TERBARU

JK Buka-bukaan soal BoP di Tengah Perang AS-Israel Vs Iran

JK Buka-bukaan soal BoP di Tengah Perang AS-Israel Vs Iran


Jusuf Kalla (JK), yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, baru-baru ini menyampaikan pandangannya terkait forum internasional Board of Peace (BoP). Sorotan ini muncul di tengah gejolak konflik yang kian memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. JK secara terang-terangan mempertanyakan sejauh mana BoP efektif dalam mewujudkan tujuannya, mengkritisi kesenjangan antara janji perdamaian yang digaungkan dan realita konflik global yang terus berkecamuk. Pernyataan kritis JK ini dilontarkan menyusul eskalasi terbaru di Timur Tengah, seperti serangan balasan Iran terhadap Israel dan peran krusial Amerika Serikat dalam pusaran konflik tersebut.

BoP: Ide Bagus, Praktik Bertolak Belakang Menurut JK

Secara konseptual, Jusuf Kalla memandang bahwa upaya BoP untuk menciptakan perdamaian dunia adalah gagasan yang patut diacungi jempol. "Setiap inisiatif untuk perdamaian itu selalu baik," ujarnya. Ia meyakini bahwa langkah-langkah yang bertujuan meredakan ketegangan dan mencegah konflik sudah pasti berkontribusi positif terhadap stabilitas global. Namun, JK menyayangkan bahwa idealisme semacam itu acapkali tak sejalan dengan implementasi di lapangan.

"Sebenarnya ide BoP itu ide yang bagus. Siapa pun upaya kita untuk perdamaian selalu baik. Cuma kita harus melihat praktiknya bagaimana," kata Jusuf Kalla saat berbicara kepada awak media di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu (7/3/2026). Ia kemudian melanjutkan dengan nada bertanya, "Jangan kita baru bikin BoP tapi baru satu minggu sudah menyerang berperang dengan negara lain." Pernyataan ini secara gamblang menyoroti ironi: sebuah forum yang dibentuk untuk perdamaian justru harus menyaksikan konflik bersenjata meletus tak lama setelah dibentuk, atau bahkan di tengah upayanya.

Kontras tajam antara misi luhur dan realitas pahit inilah yang menjadi fokus utama kritik JK. Ia mengamati, meski forum perdamaian gencar berupaya mempertemukan berbagai pihak untuk berdialog, gejolak geopolitik justru tak terbendung, bahkan intensitasnya kian meningkat. Ketegangan di Timur Tengah, utamanya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, menjadi bukti nyata bagaimana BoP gagal mencegah eskalasi konflik.

Mendesaknya Koreksi Misi dan Kinerja BoP

Jusuf Kalla melanjutkan dengan penilaian bahwa ketidakselarasan antara gagasan awal dan praktik di lapangan telah mengaburkan makna BoP, bahkan membuatnya bertentangan dengan tujuan pendiriannya. Oleh karena itu, menurut Mantan Wakil Presiden ini, sangat mendesak untuk segera melakukan koreksi fundamental terhadap misi dan kinerja forum tersebut. Ia menekankan pentingnya evaluasi komprehensif guna memastikan BoP benar-benar dapat menjalankan mandat perdamaiannya.

"Jadi makna BoP itu menjadi bertentangan dengan niatnya. Jadi kita penting apabila menjalankan misinya sesuai dengan awalnya. Tapi kenyataannya tidak kan? Jadi memang perlu koreksi tentang BoP itu," tegas JK. Menurutnya, koreksi ini harus meliputi peninjauan ulang menyeluruh terhadap mekanisme kerja BoP, seberapa efektif resolusi yang telah dihasilkan, dan kapasitas BoP dalam memberikan tekanan nyata kepada pihak-pihak yang berkonflik. Tanpa perbaikan substansial, JK khawatir BoP hanya akan menjadi sebuah simbol tanpa kekuatan, sekadar ajang diskusi yang minim dampak perubahan signifikan di lapangan.

Dengan situasi konflik global yang semakin rumit, mulai dari perang di Ukraina, ketegangan di Laut Merah, hingga eskalasi di Timur Tengah, peran lembaga perdamaian internasional dituntut lebih aktif dan tegas. Namun, acapkali lembaga-lembaga ini terbentur oleh kepentingan politik antarnegara anggota atau keterbatasan dalam menjembatani perbedaan. Kritik tajam dari JK ini secara implisit adalah sebuah tantangan bagi BoP untuk benar-benar membuktikan relevansinya di kancah global.

Kredibilitas BoP Diuji Lewat Isu Palestina, Bagaimana Posisi Indonesia?

Menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan Indonesia untuk mundur dari BoP, Jusuf Kalla menyarankan agar keputusan itu dievaluasi setelah melihat kinerja forum tersebut dalam beberapa bulan ke depan. Ia menegaskan, dukungan Indonesia akan diberikan asalkan BoP benar-benar mampu menunjukkan hasil konkret dalam mewujudkan perdamaian, khususnya di Palestina. Konflik Israel-Palestina memang menjadi tolok ukur krusial bagi kredibilitas dan efektivitas BoP di mata banyak negara, termasuk Indonesia yang tak henti menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.

"Ya kita lihat dulu apa yang dilakukan dalam beberapa bulan akan datang. Kalau BoP itu bisa membuat kedamaian di Palestina contohnya, oke kita dukung," terang JK. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran tujuh negara Islam dalam BoP seharusnya memberikan potensi besar untuk mengupayakan penyelesaian konflik Palestina. Namun, JK tak lupa menyoroti rintangan besar yang kerap muncul, seperti penggunaan hak veto yang sering menghambat resolusi yang berpihak pada Palestina di forum internasional lainnya.

"Cuma ini ada hak veto dari Trump. Jadi jangan hanya menjadi lambang atau pengikut dari Trump aja," ungkap JK. Ia jelas merujuk pada pengaruh kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang seringkali menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi kepentingan Israel. Bagi JK, ujian paling akhir bagi BoP adalah apakah forum ini mampu mendamaikan Palestina dengan memberikan pengakuan penuh terhadap kedaulatan mereka. "Kalau tidak, hanya mendukung Israel ya buat apa," pungkas JK, menegaskan bahwa retorika perdamaian tanpa tindakan nyata, khususnya pada isu global sepenting Palestina, hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Kritik pedas dari seorang negarawan senior sekelas Jusuf Kalla ini seyogianya menjadi refleksi mendalam bagi BoP dan seluruh lembaga perdamaian internasional. Di tengah gejolak geopolitik yang kian tak menentu, harapan masyarakat dunia terhadap institusi-institusi ini untuk benar-benar menjadi agen perdamaian yang efektif kian membumbung tinggi. Masa depan BoP sendiri akan sangat bergantung pada kemampuannya bertransformasi dan menunjukkan keberpihakan nyata pada keadilan serta perdamaian universal.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment