TERBARU

Mencekam! Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan 12 Orang

Mencekam! Serangan Israel ke Lebanon Tewaskan 12 Orang


Serangkaian serangan udara Israel di wilayah Lebanon pada Jumat, 20 Februari 2026, telah merenggut nyawa sedikitnya 12 orang dalam satu hari. Israel mengklaim operasi ini menargetkan kelompok militan Hizbullah dan Hamas di bagian timur serta selatan Lebanon. Insiden mematikan ini sontak memicu kekhawatiran baru akan potensi eskalasi konflik di kawasan yang memang sudah rentan. Militer Israel menegaskan tujuan operasi mereka adalah mengganggu aktivitas kelompok bersenjata yang beroperasi dari Lebanon, namun pernyataan ini segera dibantah dan dikecam keras oleh pihak Hamas.

Dampak Mematikan Serangan Israel di Lebanon

Rentetan serangan udara yang dilancarkan Israel sepanjang Jumat, dari pagi hingga sore hari, tidak hanya menghantam sejumlah titik strategis, tetapi juga menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa di berbagai lokasi. Lembah Bekaa, yang terletak di timur Lebanon, dilaporkan menjadi salah satu area yang paling parah merasakan dampaknya. Sumber-sumber setempat mencatat bahwa setidaknya sepuluh orang dilaporkan tewas akibat serangkaian serangan di wilayah tersebut.

Korban Jiwa di Lembah Bekaa dan Wilayah Selatan

Di Lembah Bekaa, salah satu korban tewas yang telah dikonfirmasi adalah seorang komandan senior dari Hizbullah, kelompok yang didukung Iran. Klaim ini disampaikan langsung oleh Hizbullah. Selain Lembah Bekaa, serangan Israel juga menargetkan area lain di selatan Lebanon, termasuk sebuah kamp pengungsi Palestina. Secara terpisah, sebuah serangan di kamp pengungsi Palestina terbesar, Ain al-Helweh, dilaporkan menewaskan dua orang. Dengan demikian, total korban jiwa mencapai dua belas orang hanya dalam kurun waktu 24 jam. Peristiwa ini semakin memperpanjang daftar kekerasan yang tak kunjung usai di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.

Data Korban dari Kementerian Kesehatan Lebanon

Kementerian Kesehatan Lebanon telah merilis data terkini mengenai jumlah korban akibat gempuran tersebut. Dalam pernyataan resminya, kementerian menyebutkan, "Serangan musuh Israel di beberapa lokasi di Lembah Bekaa menewaskan 10 orang dan melukai 24 orang." Pernyataan itu turut menggarisbawahi bahwa tiga anak-anak termasuk di antara korban yang terluka parah dalam serangan pada Jumat waktu setempat. Sebelum data ini dirilis, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) sempat melaporkan enam orang tewas dan 25 lainnya terluka menyusul "serangan berat" yang terjadi di wilayah serupa, yang menggambarkan skala kerusakan dan dampak luasnya terhadap warga sipil.

Klaim Israel Menargetkan Kelompok Militan

Militer Israel terus-menerus menegaskan bahwa operasi yang mereka lakukan di Lebanon adalah tindakan defensif. Mereka mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan infrastruktur dan anggota kelompok militan. Dalam serangan terbaru ini, Hizbullah dan Hamas menjadi dua kelompok utama yang menjadi sasaran. Pihak Israel bersikeras bahwa tindakan ini sangat penting demi menjaga keamanan di perbatasan utara mereka.

Serangan Terhadap Pusat Komando Hizbullah

Melalui pernyataan resminya, militer Israel mengklaim telah menyerang "pusat komando Hizbullah" di Lembah Bekaa. Menurut juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), fasilitas ini digunakan untuk merencanakan dan mengoordinasikan berbagai aktivitas teror yang mengancam keamanan Israel. Israel menyebut, serangan presisi tersebut bertujuan melumpuhkan kemampuan operasional kelompok bersenjata itu serta mencegah serangan lintas batas lebih lanjut. Tindakan ini disebut sebagai bagian dari strategi Israel untuk menekan Hizbullah, yang memang memiliki pengaruh besar di Lebanon.

Operasi di Kamp Pengungsi Palestina Ain al-Helweh

Tak lama setelah gempuran di Lembah Bekaa, militer Israel juga melancarkan serangan di Ain al-Helweh, kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon. Dalam pernyataannya, IDF mengklaim pasukan mereka "menyerang pusat komando Hamas tempat para militan beroperasi" di area tersebut. Israel menekankan komitmennya untuk "terus bertindak tegas terhadap Hamas di mana pun mereka beroperasi," termasuk di Lebanon, dengan tujuan mencegah konsolidasi kekuatan dan perencanaan serangan dari luar Jalur Gaza. Operasi ini mengindikasikan perluasan jangkauan tindakan Israel terhadap Hamas hingga ke luar wilayah Palestina.

Bantahan dan Kecaman dari Hamas

Sebagai respons atas klaim Israel, Hamas segera mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras serangan tersebut. Kelompok itu dengan tegas menolak tuduhan Israel, menyatakan bahwa bangunan yang menjadi sasaran di kamp Ain al-Helweh "milik pasukan keamanan gabungan yang bertugas menjaga keamanan dan stabilitas di kamp itu," bukan pusat komando militan Hamas. Hamas juga menegaskan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa "sipil," klaim yang menambah kontroversi terhadap insiden ini dan menyoroti risiko yang dihadapi warga sipil dalam konflik berkepanjangan tersebut.

Konflik Berkelanjutan di Tengah Gencatan Senjata

Gempuran terbaru ini semakin menegaskan betapa rapuhnya situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon, apalagi mengingat adanya perjanjian gencatan senjata yang seharusnya berfungsi meredakan ketegangan. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah disepakati pada November 2024, sebuah kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri konflik yang berlangsung lebih dari setahun antara Israel dan Hizbullah. Sayangnya, gencatan senjata tersebut tampaknya belum sepenuhnya mampu menghentikan eskalasi kekerasan.

Serangan Regulasi Israel di Lebanon

Meskipun sudah ada perjanjian gencatan senjata, militer Israel tetap secara rutin melancarkan serangan ke wilayah Lebanon. Israel mengklaim bahwa serangan-serangan ini secara khusus menargetkan Hizbullah, namun terkadang ada juga laporan yang menyebutkan militan Hamas turut menjadi sasaran. Pola serangan yang terus berlanjut ini menyoroti tantangan besar dalam menegakkan perdamaian di kawasan yang rumit, di mana berbagai kelompok bersenjata beroperasi dengan kepentingan yang seringkali bertolak belakang. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang berkepanjangan bagi penduduk sipil di kedua sisi perbatasan.

Tujuan dan Klaim Israel dalam Konflik

Tujuan utama Israel dalam melancarkan operasi militer di Lebanon adalah untuk melindungi warganya dari ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok militan. Mereka bersikukuh bahwa setiap serangan merupakan respons terhadap aktivitas teroris atau upaya untuk menggagalkan rencana serangan di masa depan. Namun, pandangan ini seringkali berbenturan dengan narasi dari pihak Lebanon dan kelompok bersenjata, yang justru menganggap tindakan Israel sebagai bentuk agresi. Dengan klaim yang saling bertolak belakang dan absennya jalur dialog yang efektif, prospek stabilitas jangka panjang di perbatasan Israel-Lebanon tetap menjadi tantangan besar. Situasi ini berpotensi memicu spiral kekerasan yang lebih luas di masa mendatang.
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment