Kisah Pilu dari Palestina, Saat Satu Keluarga Lenyap Dihantam Senjata Termal Israel
0 minutes read
Jalur Gaza, Palestina, tak henti dihantam kisah-kisah memilukan sejak perang meletus pada Oktober 2023. Konflik berkepanjangan ini telah melahirkan tragedi yang sulit dibayangkan, salah satunya diungkap dalam laporan investigasi khusus Al Jazeera. Ribuan warga Palestina dilaporkan "lenyap" tanpa jejak, diduga kuat karena hantaman senjata bersuhu ekstrem yang berpotensi membuat tubuh manusia menguap. Fenomena mengerikan ini menenggelamkan ribuan keluarga dalam keputusasaan, lantaran mereka tak lagi mampu menemukan sisa-sisa orang yang dicintai, menambah deret panjang daftar kejahatan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Laporan Investigasi: Ribuan Warga Gaza 'Lenyap Tanpa Jejak'
Konflik di Jalur Gaza kini memasuki babak yang kian memilukan, terutama setelah terkuaknya fenomena ribuan penduduk yang dilaporkan menghilang tanpa jejak. Sebuah laporan investigasi mendalam dari media internasional terkemuka, yang dipublikasikan pada Senin, 9 Februari lalu, mengungkap bahwa setidaknya 2.842 warga sipil dikategorikan sebagai korban "menguap" atau 'evaporated'. Angka ini bukanlah perkiraan, melainkan hasil dokumentasi lapangan yang teliti oleh tim pertahanan sipil di Jalur Gaza sejak awal konflik pada Oktober 2023. Temuan ini mengindikasikan dampak yang jauh lebih destruktif dari yang diperkirakan sebelumnya, menunjukkan tingkat kehancuran yang bahkan melebihi kemampuan identifikasi jenazah secara konvensional.Metode Investigasi: Menemukan Korban 'Menguap'
Guna mengidentifikasi para korban yang "menguap", tim pertahanan sipil Gaza menerapkan "metode eliminasi" yang cermat di setiap lokasi serangan. Prosedur ini mengharuskan mereka membandingkan jumlah penghuni yang diketahui berada di dalam sebuah bangunan sebelum serangan, dengan jumlah jenazah utuh yang berhasil ditemukan setelah insiden. "Jika sebuah keluarga melaporkan ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga mayat utuh, dua sisanya kami anggap 'menguap'," terang Mahmoud Bassal, juru bicara otoritas pertahanan sipil Gaza. Bassal menjelaskan lebih lanjut, klasifikasi ini hanya ditetapkan setelah pencarian menyeluruh tak menemukan apa pun kecuali jejak biologis yang sangat minim, seperti percikan darah di dinding atau fragmen kecil jaringan tubuh. Dengan demikian, metode ini menjadi satu-satunya cara untuk mendokumentasikan korban yang benar-benar hilang tanpa jejak.Duka Keluarga: Kesulitan Mencari Jejak yang 'Lenyap'
Tak ditemukannya jasad utuh membawa penderitaan mendalam bagi keluarga korban. Yasmin Mahani, seorang ibu asal Palestina, menceritakan kisah pilunya saat mencari putranya, Saad, usai serangan pada 10 Agustus 2024 yang menghantam sekolah al-Tabin di Gaza City. "Saya masuk ke dalam masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah," kenangnya dengan nada pilu. Berhari-hari ia mencari Saad di berbagai rumah sakit dan kamar mayat, namun putranya tak pernah ditemukan. "Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu bagian paling sulit," imbuh Mahani, yang kini bergabung dengan ribuan warga Palestina lain yang menghadapi kenyataan pahit ini. Lenyapnya jasad secara total tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga merampas hak keluarga untuk memberikan proses pemakaman yang layak bagi orang yang mereka cintai.Anatomi Senjata Termal: Mengungkap Penyebab Tubuh 'Menguap'
