Sulis, pelantun lagu religi yang namanya tak asing di telinga masyarakat Indonesia, kini kembali menyapa penggemar setelah cukup lama absen dari panggung musik. Kepulangannya kali ini bukan sekadar mengobati kerinduan, melainkan membawa dua karya monumental yang didedikasikan sepenuhnya untuk perjuangan rakyat Palestina, sekaligus menjadi penanda datangnya bulan suci Ramadan. Ini adalah respons Sulis terhadap penantian para pendengar setianya, namun dengan misi yang jauh lebih mulia dari sekadar hiburan.
Kembali ke Panggung Musik dengan Misi Baru
Dua Single Terbaru: "Suara Sukma Palestina" dan "Sholawat Cinta"
Sulis menandai kembalinya ke belantika musik dengan merilis dua single sekaligus. Karya-karya tersebut berjudul "Suara Sukma Palestina (Sholawat Cinta untuk Gaza)" dan "Sholawat Cinta (Satukan Hati)". Kedua lagu ini bukan hanya sekadar alunan melodi, melainkan sebuah pernyataan tegas. "Suara Sukma Palestina adalah simbol perjuangan, simbol kekuatan, simbol perlawanan terhadap penjajahan, dan simbol keimanan," ujar Sulis dalam keterangan pers, Minggu (15/2/2026). Single tersebut secara eksplisit menyuarakan kepedulian mendalam terhadap situasi yang melanda Gaza dan seluruh wilayah Palestina, sementara "Sholawat Cinta" membawa pesan persatuan dan kasih sayang universal.
Misi Kemanusiaan: Suarakan Kepedulian untuk Palestina
Setelah beberapa tahun lamanya absen dari gemuruh industri musik, Sulis kini hadir dengan membawa misi yang jauh lebih besar. Keputusannya untuk kembali bernaung di bawah sorotan publik dilandasi oleh dorongan kuat untuk menyuarakan empati. "Jadi setelah vakum beberapa tahun, hari ini saya datang kembali dengan kembali menyuarakan kecintaan dan kepedulian saya terhadap saudara-saudara saya di Palestina," tutur Sulis dengan nada mantap. Lebih dari sekadar peluncuran karya, ini adalah sebuah panggilan kemanusiaan yang ia wujudkan melalui untaian nada dan lirik. Ia ingin menjadikan musiknya sebagai jembatan solidaritas bagi mereka yang tertindas.
Inspirasi dan Pesan di Balik Karya
Keteguhan Hati Anak-Anak Palestina yang Menyentuh
Di balik proses produksi dua lagu yang penuh makna ini, Sulis mengaku sangat tersentuh oleh keteguhan hati penduduk Palestina. Secara khusus, ia menyoroti kekuatan mental dan spiritual anak-anak di sana. "Bagaimana kita bisa melihat anak-anak kecil di sana kalau berkata itu seperti orang bersabda gitu," kenang Sulis. Ia melanjutkan, "Kalimat-kalimat itu kalimat-kalimat yang penuh dengan langkah." Pengamatan ini menggambarkan kedewasaan dan kebijaksanaan yang melampaui usia mereka, sebuah realitas pahit yang menjadi sumber inspirasi mendalam bagi lirik dan melodi yang ia bawakan.
Lagu sebagai Manifestasi Doa dan Harapan Kemerdekaan
Bagi Sulis, kedua lagu terbarunya ini adalah manifestasi dari doa yang dilantunkan melalui medium musik. Ia percaya bahwa kekuatan melodi dan lirik dapat menjadi sarana untuk menyampaikan harapan dan aspirasi. "Doa saya satu, mereka mendapatkan haknya, mereka mendapatkan tanahnya sendiri, rumahnya sendiri, mereka berhasil mengusir penjajah, dan mereka cepat merdeka seperti hari ini kita rasakan di negeri kita," ucap Sulis penuh harap. Harapan akan kemerdekaan dan keadilan menjadi inti pesan yang ingin ia sampaikan kepada dunia, sebuah cita-cita universal yang digaungkan melalui suaranya.
Kisah Kejutan di Balik Produksi Lagu
Hadiah Rahasia dari Sang Suami
Sebuah fakta menarik terungkap di balik perilisan lagu-lagu ini. Sulis mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa ia akan merilis lagu bertema Palestina secepat ini. Ternyata, proyek ini merupakan hadiah rahasia dari sang suami, Muhammad Nur Ohoitenan alias Junaedi. "Sebenernya saya tuh dikasih kejutan sama suami saya, tiba-tiba saya ditelepon oleh Mas Anwar Fauzi, 'Please ambil nada'. Lagu apa? Pokoknya ambil nada aja dulu," ungkap Sulis menceritakan momen tak terduga itu. Ia menjelaskan bahwa suaminya diam-diam bekerja sama dengan Mas Anwar Fauzi untuk proses penciptaan dua lagu tersebut, menjadikannya sebuah kejutan yang berkesan.
Proses Penciptaan Lirik yang Penuh Emosi
Yang lebih mengejutkan lagi, lirik lagu "Suara Sukma Palestina" lahir hanya dalam hitungan menit. Suami Sulis, Muhammad Nur Ohoitenan, menulis bait demi bait berdasarkan tumpukan emosi yang ia rasakan setelah setiap hari menyaksikan penderitaan di Palestina melalui berbagai media sosial. Setiap kata yang tertuang mencerminkan kepedihan dan harapan yang mendalam. Proses kreatif yang intens dan spontan ini menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya indah secara musikal, tetapi juga sarat akan pesan kemanusiaan yang kuat dan otentik.
Komitmen Tak Berhenti untuk Keadilan Palestina
Sulis menegaskan, komitmennya melalui nada tidak akan pernah padam selama keadilan belum tegak di Palestina. Baginya, ini bukan sekadar proyek musikal sesaat, melainkan sebuah perjuangan jangka panjang. "Jadi saya tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah bungkam untuk terus mengungkap cinta saya dan menyuarakan kebersamaan saya sampai layak Palestina," tutup Sulis dengan nada tegas dan penuh keyakinan. Melalui karya-karyanya, Sulis berharap dapat terus menjadi bagian dari gerakan global yang menyuarakan hak-hak rakyat Palestina, sekaligus mengisi momen Ramadan dengan semangat solidaritas dan kepedulian yang mendalam.