Intip Yuk! 5 Berita Internasional Paling Ramai Dibicarakan
Pusaran informasi global tak pernah berhenti berputar, dan pekan ini, beberapa berita internasional berhasil menarik perhatian dunia dengan intensitas luar biasa. Mulai dari dinamika politik Timur Tengah yang tak pernah sepi hingga pernyataan kontroversial para pemimpin negara adidaya, rentetan peristiwa ini mendominasi perbincangan dan analisis. Mari kita selami lima isu global paling hangat yang patut Anda ketahui.
Uni Emirat Arab Kecam Negara-negara Teluk Lemah Hadapi Iran
Ketegangan di Timur Tengah terus memanas, dan kali ini giliran Uni Emirat Arab (UEA) yang menyuarakan kekecewaan. Seorang pejabat senior UEA melontarkan kritik pedas terhadap respons negara-negara sekutunya di Teluk, yang dinilai lemah dalam menghadapi serangan balasan dari Iran. Kritik ini muncul setelah Teheran membalas serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.Pada Selasa, 28 April 2026, Penasihat Kepresidenan UEA, Anwar Gargash, menyatakan bahwa meskipun negara-negara Teluk telah saling memberikan dukungan logistik selama krisis, respons politik dan militer mereka masih jauh dari memadai. "Sikap Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang," ujar Gargash. Pernyataan ini menyoroti perbedaan pandang di antara keenam negara anggota GCC mengenai strategi penanganan ancaman regional. Kritikan tersebut sekaligus menggarisbawahi pentingnya keseragaman sikap dan tindakan yang lebih tegas di tengah gejolak geopolitik yang kian sengit, terutama pasca-serangan balasan Iran yang benar-benar menguji stabilitas kawasan.
Israel Larang 2 Pendakwah Tersohor Masuk Masjid Al-Aqsa
Otoritas Israel kembali menuai sorotan setelah melarang dua pendakwah Palestina terkemuka memasuki Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Larangan ini mulai berlaku sejak Senin, 27 April, dan akan berlangsung selama satu pekan penuh, memicu kekhawatiran baru akan kebebasan beribadah serta akses menuju situs suci tersebut.Dua pendakwah yang terkena larangan itu adalah Sheikh Raed Salah dan Sheikh Kamal al-Khatib, keduanya dikenal luas dan memiliki pengaruh signifikan di kalangan komunitas Muslim Palestina. Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka menjelaskan bahwa otoritas Israel memanggil keduanya untuk diinterogasi. Di sesi interogasi itulah, mereka secara resmi diberitahu mengenai larangan untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa selama periode yang telah ditetapkan. Insiden ini menambah panjang daftar pembatasan yang kerap diterapkan Israel di Yerusalem Timur, yang tak jarang memicu gejolak dan kecaman dari berbagai pihak internasional. Kondisi di sekitar Masjid Al-Aqsa, sebagai salah satu situs paling suci dalam Islam, memang selalu menjadi titik sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Heboh Tentara Israel Menjarah di Lebanon, Pejabat Militer Bilang Gini
Dugaan tindakan tidak terpuji oleh sejumlah personel militer Israel di Lebanon selatan telah memicu kegaduhan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini dihadapkan pada tuduhan penjarahan properti sipil, yang langsung mendapatkan respons keras dari pucuk pimpinan militer. Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, bahkan sampai mengeluarkan peringatan serius kepada seluruh pasukannya terkait isu ini.Dalam pernyataannya yang dilansir pada Selasa, 28 April 2026, Zamir menegaskan bahwa tindakan penjarahan, jika memang terjadi, akan sangat memalukan dan berpotensi mencoreng nama baik IDF secara keseluruhan. "Fenomena penjarahan, jika memang ada, sangat memalukan dan berisiko mencoreng nama IDF secara keseluruhan. Jika insiden seperti itu terjadi, kami akan menyelidikinya," tegasnya, menunjukkan komitmen militer untuk menjaga integritas. Isu ini mencuat setelah surat kabar Haaretz yang berhaluan kiri melaporkan secara rinci dugaan penjarahan tersebut. Laporan itu mengutip kesaksian langsung dari sejumlah pasukan dan komandan Israel yang bertugas di lapangan, mengindikasikan adanya praktik penjarahan terhadap sejumlah besar properti sipil. Tuduhan semacam ini dapat merusak citra IDF di mata internasional dan menimbulkan pertanyaan etika terkait perilaku militer di wilayah konflik. Investigasi mendalam diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan bagi pihak-pihak yang dirugikan.
Janji Dukung Iran, Putin Harap Perdamaian Segera Terwujud
Di tengah panasnya konflik di Timur Tengah, Rusia menunjukkan langkah diplomatik penting dengan menawarkan dukungan kepada Iran sekaligus menyerukan perdamaian. Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di St. Petersburg. Dalam pertemuan tersebut, Putin secara terbuka menyatakan harapannya agar rakyat Iran dapat melewati "masa sulit" yang tengah mereka hadapi, sembari menyuarakan keinginan agar perdamaian segera terwujud di kawasan.Rusia telah memposisikan diri sebagai mediator potensial untuk membantu memulihkan ketenangan di Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Moskow secara konsisten mengutuk keras serangan-serangan tersebut, menegaskan posisinya sebagai penyeimbang kekuatan di wilayah yang sangat sensitif ini. Tak hanya itu, Rusia juga telah berulang kali menawarkan untuk menyimpan uranium yang diperkaya milik Iran, sebagai upaya strategis untuk meredakan ketegangan terkait program nuklir Teheran. Namun, tawaran signifikan ini hingga kini belum mendapatkan respons positif dari Amerika Serikat. Komitmen Putin terhadap Iran dan aspirasi perdamaiannya menunjukkan peran krusial Rusia dalam upaya deeskalasi konflik global, meski tantangan diplomatik yang dihadapi sangat besar.
Trump Tak Senang dengan Proposal Baru Iran Soal Selat Hormuz
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru yang diajukan oleh Teheran. Proposal tersebut, yang disampaikan melalui mediator Pakistan, bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik berkepanjangan antara kedua negara. Namun, respons Trump jauh dari positif, mengindikasikan bahwa jalan menuju resolusi damai masih panjang.Menurut laporan media terkemuka New York Times (NYT) pada Selasa, 28 April 2026, yang mengutip sejumlah sumber akrab dengan diskusi tersebut, Trump telah mendapatkan penjelasan rinci mengenai proposal Iran dalam rapat di Situation Room Gedung Putih pada Senin, 27 April. Proposal terbaru itu secara spesifik memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Sebagai imbalannya, Iran menuntut agar Amerika Serikat mencabut blokade laut yang telah diterapkan terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran minyak vital dunia, dan penutupannya tentu akan memiliki dampak ekonomi global yang sangat besar. Penolakan Trump terhadap proposal ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran masih sangat mendalam, khususnya terkait sanksi ekonomi dan jaminan keamanan regional. Proyeksi ke depan, negosiasi yang lebih intensif atau peningkatan tekanan mungkin menjadi skenario yang tak terhindarkan.