Fenomena lenyapnya jasad secara menyeluruh ini, menurut laporan investigasi, sangat erat kaitannya dengan penggunaan amunisi termal dan termobarik oleh militer Israel. Jenis amunisi yang konon dipasok oleh Amerika Serikat ini, dikenal memiliki kemampuan menghasilkan suhu ekstrem, seringkali di atas 3.500 derajat Celsius. Berbeda dengan bahan peledak konvensional, senjata termal beroperasi dengan cara menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian tersulut, menciptakan bola api raksasa dan efek vakum yang dahsyat.Amunisi yang Digunakan dan Dampaknya
Laporan mengindikasikan bahwa beberapa jenis amunisi yang dipasok AS telah digunakan di Jalur Gaza, termasuk bom MK-84, bom penghancur bunker BLU-109, dan bom luncur presisi GBU-39. Bom MK-84, misalnya, memiliki bobot 900 kilogram dan berisi tritonal, mampu mencapai suhu panas hingga 3.500 derajat Celsius. Kemudian, ada BLU-109, yang khusus dirancang untuk menghancurkan bunker, menciptakan bola api masif di dalam ruang tertutup dan melahap segala sesuatu dalam jangkauannya. Laporan investigasi mencatat bahwa bom ini dipakai dalam serangan di Al-Mawasi, Jalur Gaza, pada September 2024. Sementara itu, bom GBU-39 disebut-sebut digunakan dalam serangan di Sekolah Al-Tabin, tempat putra Yasmin Mahani diduga menghilang. Tim pertahanan sipil Gaza bahkan memperkuat dugaan ini dengan mengonfirmasi penemuan serpihan GBU-39 di lokasi-lokasi para korban yang "lenyap".Pakar Militer Ungkap Efek Dahsyat Senjata Termobarik
Vasily Fatigarov, seorang pakar militer Rusia, menguraikan secara detail dampak destruktif dari senjata termobarik. "Senjata termobarik tidak hanya membunuh, melainkan mampu melenyapkan materi," ungkapnya. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa berbeda dengan bahan peledak tradisional, senjata ini menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian meledak, memicu bola api sangat besar yang disusul oleh gelombang tekanan dan efek vakum yang dahsyat. Fatigarov juga menyebutkan, bom GBU-39, khususnya, memiliki kemampuan "membunuh melalui gelombang tekanan yang merusak paru-paru dan gelombang termal yang membakar jaringan lunak." Kombinasi panas ekstrem dan gelombang kejut ini tidak hanya membakar tubuh manusia, tetapi juga membuatnya menguap, tanpa meninggalkan jejak atau hanya menyisakan sangat sedikit sisa.Seruan Internasional: Tuntut Pertanggungjawaban Global
Penggunaan senjata yang mengakibatkan ribuan warga sipil "lenyap" ini telah memicu desakan keras dari komunitas hukum internasional. Para pakar berpendapat bahwa pemakaian amunisi tanpa pandang bulu semacam ini tidak hanya menyeret militer yang menggunakannya ke dalam masalah, tetapi juga negara-negara penyuplai senjata tersebut. "Ini adalah genosida global, bukan semata genosida oleh Israel," tegas Diana Buttu, seorang pengacara sekaligus dosen di Georgetown University di Qatar.Buttu lebih lanjut menekankan bahwa negara-negara Barat yang menyediakan amunisi termal dan termobarik juga wajib dimintai pertanggungjawaban atas dampak kemanusiaan yang sangat mengerikan ini. Menimbang bukti-bukti yang telah terungkap, tuntutan akan penyelidikan independen yang komprehensif pun kian menguat. Dunia internasional kini dihadapkan pada keharusan untuk memastikan akuntabilitas, tidak hanya demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang, tetapi juga untuk menegakkan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional yang telah secara terang-terangan dilanggar di Jalur Gaza. Ke depan, isu ini diproyeksikan akan terus mendominasi perdebatan global mengenai etika perang dan tanggung jawab kolektif.