Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta

Doa al-‘afiyah mengajarkan seorang Muslim memohon ampunan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, serta harta sebagai bentuk tawakal kepada Alla
Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta

Qumedia - Manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Betapapun tinggi ilmu, kekuatan, kedudukan, dan kemampuan yang dimilikinya, manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT. Kehidupan manusia juga tidak pernah terbebas dari berbagai kemungkinan sehat dan sakit, lapang dan sempit, berhasil dan gagal, bahagia dan sedih, serta keselamatan dan musibah.

Dalam kondisi demikian, Islam mengajarkan manusia untuk senantiasa kembali kepada Allah SWT melalui doa. Doa bukan sekadar permintaan ketika seseorang mengalami kesulitan, tetapi merupakan bentuk penghambaan yang menunjukkan bahwa seorang hamba menyadari Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Allah SWT berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghafir [40]: 60).

Ayat tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara doa dan ibadah. Bahkan, enggan berdoa karena kesombongan merupakan sikap yang bertentangan dengan hakikat penghambaan kepada Allah SWT.

Di antara doa yang memiliki kandungan sangat luas adalah doa yang diajarkan Rasulullah Saw :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.

Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud No. 5074. Hadis tersebut menjadi sangat penting untuk dikaji karena Rasulullah Saw tidak mengajarkan manusia hanya meminta kekayaan, kesehatan, kedudukan, atau keberhasilan duniawi, tetapi terlebih dahulu meminta al-‘afw dan al-‘afiyah.

Dengan demikian, pertanyaan penting yang perlu dikaji adalah : Apa hakikat doa dalam Islam? Mengapa manusia harus berdoa? Apa yang dimaksud dengan al-‘afw dan al-‘afiyah? Dan apa makna memohon keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, serta harta?

PENGERTIAN DOA DALAM ISLAM

Secara bahasa, doa berasal dari kata Arab:

دَعَا – يَدْعُو – دُعَاءً

yang bermakna memanggil, meminta, memohon, atau menyeru.

Secara istilah, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, pengharapan, dan ketundukan.

Doa pada hakikatnya menunjukkan posisi manusia sebagai ‘abdullah, yaitu hamba Allah. Manusia tidak memiliki kekuasaan mutlak atas dirinya. Kesehatan berada dalam kehendak Allah, rezeki berada dalam ketetapan Allah, keselamatan berada dalam perlindungan Allah, bahkan kemampuan untuk beribadah pun merupakan pertolongan dari Allah.

Karena itu, doa bukan tanda kelemahan manusia dalam pengertian negatif. Justru doa menunjukkan kesadaran manusia terhadap siapa dirinya dan siapa Tuhannya.

Allah SWT berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk. (QS. Al-Baqarah [2]: 186).

Ayat ini memberikan gambaran bahwa doa merupakan bentuk komunikasi spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

MENGAPA SEORANG MUSLIM HARUS BERDOA ?

1. Doa merupakan bentuk ibadah

Rasulullah Saw bersabda :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

Doa adalah ibadah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Maknanya adalah bahwa doa bukan sekadar aktivitas meminta sesuatu, tetapi merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Ketika seseorang berdoa, sebenarnya ia sedang menyatakan “Ya Allah, aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Rabb-ku. Aku membutuhkan-Mu dan Engkau tidak membutuhkan siapa pun.”

2. Doa menunjukkan ketergantungan kepada Allah

Manusia boleh bekerja, berusaha, merencanakan, belajar, berobat, dan menggunakan berbagai sarana kehidupan. Namun hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk memilih antara usaha atau doa, melainkan usaha yang disertai doa dan tawakal.

Allah SWT berfirman :

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang beriman. (QS. Al-Ma’idah [5]: 23).

3. Doa menjadi sarana memohon perlindungan

Manusia tidak mengetahui seluruh bahaya yang akan dihadapinya. Bisa jadi seseorang menghindari bahaya yang terlihat, tetapi tidak menyadari bahaya yang tidak terlihat.

Karena itu Rasulullah Saw mengajarkan doa al-‘afiyah, yaitu meminta keselamatan dan perlindungan Allah dari berbagai keburukan.

