Gaza Berduka, Bayi-bayi Mungil Meninggal Akibat Hipotermia
Gaza kembali diselimuti duka mendalam. Nyawa-nyawa mungil tak berdosa harus menyerah pada dingin ekstrem, sebuah tragedi kemanusiaan yang semakin memilukan. Aisha Ayesh al-Agha, seorang bayi perempuan berusia 27 hari, kini menjadi simbol pilu penderitaan tak berkesudahan di Gaza. Kematiannya menambah panjang daftar anak-anak yang gugur akibat hipotermia, menyoroti kerentanan ekstrem populasi, khususnya anak-anak, di tengah musim dingin yang menusuk tulang dan infrastruktur yang lumpuh.
Kematian Tragis Akibat Suhu Dingin Ekstrem
Pada Sabtu, 17 Januari 2026, kabar duka kembali mengguncang Gaza. Aisha Ayesh al-Agha, bayi perempuan berusia 27 hari, mengembuskan napas terakhirnya akibat suhu dingin ekstrem yang menusuk. Pihak Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mengonfirmasi bahwa bayi malang tersebut tiba dalam kondisi kritis, sudah terlambat untuk diselamatkan. Aisha tercatat sebagai korban kedelapan dari kalangan anak-anak yang meninggal dunia akibat hipotermia sejak musim dingin dimulai."Bayi tersebut meninggal akibat suhu yang membeku. Ini adalah gambaran nyata dari bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, di mana kondisi medis dan lingkungan sangat tidak memadai untuk menopang kehidupan, terutama bagi yang paling rentan," terang seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina dalam pernyataan resmi. Kematian Aisha bukan sekadar angka statistik, melainkan peringatan keras tentang ancaman serius yang membayangi ribuan bayi dan anak-anak lain di Gaza. Mereka kini berjuang melawan kondisi cuaca yang memburuk tanpa fasilitas penghangat memadai. Situasi diperparah oleh keterbatasan akses bahan bakar dan listrik, membuat tenda-tenda pengungsian tak ubahnya seperti perangkap dingin.
Krisis Kesehatan Ibu dan Anak yang Memburuk
Kematian Aisha hanyalah puncak gunung es dari krisis kesehatan ibu dan anak yang kian parah di Jalur Gaza. Konflik berkepanjangan telah secara sistematis menghancurkan sistem perawatan neonatal, meninggalkan celah besar dalam layanan kesehatan esensial bagi ibu hamil dan bayi baru lahir. Berdasarkan laporan Physicians for Human Rights, data antara Januari hingga Juni 2025 menunjukkan angka yang memilukan: tercatat 2.600 kasus keguguran, 1.460 kelahiran prematur, dan 2.500 bayi yang sangat membutuhkan perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU)."Fasilitas perawatan neonatal praktis tidak berfungsi. Kami menyaksikan peningkatan drastis pada kasus keguguran dan kelahiran prematur, sementara kapasitas kami untuk menyediakan perawatan vital sangat terbatas. Setiap hari adalah perjuangan untuk menyelamatkan nyawa," ungkap Dr. Fathia Al-Qassas, seorang dokter kandungan yang bertugas di Gaza, dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa blokade pasokan medis dan kekurangan bahan bakar adalah faktor utama yang melumpuhkan kemampuan rumah sakit dan klinik untuk beroperasi optimal.
Tak hanya itu, krisis ini juga berdampak signifikan pada angka kelahiran. Penurunan angka kelahiran mencapai 41 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Angka ini mengindikasikan tekanan luar biasa yang dialami keluarga-keluarga di Gaza. Para ibu yang sedang hamil atau baru melahirkan terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian yang penuh sesak, tanpa fasilitas penghangat, sanitasi yang layak, apalagi pasokan medis yang memadai. Kondisi ini membuat mereka dan bayi-bayinya sangat rentan terhadap penyakit, malnutrisi, dan yang paling krusial, hipotermia.
Ancaman Badai Musim Dingin dan Kondisi Pengungsian
Ancaman badai musim dingin semakin memperparah penderitaan para pengungsi di Gaza, menambah deretan tantangan bagi ribuan keluarga yang kini hidup dalam serba kekurangan. Selain Aisha, seorang bayi berusia satu tahun juga dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia pada Selasa lalu, menjadi bukti nyata betapa berbahayanya ancaman cuaca ekstrem. Angin kencang dan badai musiman yang melanda wilayah tersebut telah menyebabkan kerusakan parah, tidak hanya pada tenda-tenda pengungsian yang rapuh tetapi juga pada bangunan yang sudah tidak stabil akibat konflik.Dalam insiden terpisah yang terjadi baru-baru ini, dinding-dinding bangunan rapuh dilaporkan roboh menimpa tenda-tenda pengungsi, menewaskan sedikitnya empat orang dewasa. Kejadian ini semakin menyoroti bahaya yang mengintai para pengungsi di kamp-kamp sementara yang tidak memenuhi standar keselamatan dasar. James Elder, Juru Bicara Unicef, mengungkapkan keprihatinannya. "Meskipun gencatan senjata telah dimulai sejak Oktober, lebih dari 100 anak telah tewas di wilayah tersebut akibat berbagai komplikasi dari konflik dan bencana alam yang menyertainya," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa bahaya bagi anak-anak di Gaza tidak hanya datang dari baku tembak, tetapi juga dari kondisi hidup yang mengerikan.
Badai yang baru-baru ini terjadi telah menyebabkan banjir besar di kamp-kamp pengungsian, merendam tenda-tenda dan barang-barang milik pengungsi. Banjir ini tidak hanya merusak harta benda tetapi juga menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan lembap, meningkatkan risiko penyakit serta hipotermia pada bayi dan anak-anak. Kendati serangan udara dan baku tembak telah berkurang, kondisi kehidupan di Gaza tetap berada di titik nadir. Tanpa akses memadai terhadap tempat tinggal yang aman, makanan bergizi, air bersih, dan fasilitas medis, kelangsungan hidup populasi rentan, terutama bayi dan anak-anak, terus berada di ujung tanduk. Komunitas internasional mendesak adanya upaya masif untuk menyediakan bantuan kemanusiaan segera dan membangun kembali infrastruktur vital sebelum krisis ini merenggut lebih banyak nyawa tak berdosa.