Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi

Kisah Nabi Syu'aib AS mengajarkan pentingnya menjauhi perilaku jahiliyah seperti kecurangan, meremehkan nasihat, dan memilih-milih kebenaran berdasark
Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi

Qumedia - Kisah Nabi Syu'aib AS dan kaumnya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin yang relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Kaum Madyan tidak hanya terjerumus dalam kesyirikan, tetapi juga terbiasa melakukan berbagai perilaku tercela seperti kecurangan dalam timbangan, meremehkan nasihat kebenaran, hingga menilai pesan berdasarkan status sosial pembawanya. Perilaku-perilaku tersebut merupakan bagian dari karakter jahiliyah yang dapat muncul kembali dalam berbagai bentuk di era modern. Karena itu, setiap muslim perlu mengenali dan menjauhinya agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi

قَالُوْا يشُعَيْبُ مَانَفْقَهُ كَثِيْرًا مِّمَاتَقُوْلُ وَإِنَّا لَنَر ىكَ فِيْنَا ضَعِيْفًا وَلَوْلَارَهْطُكَ لَرَجْمْنكَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيْزٍ. سُوْرَةُ هُوْدٍ: ٩١

Mereka berkata: "Hai Syu'aib! Kami tidak faham kebanyakan dari apa yang engkau katakan; dan sesungguhnya kami lihat engkau orang yang lemah di antara kami; dan kalau tidak karena kaummku, tentu kamu rajammu, karena engkau bukan orang terhormat di antara kami". (Qs. Hud [11]: 91) 

Nabi Syu'aib merupakan Rasul Allah SWT yang diutus kepada kaum Madyan. Kawasan mereka tinggal berdekatan dengan negeri kaum Nabi Luth As (Kaum Sodom). Penduduk Madyan juga dikenal sebagai penduduk Aikah. Diambil dari nama sebuah nama pohon sejenis pohon beringin yang disembah oleh mereka. 

Selain kezaliman terbesar yang mereka lakukan (syirik) dengan menyekutukan Allah, mereka juga melakukan dosa besar lainnya, di antaranya mengurangi timbangan. Hal ini tentu termasuk dosa besar. Allah SWT berfirman, 

بسم الله الرحمن الرحيم

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ. وَإِذَا كَالُوْهُمْ اَوْوَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ.(سُوْرَةُ المُطَفِّفِيْنَ: ١-٣) 

Dengan nama Allah, Pemurah, Penyayang. Kecelakaan (disediakan) untuk pencurang-pencurang. Yang apabila menerima sukatan dari orang (lain), mereka minta cukup. Tetapi apabila menyukat atau menimbang untuk orang-orang (lain), mereka dikurangi. (Qs. Al Mutaffifin [83]: 1-3) 

Nabi Syu'aib diutus kepada pendidikan yang notabene berprofesi sebagai pengusaha. Kaumnya menganggap bahwa apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari strategi bisnis. Sehingga Nabi Syu'aib meluruskan apa yang keliru pada kaumnya. 

Kebiasaan buruk lainnya yang dilakukan oleh kaumnya adalah biasa berkumpul di jalan dan mengganggu orang lain (nongkrong). Hal ini masih bisa ditemukan di beberapa kawasan. Bagi wali terutama yang memiliki kewenangan di suatu kawasan hendaknya menertibkan fenomena ini. Dengan cara persuasif dengan mengarahkan kepada yang lebih baik atau dengan cara imperatif seperti membubarkan apabila tindakan pertama tidak ditanggapi. 

Keburukan lain yang dilakukan oleh kaum Nabi Syu'aib as lainnya adalah mereka menganggap omong kosong apa yang disampaikan oleh utusan Allah. Menolak dan mengolok-oloknya. Hal demikian merupakan salah satu gambaran yang berpotensi akan dihadapi seorang da'i dalam proses menyampaikan kebenaran. 

Kini Islam sudah tersiar ke seluruh dunia. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang kian mempercepat penyebaran informasi. Angka orang yang masuk Islam terus bertambah tiap hari. Namun, bukan berarti kita tidak mesti waspada dan hati-hati. Karena setan tiada henti untuk menggoda. Salah satu perilaku jahiliyah yang mesti diwaspadai oleh kaum muslimin ialah sifat pilih-pilih dalam menerima nasihat. Ia hanya mau menerima nasihat dari orang yang ia anggap mulia. Padahal untuk menerima kebenaran bisa dari siapapun tanpa melihat status sosial orang yang menyampaikan. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang mau peka terhadap hidayah-Nya dari manapun datangnya. wallahu'alam Qumedia

Reference:
  • Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, edisi terbaru.
  • Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir). Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an (Tafsir Ath-Thabari). Beirut: Muassasah ar-Risalah.
  • Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Darus Salam.
  • Qashash al-Anbiya. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al-Munir fi al-'Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr.
Further Reading:
Copied 👍

Latest News

  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi
  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi
  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi
  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi
  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi
  • Potensi Perilaku Jahiliyah yang Mesti Dijauhi

Post a Comment