MEMAHAMI HADIS DOA AL-‘AFIYAH

Redaksi hadis yang menjadi pokok kajian adalah :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Secara sederhana terdapat beberapa kata kunci :

اللَّهُمَّ — Ya Allah

إِنِّي أَسْأَلُكَ — sesungguhnya aku memohon kepada-Mu

الْعَفْوَ — ampunan/penghapusan dosa

الْعَافِيَةَ — keselamatan dan perlindungan

دِينِي — agamaku

دُنْيَايَ — duniaku

أَهْلِي — keluargaku

مَالِي — hartaku

Susunan tersebut sangat menarik. Rasulullah Saw mengajarkan permohonan yang mencakup hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan kehidupan dunia, hubungan dengan keluarga, dan hubungan dengan harta.

MAKNA AL-‘AFW DAN AL-‘AFIYAH

1. Al-‘Afw (Memohon penghapusan dosa)

Kata العفو (al-‘afw) berkaitan dengan permohonan agar Allah menghapuskan dosa dan kesalahan. Seorang Muslim bukan hanya membutuhkan keselamatan dari musibah, tetapi juga membutuhkan keselamatan dari dosa. Sebab, seseorang bisa saja sehat secara jasmani tetapi sakit secara spiritual. Ia bisa memiliki harta tetapi kehilangan keberkahan. Ia bisa memiliki kedudukan tetapi jauh dari Allah.

Karena itu, doa Rasulullah Saw menggabungkan الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ ampunan dan keselamatan. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa keselamatan yang hakiki harus dibangun di atas ampunan Allah.

2. Al-‘Afiyah (Keselamatan yang menyeluruh)

Al-‘afiyah tidak sebatas sehat badan. Maknanya dapat mencakup keselamatan dari berbagai bentuk keburukan, baik yang berkaitan dengan agama maupun kehidupan dunia. Dalam konteks doa Rasulullah Saw al-‘afiyah dapat dipahami sebagai permohonan agar Allah memberikan perlindungan, keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan penjagaan dari berbagai keburukan yang dapat merusak agama dan kehidupan manusia.

Dengan demikian, ketika seorang Muslim berkata اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ ia sebenarnya sedang memohon "Ya Allah, selamatkan aku dari segala sesuatu yang membahayakan agama dan kehidupanku".

MEMOHON KESELAMATAN DALAM AGAMA

Bagian pertama yang perlu mendapat perhatian adalah فِي دِينِي “dalam agamaku.” Mengapa agama ditempatkan sebagai bagian yang sangat penting. Karena kehilangan agama jauh lebih berbahaya daripada kehilangan harta.

Harta yang hilang masih dapat dicari kembali. Kesehatan yang terganggu dapat diupayakan melalui pengobatan. Rumah yang rusak dapat dibangun kembali. Tetapi ketika seseorang kehilangan iman dan keselamatan agamanya, kerugiannya dapat berlanjut hingga akhirat.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ

Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya... (QS. An-Nisa [4]: 136).

Memohon keselamatan agama berarti memohon kepada Allah agar iman tetap terjaga, tauhid tetap lurus, ibadah tetap istiqamah, hati dijauhkan dari kesyirikan, dijauhkan dari kemunafikan, dijauhkan dari kesesatan, diberikan kekuatan untuk taat, diberikan keteguhan sampai akhir kehidupan.

Allah SWT berfirman :

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. (QS. Ali ‘Imran [3]: 8).

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa orang yang telah mendapatkan petunjuk pun tetap membutuhkan pertolongan Allah agar hatinya tidak menyimpang.

MEMOHON KESELAMATAN DALAM DUNIA

Bagian berikutnya :

وَدُنْيَايَ dan duniaku. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia. Dunia merupakan tempat manusia menjalankan amanah dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Allah SWT berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Maka memohon keselamatan dunia berarti memohon kesehatan, rezeki yang halal, ketenteraman, keamanan, dijauhkan dari musibah yang membahayakan, dijauhkan dari kemaksiatan, kehidupan yang penuh keberkahan, kemampuan menggunakan dunia untuk kepentingan akhirat. Dengan demikian, dunia bukan tujuan akhir, tetapi sarana menuju akhirat.

