Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud tak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas pengakuan Israel terhadap Somaliland. Wilayah separatis yang sudah tiga dekade berjuang mencari legitimasi internasional itu, tiba-tiba saja diakui oleh Tel Aviv, sontak memicu reaksi keras dari Mogadishu. Mohamud pun tak sungkan menyentil kebiasaan Israel yang dinilainya gemar campur tangan urusan negara lain, menyebut langkah itu sebagai tindakan tak terduga yang bisa membawa dampak serius bagi perdamaian di Tanduk Afrika, bahkan nasib warga Palestina.
Presiden Mohamud Terkejut dan Kecam Keras
Rasa terkejut Presiden Hassan Sheikh Mohamud bukan tanpa sebab. Somaliland, yang mendeklarasikan kemerdekaan pada 1991, sudah lama berjuang mencari pengakuan dari komunitas internasional namun selalu menemui jalan buntu. "Somaliland telah mengklaim isu pemisahan diri untuk waktu yang lama, selama tiga dekade terakhir, dan tidak satu pun negara di dunia yang mengakuinya," tutur Mohamud dalam wawancara eksklusif dari Istanbul, Turki, yang salinannya diperoleh beberapa media regional. Menurutnya, keputusan Israel yang mendadak ini, setelah rentang waktu begitu lama, jelas bukan sekadar isyarat diplomatik biasa.
Lebih jauh, Presiden Mohamud meyakini bahwa pengakuan ini hanyalah kedok untuk tujuan strategis tertentu yang penuh risiko. Somalia sendiri, jelas Mohamud, sedang berupaya menyatukan kembali negaranya dengan damai, sebuah proses rumit yang sangat membutuhkan stabilitas internal. Oleh karena itu, langkah Israel dinilai mengganggu upaya rekonsiliasi tersebut. Ini sekaligus menjadi sindiran tajam terhadap kebiasaan Israel yang kerap ikut campur urusan domestik negara-negara lain.
Dugaan Motif Tersembunyi Israel di Balik Pengakuan Somaliland
Presiden Somalia menyoroti adanya dugaan motif dan syarat tersembunyi di balik pengakuan Israel terhadap Somaliland. Menurutnya, langkah ini berpotensi menimbulkan dampak buruk yang jauh melampaui sekadar isu kedaulatan, terutama terkait isu Palestina dan stabilitas Tanduk Afrika yang memang sudah rapuh.
Dampak Buruk bagi Palestina dan Tanduk Afrika
Mohamud secara gamblang menyuarakan kekhawatiran bahwa Israel akan memanfaatkan pengakuan Somaliland untuk memaksa pengungsi Palestina ke Somalia. Ia juga khawatir Tel Aviv akan "mengekspor" masalah yang kini terjadi di Gaza ke wilayah Tanduk Afrika. "Israel tidak memiliki niat damai untuk datang ke Somalia," tegas Mohamud. Ia menilai ini adalah langkah amat berbahaya yang harus dipandang sebagai ancaman serius oleh seluruh dunia, terutama negara-negara Arab dan Muslim yang memiliki ikatan kuat dengan isu Palestina.
Syarat Pengakuan: Pemukiman Kembali Palestina dan Pangkalan Militer Israel
Menurut intelijen Somalia, Somaliland disebut telah menyepakati tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut. Syarat-syaratnya meliputi pemukiman kembali warga Palestina di wilayah Somaliland, pendirian pangkalan militer Israel di pantai Teluk Aden yang strategis, serta bergabungnya Somaliland ke dalam Perjanjian Abraham. Perjanjian Abraham sendiri merupakan pakta normalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan, yang telah ditandatangani sebelumnya.
Kehadiran Israel yang Telah Ada di Somaliland
Mohamud juga mengungkapkan bahwa intelijen Somalia telah mendeteksi keberadaan Israel di Somaliland bahkan sebelum pengakuan resmi diumumkan kepada publik. Oleh karena itu, ia menganggap pengakuan tersebut sekadar normalisasi atas apa yang sudah berlangsung secara diam-diam. Ini mengindikasikan manuver diplomatik ini memiliki akar yang lebih dalam dan telah direncanakan jauh-jauh hari.
