. Hal ini terlihat dari kepedulian organisasi tersebut terhadap perjuangan Palestina, termasuk pembelaan atas Masjid Al-Aqsa. Sejarah mencatat, seorang tokoh muda Muhammadiyah bernama Abdul Kahar Muzakir, sejak tahun 1931, telah aktif terlibat dalam perjuangan Palestina. Bahkan, pada usianya yang baru menginjak 24 tahun, ia telah dipercaya mengemban amanah sebagai sekretaris Mufti Palestina, Mufti al-Quds al-Sayyid al-Amin al-Husayni."Ini menunjukkan bahwa perpaduan iman, ilmu, dan amal hadirkan kepedulian terhadap Palestina memang sudah mentradisi dan menjadi bagian dari sejarah gerakan Muhammadiyah," tegas HNW. Bagi politikus senior ini, semangat tersebut harus terus dilestarikan sebagai wujud pengamalan "Islam berkemajuan" sekaligus bentuk solidaritas nyata terhadap umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Ramadan Pembawa Optimisme di Tengah Tantangan Global
Di mata HNW, Ramadan juga berfungsi sebagai momentum krusial untuk membangkitkan optimisme. Ini sangat penting di tengah berbagai tantangan global yang seringkali memicu pesimisme. Ia mengambil contoh dari sejarah Perang Badar di masa Nabi Muhammad SAW, di mana pasukan Muslim yang jauh lebih sedikit mampu meraih kemenangan yang gemilang. Peristiwa bersejarah itu, menurutnya, menjadi pelajaran berharga agar umat tidak mudah terjerumus dalam lingkaran pesimisme."Ramadan menghadirkan intervensi sejarah yang menunjukkan bahwa sesuatu yang tampaknya mustahil bisa terjadi. Dari situ kita belajar untuk tidak terjebak dalam pesimisme, tapi optimisme. Begitulah ketika sekaligus diamalkan iman, ilmu dan amal," papar HNW. Ia menambahkan, Al-Quran pun berulang kali menyiratkan pesan optimisme melalui ayat-ayat tentang puasa Ramadan dalam Surah Al-Baqarah. Puasa, menurut HNW, bukan sekadar berorientasi pada hasil akhir, melainkan juga pada optimisme dalam proses pembentukan karakter yang terus-menerus.