MEMOHON KESELAMATAN KELUARGA

Rasulullah Saw kemudian mengajarkan وَأَهْلِي dan keluargaku. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Islam mengajarkan tanggung jawab terhadap keluarga.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api nerakan(QS. At-Taḥrīm [66]: 6).

Ayat ini memberikan dasar penting bahwa keselamatan keluarga bukan hanya keselamatan ekonomi dan kesehatan, tetapi terutama keselamatan iman dan akhlak.

Karena itu, memohon keselamatan keluarga mencakup permohonan agar pasangan hidup dalam ketaatan, anak-anak menjadi saleh dan salehah, keluarga diberikan kesehatan, keluarga dijauhkan dari perpecahan, rumah tangga dipenuhi sakinah, keluarga dijauhkan dari kemaksiatan, keluarga istiqamah dalam ibadah, keturunan menjadi generasi yang beriman.

Doa Al-Qur'an yang sangat relevan adalah :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqān [25]: 74).

MEMOHON KESELAMATAN HARTA

Bagian terakhir adalah وَمَالِي dan hartaku. Harta merupakan salah satu amanah besar dalam kehidupan manusia. Harta dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber fitnah apabila tidak dikelola dengan benar.

Allah SWT berfirman :

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (QS. Al-Anfāl [8]: 28).

Maka memohon keselamatan harta bukan berarti meminta agar harta sebanyak-banyaknya. Lebih luas daripada itu, seorang Muslim memohon agar hartanya diperoleh melalui jalan halal, hartanya dijauhkan dari keberkahan yang hilang, hartanya dijaga dari pencurian dan kerusakan, dirinya dijauhkan dari sifat rakus, hartanya tidak menjadikannya sombong, hartanya tidak melalaikannya dari shalat;

hartanya digunakan untuk kebaikan, hartanya menjadi sarana memperoleh ridha Allah.

Dengan demikian, harta yang selamat bukan sekadar harta yang banyak, tetapi harta yang halal, berkah, dan digunakan di jalan Allah.

EMPAT DIMENSI AL-‘AFIYAH DALAM KEHIDUPAN

Jika hadis tersebut dirumuskan secara konseptual, maka terdapat empat dimensi keselamatan :

Dimensi

Yang Dimohon

Tujuan

Agama

Iman, istiqamah, keselamatan dari kesesatan

Selamat di akhirat

Dunia

Kesehatan, keamanan, rezeki, ketenteraman

Kehidupan yang baik

Keluarga

Iman, kesehatan, keharmonisan

Keluarga yang sakinah

Harta

Kehalalan, keberkahan, penjagaan

Harta menjadi sarana kebaikan

Keempatnya sebenarnya tidak berdiri sendiri.

Agama menjadi landasan. Dunia menjadi tempat menjalankan amanah. Keluarga menjadi lingkungan utama pembentukan generasi. Harta menjadi sarana untuk menjalankan kehidupan dan ibadah.

DOA BUKAN PENGGANTI IKHTIAR

Pemahaman terhadap hadis ini tidak boleh menyebabkan seseorang hanya berdoa tanpa melakukan usaha. Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk menggabungkan doa dengan ikhtiar. Dalam persoalan kesehatan, seseorang berdoa memohon al-‘afiyah sekaligus berusaha menjaga kesehatan dan melakukan pengobatan. Dalam persoalan ekonomi, seseorang berdoa memohon rezeki sekaligus bekerja dengan cara yang halal. Dalam persoalan keluarga, seseorang berdoa memohon keluarga yang baik sekaligus mendidik, membimbing, dan memberikan keteladanan. Dalam persoalan agama, seseorang berdoa memohon istiqamah sekaligus belajar, beribadah, menjaga lingkungan pergaulan, dan menjauhi sebab sebab kesesatan.

Dengan demikian doa tanpa ikhtiar dapat menjadi alasan bagi kemalasan, sedangkan ikhtiar tanpa doa dapat menumbuhkan kesombongan. Islam mengajarkan keduanya berjalan bersama dalam bingkai tawakal.

