Top 5 Headline Dunia yang Bikin Kamu Tercengang Hari Ini
Berikut rangkuman sejumlah berita internasional yang menarik perhatian dalam 24 jam terakhir. Mulai dari komentar pedas Donald Trump soal Somalia, hingga kekhawatiran warga Eropa soal potensi perang dengan Rusia.
Trump Sebut Migran Somalia Tak Tahu Berterima Kasih, Warga Bereaksi
Komentar pedas mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menuai sorotan. Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu (3/12), Trump melontarkan pernyataan kontroversial tentang migran Somalia. Ia menyebut mereka tidak tahu berterima kasih dan bahkan mengatakan, "Di Somalia, mereka tidak punya apa-apa, mereka hanya berkeliaran saling membunuh."
Pernyataan ini langsung memicu beragam reaksi dari warga Somalia. Faduma Hussein, aktivis Somalia-Amerika di Minneapolis, menyayangkan generalisasi yang merendahkan tersebut. "Pernyataan semacam ini justru memperburuk stigma terhadap komunitas kami," ujarnya. Sementara itu, Abdi Rahman, seorang pedagang di Mogadishu, menanggapi dengan nada pasrah, "Kami sudah terbiasa dengan pandangan negatif dunia. Ini bukan hal baru."
Mahathir Mohamad Laporkan Anwar Ibrahim ke Polisi, Ada Apa?
Politik Malaysia kembali memanas. Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad secara mengejutkan melaporkan Perdana Menteri saat ini, Anwar Ibrahim, ke polisi pada 2 Desember lalu. Laporan ini terkait dengan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (ART) antara Malaysia dan Amerika Serikat.
Mahathir mengklaim Anwar mengambil tindakan terkait perjanjian tersebut tanpa mandat penuh dari badan-badan yang seharusnya mewakili Federasi Malaysia. Menurutnya, persetujuan seharusnya melibatkan Yang di-Pertuan Agong, Dewan Rakyat, Dewan Penguasa, dan eksekutif pemerintah. "Perjanjian itu tidak sah karena beliau (Anwar) bukan satu-satunya perwakilan Federasi," tegas Mahathir usai membuat laporan di Markas Besar Kepolisian Distrik Putrajaya.
Profesor Ahmad Fauzi Abdul Hamid, pengamat politik dari Universitas Sains Malaysia, menilai langkah Mahathir ini sebagai upaya mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah dan menantang legitimasi Anwar.
Survei: Mayoritas Warga Eropa Khawatir Perang dengan Rusia Akan Terjadi
Sebuah survei yang dilakukan oleh kelompok jajak pendapat Cluster 17 menunjukkan bahwa mayoritas warga di sembilan negara Uni Eropa merasa risiko perang dengan Rusia sangat nyata. Survei yang melibatkan hampir 10.000 responden ini dipublikasikan di jurnal hubungan internasional Prancis, Le Grand Continent, Kamis (4/12).
Temuan ini muncul di tengah eskalasi konflik Rusia-Ukraina sejak 2022. Ketegangan diperparah dengan peringatan Jenderal Top Prancis, Fabien Mandon, yang menyebut Rusia sedang mempersiapkan konfrontasi baru pada 2030. Bahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi dengan mengatakan, "Jika Eropa menginginkan perang, kami siap sekarang juga."
Dr. Clara Mattei, analis politik dari London School of Economics, mengatakan hasil survei mencerminkan kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat Eropa.
Putin Kembali Tegaskan Ambisi Kuasai Seluruh Donbas
Presiden Rusia, Vladimir Putin, kembali menegaskan tekadnya untuk menguasai seluruh wilayah Donbas di Ukraina. Ia menyatakan Rusia akan merebut Donbas dengan paksa, kecuali pasukan Ukraina mundur sukarela.
Donbas, yang terdiri dari wilayah Donetsk dan Luhansk, telah menjadi pusat konflik sejak 2014. Rusia melancarkan operasi militer ke Ukraina pada Februari 2022, dengan alasan melindungi penduduk etnis Rusia dan mencegah ekspansi NATO. "Kami bebaskan wilayah-wilayah ini dengan kekuatan senjata, atau pasukan Ukraina meninggalkan wilayah-wilayah ini," kata Putin kepada media India Today, menjelang kunjungannya ke New Delhi.
China Gelontorkan Bantuan Rp 1,6 Triliun untuk Palestina
Presiden China, Xi Jinping, mengumumkan bantuan sebesar US$100 juta (sekitar Rp 1,6 triliun) untuk Palestina. Bantuan ini ditujukan untuk meringankan krisis kemanusiaan di Gaza dan mendukung upaya pembangunan kembali. Pengumuman ini disampaikan saat konferensi pers bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Beijing.
Xi Jinping menekankan pentingnya pembangunan kepercayaan politik dengan Prancis, seraya menunjukkan dukungan satu sama lain dan "kemandirian" masing-masing pihak. Bantuan ini disambut baik oleh pemerintah Palestina dan organisasi kemanusiaan internasional, yang berharap dapat meringankan penderitaan warga Gaza.