Pesan Penting MUI untuk Masjid, Jangan Lupa Doakan Kemerdekaan Palestina di Ramadan Ini
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Ketua Umumnya, Anwar Iskandar, menyerukan kepada seluruh imam masjid di Tanah Air untuk memanjatkan doa bagi keselamatan warga Gaza dan kemerdekaan Palestina selama bulan suci Ramadan. Seruan ini tak lain merupakan pengingat pentingnya solidaritas umat Islam di tengah kondisi yang memprihatinkan, sekaligus mengajak untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum emas untuk bermunajat.
MUI Serukan Doa Serentak untuk Kemerdekaan Palestina
Ajakan yang menggugah hati ini disampaikan Anwar Iskandar tak lama setelah Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan awal bulan puasa ini sendiri merupakan hasil sidang isbat yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Selasa (17/2/2026). Momentum suci ini menjadi pijakan bagi MUI untuk memperkuat semangat kebersamaan dalam untaian doa."Kami berharap dengan sungguh-sungguh kepada seluruh imam-imam masjid di seluruh Indonesia, kalau bisa, kalau bisa kita kuatkan untuk berdoa bagi keselamatan umat Islam dan bangsa Palestina. Terutama masyarakat Palestina yang ada di Gaza," ujar Anwar Iskandar dalam jumpa pers yang digelar seusai sidang isbat. Pesan ini dengan tegas menggarisbawahi urgensi dan skala gerakan doa yang diharapkan oleh lembaga ulama tertinggi di Indonesia tersebut.
Anwar Iskandar juga menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan haruslah serentak, bertujuan menciptakan gelombang spiritual yang kuat dari seluruh penjuru negeri. Ia berharap doa tersebut akan menjadi manifestasi nyata solidaritas global terhadap penderitaan mendalam yang terus dialami oleh masyarakat Gaza.
Anjuran Qunut Nazilah dan Kolaborasi Ormas Islam
Dalam seruannya, Ketua Umum MUI secara spesifik menganjurkan penggunaan Qunut Nazilah. Qunut Nazilah sendiri merupakan doa yang biasa dibaca saat umat Muslim menghadapi musibah besar atau cobaan berat, seperti bencana alam atau penindasan. Penggunaan doa ini dinilai sangat relevan dengan kondisi warga Gaza yang tengah membutuhkan pertolongan dan perlindungan Ilahi.Lebih jauh, Anwar Iskandar juga mengharapkan keterlibatan aktif dari berbagai organisasi masyarakat Islam di Indonesia untuk turut menyukseskan gerakan doa ini. Organisasi-organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al Irsyad, Al Washliyah, hingga Al Wahdah, diharapkan dapat menyerukan ajakan serupa kepada seluruh jaringan masjid dan anggotanya.
"Bisa melalui DMI atau melalui ormas-ormas: NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Al Washliyah dan lain-lain, Al Wahdah, untuk menyerukan kepada seluruh imam-imam di dalam Ramadan yang saat bagus mustajab ini memohon kepada Allah untuk kemerdekaan, merdeka, kemerdekaan bagi warga Palestina dan menolong kepada teman-teman yang ada di Gaza," jelas Anwar. Dorongan ini menunjukkan upaya konsolidasi kekuatan umat melalui jalur keagamaan.
Ramadan: Bulan Penuh Berkah untuk Doa yang Mustajab
MUI secara sadar memilih bulan Ramadan sebagai momentum utama untuk melancarkan seruan doa ini. Ramadan memang dikenal sebagai bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan doa-doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, periode ini dianggap paling mustajab untuk memohon pertolongan Ilahi.Selama Ramadan, umat Islam di seluruh dunia meningkatkan intensitas ibadahnya, termasuk salat, tadarus Al-Qur'an, dan zikir. Kondisi spiritual yang demikian menciptakan atmosfer yang sangat kondusif untuk memanjatkan doa kolektif. Kekhusyukan beribadah dan harapan akan pahala yang berlimpah menjadi landasan kuat bagi setiap Muslim untuk turut serta dalam gerakan doa ini.
Melalui doa Qunut Nazilah yang dipanjatkan di setiap masjid, diharapkan terwujud sebuah energi spiritual kolektif yang mampu mengetuk pintu langit. Seruan ini bukan hanya sekadar ajakan, melainkan juga pengingat akan tanggung jawab moral umat Islam untuk saling membantu dan mendukung dalam menghadapi kesulitan, terutama bagi mereka yang tertindas.
Pesan Persatuan Umat di Tengah Perbedaan Amaliah
Di tengah seruan penting mengenai doa untuk Palestina, Anwar Iskandar juga tak lupa menyampaikan pesan persatuan umat. Ia mengakui bahwa perbedaan dalam penetapan awal Ramadan, maupun perbedaan dalam amaliah ubudiyah lainnya, adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia."Bahkan di Indonesia ini ada lebih dari 80 ormas-ormas Islam di Indonesia. Yang perbedaan-perbedaan organisasi ini memungkinkan adanya amaliah ubudiyah yang berbeda-beda," ungkapnya. Kendati demikian, Anwar menegaskan bahwa perbedaan tersebut umumnya bersifat ijtihadi atau teknis, bukan pada aspek qath'i atau prinsipil yang fundamental dalam akidah Islam.
Oleh karena itu, Ketua Umum MUI mengimbau agar perbedaan pandangan atau praktik ibadah tidak dijadikan sebagai sumber perpecahan. Ia menekankan pentingnya saling memahami dan saling menghormati sebagai bagian dari bangsa yang demokratis dan majemuk. Persatuan umat, menurutnya, adalah nilai yang harus senantiasa dijaga di atas segala perbedaan.
"Yang paling penting itu, keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati," pungkas Anwar Iskandar. Pesan ini memperkuat fondasi kebersamaan, memastikan bahwa solidaritas untuk Palestina tetap menjadi tujuan utama, tanpa terpecah oleh dinamika internal yang bersifat non-prinsipil. Upaya kolektif mendoakan kemerdekaan Palestina selama Ramadan diharapkan mampu mengukuhkan ikatan persaudaraan umat, baik di tingkat lokal maupun global.