RELEVANSI DOA AL-‘AFIYAH DALAM KEHIDUPAN MODERN

Kehidupan modern menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi sekaligus menghadirkan berbagai bentuk ancaman baru. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan komunikasi, tetapi juga dapat menjadi sarana penyebaran kemaksiatan dan informasi yang merusak. Kemajuan ekonomi memberikan kesempatan memperoleh kekayaan, tetapi juga dapat melahirkan materialisme. Perkembangan ilmu pengetahuan memberikan banyak manfaat, tetapi tanpa iman dan akhlak dapat disalahgunakan. Dalam kondisi seperti ini, doa al-‘āfiyah menjadi semakin relevan.

Seorang Muslim tidak cukup hanya meminta Ya Allah, berikan aku banyak harta.Tetapi hendaknya meminta Ya Allah, selamatkan agamaku, dunia kehidupanku, keluargaku, dan hartaku. Sebab kekayaan tanpa agama dapat menjadi fitnah, ilmu tanpa iman dapat menjadi kesombongan, keluarga tanpa ketakwaan dapat menjadi sumber kelalaian, dan dunia tanpa akhirat dapat menjadi kerugian.

KESIMPULAN

Doa yang diajarkan Rasulullah Saw :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

merupakan doa yang memiliki kandungan sangat luas dan mendalam. Doa tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya meminta kenikmatan dunia, tetapi meminta keselamatan yang menyeluruh.

Pertama, seorang Muslim harus memohon keselamatan dalam agama, karena agama merupakan fondasi kehidupan dan keselamatan akhirat.

Kedua, ia memohon keselamatan dalam dunia, agar kehidupan dunia menjadi sarana untuk beribadah dan mendapatkan ridha Allah.

Ketiga, ia memohon keselamatan bagi keluarga, karena keluarga merupakan amanah dan lingkungan pertama dalam pembentukan keimanan serta akhlak.

Keempat, ia memohon keselamatan bagi harta, agar harta diperoleh secara halal, dijaga keberkahannya, dan digunakan untuk kebaikan.

Dengan demikian, konsep al-‘afiyah dalam doa Rasulullah Saw bukan sekadar permohonan agar tubuh sehat dan kehidupan terbebas dari masalah. Al-‘afiyah merupakan permohonan agar Allah memberikan keselamatan lahir dan batin, keselamatan agama dan dunia, keselamatan keluarga dan harta, serta perlindungan dari segala sesuatu yang dapat merusak kehidupan seorang Muslim di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, doa ini layak menjadi bagian dari amalan harian seorang Muslim, terutama pada waktu pagi dan petang. Lebih jauh, doa tersebut hendaknya menjadi paradigma kehidupan berusaha menjaga agama, menjaga kehidupan, menjaga keluarga, menjaga harta, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan penuh tawakal. Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah sekadar memiliki banyak hal dalam kehidupan, tetapi memiliki segala sesuatu dalam keadaan selamat dan berkah. Qumedia

Daftar Pustaka:
  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Abu Dawud, Sulayman ibn al-Asy‘ats. Sunan Abu Dawud, Kitab al-Adab, Bab fī al-‘Afw wa al-‘Afiyah, hadis no. 5074.
  • Al-Bukhari, Muḥammad ibn Isma‘il. Ṣaḥiḥ al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsīr.
  • Muslim ibn al-Ḥajjaj. Ṣaḥiḥ Muslim. Beirut: Dar Iḥya’ al-Turats al-‘Arabi.
  • Al-Tirmidzi, Muḥammad ibn ‘Isa. Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
  • Ibn Mājah, Muḥammad ibn Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar al-Risalah al-‘Alamiyyah.
  • Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Al-Wabil al-Ṣayyib min al-Kalim al-Ṭayyib. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
  • Al-Nawawi, Yaḥya ibn Syaraf. Al-Adzkar. Beirut: Dar Ibn Kathir.
  • Al-Sa‘di, ‘Abd al-Raḥman ibn Naṣir. Taysir al-Karim al-Raḥman fī Tafsīr Kalam al-Mannan. Riyadh: Mu’assasah al-Risalah.
  • Ibnu Katsīr, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Aẓīm. Riyadh: Dar Ṭayyibah.
Further Reading:
Copied 👍

Latest News

  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta
  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta
  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta
  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta
  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta
  • Doa Memohon Al-‘Afiyah Keselamatan Agama, Dunia, Keluarga, dan Harta

Post a Comment