Pernyataan Dubes AS Soal Hak Israel di Timur Tengah Panen Kecaman Publik
Pernyataan kontroversial Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, yang mengklaim hak Israel atas sebagian besar wilayah Timur Tengah, sontak memicu gelombang kecaman keras dari berbagai negara Arab, Muslim, serta organisasi internasional. Ucapan Huckabee, yang dilontarkannya dalam sebuah wawancara belum lama ini, dinilai sebagai retorika ekstremis yang melanggar hukum internasional dan berpotensi memperkeruh suasana di kawasan yang sudah tegang. Insiden ini dengan cepat menarik perhatian global, menyoroti kompleksitas isu Israel-Palestina dan peran AS dalam konflik tersebut.
Latar Belakang Pernyataan Kontroversial Duta Besar AS
Pemicu gejolak ini bermula dari sebuah wawancara yang melibatkan Mike Huckabee, seorang tokoh evangelis terkemuka dan Duta Besar AS untuk Israel. Wawancara tersebut ditayangkan secara luas dan menarik perhatian publik, memicu diskusi panas di berbagai platform media.
Wawancara dengan Tucker Carlson
Gejolak diplomatik ini berawal dari wawancara Mike Huckabee dengan komentator konservatif Tucker Carlson. Seperti dilansir AP News pada Minggu (22/2/2026), pernyataan kontroversial Huckabee disampaikan dalam wawancara yang ditayangkan pada Jumat (10/5) lalu. Dalam sesi tersebut, Carlson mengawali pertanyaan dengan interpretasi kitab suci, menyebutkan bahwa keturunan Abraham akan menerima tanah yang secara luas mencakup seluruh Timur Tengah saat ini. Ia kemudian secara lugas bertanya kepada Huckabee apakah Israel memiliki hak atas wilayah tersebut. Penayangan wawancara ini, dengan cepat menjadi sorotan tajam, terutama di kalangan diplomat dan pengamat politik Timur Tengah.Isi Pernyataan Mike Huckabee
Menanggapi pertanyaan Carlson, Huckabee secara eksplisit menyatakan, "tidak masalah jika mereka mengambil semuanya." Pernyataan inilah yang sontak memicu gelombang kontroversi. Meski demikian, ia menambahkan bahwa Israel saat ini tidak sedang berupaya memperluas wilayahnya dan hanya mengklaim hak atas keamanan di wilayah yang secara sah dikuasainya. Namun, bantahan tersebut tidak mampu mengurangi dampak dari pernyataan awalnya yang dinilai provokatif. Ungkapan "mengambil semuanya" inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai bentuk legitimasi atas pendudukan wilayah yang oleh banyak negara dianggap milik Palestina atau negara Arab lainnya.Gelombang Kecaman dari Negara-negara Arab dan Organisasi Internasional
Seketika setelah pernyataan Huckabee tersebar, gelombang kecaman tak terbendung datang dari berbagai penjuru dunia Arab dan organisasi-organisasi internasional. Pernyataan tersebut dianggap mencederai upaya perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Reaksi Keras dari Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menjadi salah satu pihak pertama yang mengeluarkan kecaman keras. Melalui pernyataan resminya, Saudi menyebut ucapan Huckabee sebagai "retorika ekstremis" dan "tidak dapat diterima." Riyadh juga secara tegas meminta Kementerian Luar Negeri AS untuk segera mengklarifikasi posisi resminya terkait pernyataan Duta Besar mereka, menekankan pentingnya menjaga prinsip-prinsip hukum internasional. Reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu wilayah dan kedaulatan di Timur Tengah bagi negara-negara Arab.Kecaman dari Mesir
Tak ketinggalan, Kementerian Luar Negeri Mesir juga menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka menyebut pernyataan Huckabee sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap hukum internasional dan resolusi PBB. Kairo juga secara lugas menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas wilayah Palestina yang diduduki atau wilayah Arab lainnya. Pernyataan Mesir ini menggarisbawahi komitmen mereka terhadap solusi dua negara dan penolakan terhadap ekspansi Israel.Peringatan dari Liga Negara-negara Arab
Liga Negara-negara Arab, sebuah organisasi regional yang beranggotakan negara-negara Arab di Timur Tengah dan Afrika, turut menyampaikan peringatan keras. "Pernyataan semacam ini, ekstremis dan tanpa dasar yang kuat, hanya akan memanaskan suasana serta membangkitkan sentimen keagamaan dan nasional," demikian bunyi pernyataan mereka. Peringatan ini menyoroti potensi bahaya eskalasi konflik yang bisa dipicu oleh retorika yang tidak bertanggung jawab, terutama di wilayah yang memiliki sejarah panjang ketegangan agama dan politik.Respons dari Negara dan Organisasi Lainnya
Gelombang kecaman juga datang dari Yordania, Kuwait, dan Oman, yang masing-masing menyampaikan keberatan serupa. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang mewakili 57 negara Muslim di seluruh dunia, juga menyuarakan kecaman. Mereka semua sepakat bahwa pernyataan Huckabee merusak prospek perdamaian dan menciptakan ketidakstabilan regional. Respons kolektif ini menunjukkan konsensus luas di dunia Arab dan Muslim terkait penolakan klaim unilateral Israel atas wilayah yang disengketakan.Konteks Geopolitik dan Kebijakan di Wilayah Konflik
Pernyataan Mike Huckabee tidak dapat dilepaskan dari konteks geopolitik yang kompleks dan kebijakan yang sedang berlangsung di wilayah konflik Israel-Palestina. Hal ini memberikan bobot tersendiri terhadap reaksi yang ditimbulkan.
