Wanda Hamidah Nggak Sabar Balik Lagi ke Palestina!
Aktris sekaligus aktivis kemanusiaan Wanda Hamidah kembali menegaskan niatnya untuk terlibat dalam misi kemanusiaan di Palestina. Setelah upaya sebelumnya sempat terhambat, kini Wanda menyuarakan antusiasme yang membara untuk kembali berjuang, dengan rencana yang lebih matang untuk menembus blokade. Pernyataan ini ia sampaikan di Depok, Jawa Barat, pada Selasa, 3 Maret 2026, menegaskan komitmen kuatnya terhadap perjuangan rakyat Palestina yang tiada henti menghadapi tantangan berat.
Niat Kembali Lewat Jalur Laut
Sosok publik yang dikenal dengan advokasinya ini tidak putus asa meski upaya sebelumnya untuk bergabung dalam aksi Global March to Gaza gagal terlaksana pada Juni 2025 lalu. Misi tersebut kala itu bertujuan mendesak komunitas internasional agar membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, sebuah wilayah yang terus menjadi sorotan dunia akibat blokade berkepanjangan. Kini, Wanda merancang strategi baru.Ia berencana bergabung dalam misi kemanusiaan yang akan mencoba menerobos blokade melalui jalur laut. "Insyaallah, kembali ke Palestinanya bukan seperti kemarin ya, maksudnya saya akan kembali ke Palestina dalam Global Sumud Flotilla yang kemarin melalui laut yang sudah kita coba," ujar Wanda Hamidah dengan penuh keyakinan. Ia menambahkan, "Insyaallah bulan April nanti akan ada lagi menerobos pengepungan ilegal zionis Israel terhadap Palestina." Rencana ini menunjukkan pendekatan yang berbeda, berfokus pada upaya langsung menembus pengepungan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Misi Global Sumud Flotilla sendiri merupakan inisiatif internasional yang secara periodik berupaya mengirimkan bantuan dan dukungan kepada warga Gaza melalui laut, sebuah tantangan langsung terhadap blokade yang diberlakukan. Langkah berani ini kerap diwarnai ketegangan diplomatik dan militer, namun para aktivis tetap berkomitmen sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Ajak Generasi Muda Peduli Palestina
Dalam kesempatan yang sama, Wanda Hamidah tak hanya memaparkan rencananya, tetapi juga menyuarakan ajakan tulus kepada generasi muda, khususnya Gen Z, agar lebih peduli terhadap isu Palestina. Baginya, kesadaran dan partisipasi anak muda sangat krusial dalam menyuarakan keadilan dan kemanusiaan."Insyaallah mudah-mudahan nanti akan semakin banyak Gen Z yang terbuka hatinya untuk membantu perjuangan Palestina, warga masyarakat, dan semua negara yang hari ini sedang dijajah dan dibom dan dibunuh oleh imperialis Amerika dan zionis Israel," ungkapnya. Ia berharap, perjalanan dan advokasinya dapat menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk terlibat aktif dalam gerakan solidaritas global. Seruan ini terasa sangat relevan mengingat pesatnya peningkatan penggunaan media sosial oleh Gen Z sebagai platform utama untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.
Aksi-aksi kemanusiaan seperti ini, lanjut Wanda, bukan semata tentang Palestina, melainkan tentang prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan universal. Membangkitkan empati dan keberanian di kalangan generasi penerus dianggapnya sebagai investasi jangka panjang demi masa depan dunia yang lebih damai dan adil.
Mengatasi Ketakutan dan Pentingnya Perjuangan
Terjun langsung ke wilayah konflik, apalagi dengan misi berisiko tinggi seperti menembus blokade, tentu memunculkan rasa khawatir. Wanda Hamidah secara jujur mengakui adanya ketakutan itu. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya, yakni dengan menyerahkan diri dan memohon ketenangan kepada Tuhan."Ketakutan itu pasti ada, tapi saya berdoa sama Allah supaya memberikan saya ketenangan," tuturnya. Baginya, doa adalah sumber kekuatan utama yang mencegah dirinya "terkonsumsi" oleh rasa takut. Lebih lanjut, Wanda menekankan bahwa tidak ada kemerdekaan yang dapat diraih tanpa perjuangan. "Tidak ada kemerdekaan tanpa perjuangan. Jadi kalau kita nggak berjuang ya kita nggak merdeka. Nggak ada yang bisa kita dapatkan tanpa perjuangan," tegasnya. Perspektif ini menjadi landasan kuat bagi komitmennya untuk terus berjuang, meskipun risiko membayangi.
Keyakinan pada Proses dan Ikhtiar
Bagi Wanda, keberhasilan atau hasil akhir bukanlah satu-satunya hal yang paling utama dalam perjuangan ini. Ia meyakini bahwa proses dan ikhtiar, atau usaha sungguh-sungguh, memegang peranan yang jauh lebih penting. Filosofi ini memberikan dimensi spiritual pada setiap langkah yang diambilnya."Yang sebetulnya penting adalah proses, karena keberhasilan, kemerdekaan itu ada atas izin Allah," jelasnya. Ia menambahkan, "Kita tidak tahu bila kita akan merdeka, tapi proses itu menjadi penting buat saya, ikhtiar itu menjadi penting buat saya." Keyakinannya terhadap pentingnya ikhtiar juga didasari pada pandangan bahwa Allah tidak akan meridai hamba-Nya yang tidak berusaha. "Karena Allah tidak mungkin rida sama kita kalau kita tidak melakukan ikhtiar, kita tidak mencoba, tidak melakukan percobaan-percobaan, perjuangan-perjuangan."
Dalam pandangannya, nilai sebuah perjuangan tidak terletak pada kemerdekaan atau kemenangan semata, melainkan pada keberanian untuk melangkah. "Jadi, it doesn't matter hasilnya kita lulus atau tidak, menang atau tidak, merdeka atau tidak, yang hari ini yang diperhitungkan adalah satu langkah kecil kita dalam membela mereka yang rumahnya dijajah," pungkas Wanda, menegaskan bahwa setiap tindakan kecil untuk kemanusiaan memiliki bobot yang besar.
Dukungan Keluarga di Balik Kekhawatiran
Keputusan Wanda Hamidah untuk terlibat dalam misi kemanusiaan yang berisiko tinggi tentu mengundang kekhawatiran dari pihak keluarga. Namun, ia memahami bahwa kekhawatiran tersebut tidak serta-merta berarti kurangnya dukungan. Sebaliknya, hal itu merupakan ekspresi alami dari kasih sayang."Kalau ada kekhawatiran bukan berarti mereka nggak support, dan kalau mereka support bukan berarti mereka tidak khawatir," ungkap Wanda Hamidah. Pernyataan ini menggambarkan dinamika hubungan yang kompleks namun penuh pengertian dalam keluarganya. Kekhawatiran adalah respons wajar dari orang-orang terdekat yang peduli terhadap keselamatan dirinya, sementara dukungan moral tetap menjadi pilar penting bagi perjuangannya. Keberaniannya untuk melangkah maju, di tengah kekhawatiran orang-orang terkasih, menunjukkan tingkat komitmen personal yang mendalam terhadap tujuan kemanusiaan yang diyakininya.