Reaksi Internasional dan Sikap Amerika Serikat
Langkah Israel mengakui Somaliland langsung memicu beragam reaksi dari komunitas internasional, mulai dari kecaman keras hingga sikap ambigu. Peristiwa ini pun cepat menjadi sorotan utama dalam diskusi diplomatik global.
Kecaman Keras dari Berbagai Negara dan Dewan Keamanan PBB
Pengakuan Israel tersebut sontak dikutuk oleh mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan darurat yang diadakan di New York beberapa waktu lalu. Berbagai negara lain juga menyuarakan penolakan tegas, termasuk Indonesia yang secara konsisten mendukung kedaulatan Somalia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, bersama Presiden Mohamud, bahkan memperingatkan bahwa langkah itu berpotensi besar mengacaukan kawasan Tanduk Afrika yang sangat vital secara geopolitik.
Sikap Ambigu Amerika Serikat Jadi Sorotan
Namun, yang menarik, Amerika Serikat menjadi satu-satunya anggota dari 15 kursi Dewan Keamanan PBB yang membela langkah Israel tersebut. Meski demikian, Washington juga menegaskan bahwa posisi AS mengenai Somaliland tidak berubah, yakni tetap mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Somalia. Mohamud pun menolak tegas sikap ambigu ini. Ia menyatakan bahwa Washington sebelumnya sudah memperjelas kebijakannya yang secara konsisten mendukung kedaulatan Somalia. "Kita menilai Amerika Serikat berdasarkan apa yang mereka katakan. Itu cukup jelas, mereka mendukung kedaulatan Somalia dan menjauhkan diri dari Israel (dalam masalah ini)," tegas Mohamud, menunjukkan harapannya akan konsistensi penuh dari sekutunya tersebut.
Al-Shabab Ikut Bersuara, Mohamud Tegaskan Kedaulatan Somalia
Di tengah isu pengakuan Somaliland yang memicu ketegangan diplomatik ini, kelompok bersenjata Al-Shabab turut menyuarakan kecaman mereka. Namun, pernyataan tersebut langsung ditolak tegas oleh Presiden Mohamud, yang justru menyoroti kemajuan signifikan yang telah dicapai Somalia.
Kecaman dan Ancaman dari Al-Shabab
Kelompok bersenjata Al-Shabab, yang dikenal berafiliasi dengan Al-Qaeda, dengan cepat mengeluarkan pernyataan yang mengutuk langkah Israel. Mereka bahkan mengancam akan menargetkan setiap kehadiran Israel di wilayah tersebut, memanfaatkan sentimen anti-Israel yang kuat di kawasan untuk tujuan perekrutan anggota baru dan propaganda. Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di Somalia.
Mohamud Tolak Mentah-mentah Retorika Al-Shabab
Meski begitu, Presiden Mohamud menolak mentah-mentah retorika Al-Shabab. Ia menyebut mereka sebagai proksi Al-Qaeda yang tidak memiliki kepentingan sejati terhadap kedaulatan Somalia. "Merekalah yang membuat Somalia lemah, itulah sebabnya Israel mencoba datang ke sini sekarang," tutur Mohamud, seraya mendesak kelompok itu untuk menghentikan terorisme dan berdamai, alih-alih mengklaim membela Somalia dari Israel. Ia menyoroti, tindakan Al-Shabab justru melemahkan negara dan menciptakan celah bagi intervensi asing.
Somalia Melaju Menuju Stabilitas
Presiden Mohamud menegaskan rekam jejak positif pemerintahannya dalam melawan Al-Shabab. Ia mengungkit keberhasilan merebut sejumlah wilayah dari kelompok tersebut baru-baru ini, serta penyelenggaraan pemilihan umum langsung pertama sejak 1969. Hal ini, menurut Mohamud, menjadi bukti nyata bahwa Somalia sedang bergerak menuju stabilitas dan kemajuan demokrasi, meski dihadapkan pada tekanan eksternal dan tantangan internal. "Somalia berada dalam situasi unik selama dua tahun terakhir," ujarnya menutup pembicaraan, "Sudah saatnya Somalia keluar dari situasi tersebut." Di tengah upaya keras Somalia mencapai stabilitas, pengakuan Israel atas Somaliland ini jelas menjadi ujian berat bagi kedaulatan dan masa depan negara di Tanduk Afrika tersebut.