Upaya Israel Memperdalam Kontrol di Tepi Barat
Dalam beberapa bulan terakhir, Israel memang telah meningkatkan upaya untuk memperdalam kontrolnya atas Tepi Barat yang diduduki. Berbagai langkah telah diambil, termasuk memperluas pembangunan permukiman Yahudi, melegalkan pos-pos permukiman ilegal, serta membuat perubahan birokrasi signifikan dalam kebijakannya di wilayah tersebut. Tindakan-tindakan ini seringkali dikecam oleh komunitas internasional sebagai pelanggaran hukum internasional dan hambatan bagi solusi dua negara. Oleh karena itu, pernyataan Huckabee seolah memberikan justifikasi bagi tindakan-tindakan tersebut, memicu kemarahan dari pihak-pihak yang menentangnya.Sikap Presiden AS Donald Trump Mengenai Tepi Barat
Menariknya, meskipun pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump dikenal sangat pro-Israel, terdapat nuansa dalam kebijakan terkait Tepi Barat. Presiden Trump sebelumnya pernah menyatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat dan akan menghalangi langkah tersebut. Sikap ini, meski seringkali diinterpretasikan secara berbeda oleh berbagai pihak, menunjukkan adanya batasan tertentu yang ditetapkan oleh Washington terhadap ambisi ekspansionis Israel. Kontradiksi antara pernyataan Huckabee dan sikap Trump ini menambah kerumitan dalam memahami kebijakan AS di wilayah tersebut.Tuntutan Palestina dan Dukungan Komunitas Internasional
Selama puluhan tahun, Palestina telah secara konsisten menyerukan pembentukan negara merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Tuntutan ini didukung oleh sebagian besar komunitas internasional, termasuk PBB, yang berulang kali menyerukan solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi. Pernyataan Duta Besar AS, yang seolah-olah mengabaikan tuntutan fundamental Palestina dan hukum internasional, secara langsung bertentangan dengan konsensus global dan memperburuk perasaan tidak adil di pihak Palestina.Profil dan Pandangan Mike Huckabee
Pemahaman mengenai latar belakang dan pandangan Mike Huckabee menjadi kunci untuk menganalisis mengapa pernyataannya begitu kontroversial dan berdampak. Posisi diplomatiknya sebagai Duta Besar AS menambah bobot pada setiap ucapannya.
Latar Belakang Keagamaan dan Dukungan terhadap Israel
Mike Huckabee dikenal luas sebagai seorang Kristen evangelis yang taat. Komunitas Kristen evangelis di AS memiliki basis dukungan yang sangat kuat terhadap Israel, seringkali didasarkan pada interpretasi Alkitab mengenai nubuat dan janji ilahi terhadap bangsa Israel. Huckabee sendiri merupakan pendukung setia Israel serta gerakan permukiman di Tepi Barat. Keyakinan agama yang mendalam ini membentuk pandangannya tentang hak historis Israel atas tanah tersebut, yang tercermin dalam pernyataannya. Dukungan ini juga sejalan dengan kebijakan luar negeri AS yang seringkali memihak Israel.Penolakan Solusi Dua Negara
Lebih lanjut, Huckabee telah lama menolak gagasan solusi dua negara, yang diyakini oleh banyak pihak sebagai jalan paling realistis untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Dalam sebuah wawancara pada tahun sebelumnya, ia bahkan secara eksplisit mengatakan tidak percaya pada penyebutan keturunan Arab dari penduduk Palestina era mandat Inggris sebagai "Palestina". Penolakan terhadap identitas "Palestina" dan solusi dua negara ini menunjukkan pandangan ekstremis yang dipegangnya, yang secara fundamental bertentangan dengan upaya diplomatik internasional. Pandangannya ini secara efektif mengabaikan hak-hak dan aspirasi rakyat Palestina.Hingga saat artikel ini ditulis, belum ada komentar langsung yang dirilis oleh pemerintah Israel maupun Amerika Serikat sebagai respons terhadap gelombang kecaman atas pernyataan Huckabee. Situasi ini menunjukkan potensi kerenggangan diplomatik yang lebih besar dan menggarisbawahi tantangan berkelanjutan dalam mencari solusi damai bagi konflik di Timur Tengah. Dunia menanti klarifikasi dari Washington, mengingat pernyataan seorang duta besar dapat mencerminkan kebijakan resmi suatu negara.