TERBARU

Hamas Buka Suara Soal Indonesia yang Kini Jadi Wakil Komandan ISF

Hamas Buka Suara Soal Indonesia yang Kini Jadi Wakil Komandan ISF


Sorotan dunia kini tertuju pada rencana pembentukan Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) untuk Gaza, apalagi setelah Indonesia ditunjuk sebagai salah satu wakil komandannya. Penunjukan penting ini diumumkan dalam pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" yang digagas Presiden AS Donald Trump di Washington pada Kamis lalu. Seiring bergulirnya wacana pengiriman pasukan ini, termasuk peran Indonesia, kelompok Hamas pun mulai menyuarakan pandangannya. Di sisi lain, Indonesia juga telah angkat bicara mengenai kesiapannya, sementara perwakilan Palestina menyampaikan pemahaman mereka akan pentingnya stabilitas. Perkembangan ini menegaskan betapa rumitnya upaya global untuk menciptakan perdamaian di wilayah yang tak henti bergejolak.

Pandangan Hamas Terhadap Kehadiran ISF

Menyusul pengumuman pembentukan ISF dan keterlibatan berbagai negara, termasuk Indonesia, kelompok Hamas tak tinggal diam. Juru bicaranya, Qassem, segera menyampaikan pernyataan resmi mengenai posisi mereka terkait kehadiran pasukan internasional di Gaza. Pandangan ini sangat penting, mengingat peran sentral Hamas dalam dinamika politik dan keamanan di Jalur Gaza.

Arah dan Fungsi Pasukan Penjaga Perdamaian yang Diinginkan

Qassem menjelaskan harapan spesifik Hamas terkait fungsi pasukan internasional. "Posisi kami mengenai pasukan internasional sudah jelas," ujarnya, dikutip pada Sabtu (21/2/2026). Ia menegaskan bahwa Hamas menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang fokus memantau gencatan senjata dan menjamin pelaksanaannya. Selain itu, pasukan tersebut diharapkan berfungsi sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat Palestina di Jalur Gaza. Namun, ada satu syarat mutlak: pasukan ini dilarang mencampuri urusan internal Gaza. "Tanpa mencampuri urusan internal Gaza," tegas Qassem, menekankan kekhawatiran Hamas terhadap kedaulatan internal wilayah tersebut.

Sikap Hamas Terhadap Rencana Pembentukan Pasukan Polisi Lokal

Di samping pasukan militer, rencana ISF juga mencakup pembentukan pasukan polisi baru di Gaza pasca-Hamas. Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi untuk Gaza yang ditunjuk Amerika Serikat, bahkan telah mengumumkan dimulainya perekrutan untuk pasukan polisi tersebut dalam pertemuan Dewan Perdamaian. Menanggapi rencana ini, Qassem dari Hamas memberikan pandangan yang lebih terperinci. "Melatih pasukan polisi Palestina dalam kerangka nasional mereka bukanlah masalah jika tujuannya adalah untuk menjaga keamanan internal di Jalur Gaza," jelasnya. Kendati demikian, ia menambahkan bahwa tujuan tersebut harus secara spesifik menghadapi kekacauan yang ingin diciptakan oleh "pendudukan dan milisinya," menyiratkan bahwa otoritas polisi harus independen dan berfungsi murni untuk kepentingan Palestina.

Rincian Pasukan Stabilitas Internasional dan Kontribusi Indonesia

Pembentukan Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) merupakan langkah diplomatik krusial dalam upaya menstabilkan Gaza. Inisiatif ini digagas di bawah payung "Dewan Perdamaian" bentukan Presiden AS Donald Trump, yang berhasil mengumpulkan komitmen dari berbagai negara untuk berkontribusi.

Target Kekuatan ISF dan Negara-Negara yang Berpartisipasi

ISF menargetkan kekuatan total 20.000 tentara yang akan ditempatkan di Gaza, dilengkapi dengan pembentukan pasukan polisi baru. Sejumlah negara telah menyatakan komitmen untuk mengirimkan personel. Presiden Trump menyebutkan Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania, di samping Indonesia, sebagai negara-negara yang siap menyumbangkan pasukannya. Kontribusi masing-masing negara dalam formasi ini akan menjadi penentu keberhasilan misi yang kompleks dan penuh tantangan ini.

Kesiapan Indonesia Mengirimkan Pasukan Penjaga Perdamaian

Indonesia mencuri perhatian internasional setelah menyatakan kesiapannya untuk memberikan kontribusi besar bagi ISF. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, mengungkapkan bahwa Indonesia siap mengerahkan hingga 1.000 prajurit ke Gaza pada April mendatang. Angka ini bahkan berpotensi melonjak drastis hingga 8.000 tentara pada akhir Juni tahun ini. Dengan kesiapan ini, Indonesia menjadi negara pertama yang secara terbuka menyatakan komitmen pasukan dalam skala sebesar itu. Jika terealisasi, jumlah tersebut akan tercatat sebagai salah satu kontribusi terbesar dalam misi penjaga perdamaian global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung diplomasi internasional. Namun, Brigjen Donny juga menjelaskan bahwa penempatan pasukan masih harus menunggu persetujuan akhir dari Presiden Prabowo, mengisyaratkan adanya tahapan birokrasi dan politik yang perlu dilalui.

Reaksi Palestina dan Kebutuhan Stabilitas di Gaza

Respons dari perwakilan Palestina menjadi elemen krusial dalam diskusi mengenai pengiriman Pasukan Stabilitas Internasional ke Gaza. Keterlibatan dan pemahaman mereka dapat sangat menentukan keberhasilan misi yang amat sensitif ini.

Pemahaman Perwakilan Palestina Mengenai Pengiriman ISF

Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Sugiono, membagikan informasi penting terkait reaksi Palestina. Menurutnya, perwakilan Palestina turut hadir dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington D.C., Amerika Serikat, tempat rencana ISF dibahas. Prof. Dr. Ali Shaath, yang menjabat sebagai Chairman National Committee on Administration of Gaza (NCAG), merupakan wakil Palestina dalam pertemuan tersebut. "Kemarin juga ada Palestina, Prof Dr Ali Shaath, ada di sana sebagai perwakilan Palestina... Jadi Palestina juga sudah ada di sana, sudah tahu, sudah paham," jelas Sugiono. Ia menambahkan bahwa Indonesia juga telah menyampaikan "national caveat" atau batasan nasionalnya, menggarisbawahi adanya keterlibatan dan dialog mendalam dari semua pihak.

Syarat Utama Menuju Gaza yang Aman dan Stabil

Lebih jauh, Sugiono membeberkan bahwa Ali Shaath dari Palestina menekankan kebutuhan akan situasi yang aman dan stabil sebagai prasyarat utama. Menurut Sugiono, perwakilan Palestina menggarisbawahi bahwa semua rencana komprehensif untuk Gaza hanya bisa terlaksana jika pondasinya kuat. "Pertama, yang mereka butuhkan adalah situasi yang aman dan stabil. Jadi semua rencana komprehensif, kunci pertamanya adalah gencatan senjata, kemudian menciptakan suasana yang aman dan stabil," terang Sugiono. Hanya setelah kondisi ini terpenuhi, tahap-tahap berikutnya barulah dapat dilaksanakan. Pernyataan ini mempertegas bahwa prioritas utama bagi warga Gaza dan perwakilannya adalah penghentian konflik dan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk pembangunan serta stabilitas jangka panjang.
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment