Israel Ngotot Kuasai Gaza, Nasib Hamas Sekarang Gimana, Ya?
Benjamin Netanyahu kembali menegaskan ambisinya untuk memegang kendali atas Gaza, meski dengan narasi bahwa Israel "tidak ingin mendudukinya secara permanen." Pernyataan ini sontak memunculkan pertanyaan penting: bagaimana nasib Hamas di Gaza, dan mungkinkah kelompok tersebut bertahan di tengah tekanan yang terus meningkat?
Kontestasi Israel dan Hamas dalam Penguasaan Gaza
Konflik Israel-Palestina kian memanas, dengan harapan perdamaian yang tampak kian menjauh. Di bawah kepemimpinan Netanyahu, Israel bersikeras mempertahankan kendali atas Gaza, wilayah yang telah lama menjadi pusat konflik. Sementara itu, Hamas, yang saat ini menguasai Gaza, menolak mentah-mentah ide perlucutan senjata, dan menegaskan bahwa hal itu baru bisa dipertimbangkan jika negara Palestina yang berdaulat telah berdiri.
"Perlucutan senjata adalah garis merah bagi kami. Kami tidak akan menyerahkan senjata kami sampai cita-cita kemerdekaan Palestina tercapai," tegas seorang juru bicara Hamas dalam pernyataan resminya. Pernyataan ini memperlihatkan jurang yang lebar antara kedua belah pihak dan tantangan besar dalam upaya perdamaian.
Penolakan Hamas terhadap Perlucutan Senjata Jadi Batu Sandungan
Perlucutan senjata Hamas menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Israel dan Amerika Serikat dalam setiap negosiasi gencatan senjata. Israel melihat perlucutan senjata sebagai syarat mutlak untuk mengakhiri konflik. Namun, Hamas bersikeras, tak akan menyerahkan senjata, bahkan sebutir peluru pun, kecuali negara Palestina merdeka diakui secara internasional.
Sikap keras Hamas ini menjadi penghalang utama dalam mencapai kesepakatan damai. Dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan PBB, sejumlah negara, termasuk negara-negara Arab, Uni Eropa, dan Liga Arab, mengeluarkan deklarasi yang menyerukan agar Hamas meletakkan senjata dan menyerahkan kendali Gaza kepada otoritas Palestina. Sayangnya, deklarasi itu tidak ditandatangani oleh Israel dan Amerika Serikat.
Bagaimana Kondisi Hamas Saat Ini?
Dua puluh dua bulan setelah serangan 7 Oktober dan respons militer Israel yang intens, Hamas dilaporkan menghadapi tekanan besar. Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa persediaan senjata mereka menipis, dan mereka terpaksa mendaur ulang senjata sisa-sisa serangan Israel, terutama bom yang gagal meledak. Bahan peledak dari bom tersebut kemudian dirakit menjadi bom untuk menyerang tentara Israel.
Terbatasnya Sumber Daya dan Minimnya Dukungan
Selain keterbatasan sumber daya, Hamas juga menghadapi isolasi politik yang semakin meningkat. Dukungan untuk kelompok ini di tingkat regional juga meredup. Kemampuan Iran untuk terus mendukung Hamas juga berkurang, terutama setelah konflik yang melibatkan Israel dan Iran baru-baru ini. Milisi Hizbullah di Lebanon, yang berafiliasi dengan Iran, juga melemah akibat serangan Israel.
Liga Arab, yang beranggotakan 22 negara, termasuk negara-negara yang sebelumnya bersahabat dengan Hamas, telah menandatangani deklarasi yang menyerukan perlucutan senjata kelompok tersebut. Tekanan yang meningkat dari negara-negara Arab dan regional ini semakin mengisolasi Hamas.
Masa Depan Hamas: Suram atau Cerah?
Meski menghadapi tantangan yang besar, Hamas sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Kelompok ini masih mempertahankan kehadirannya sebagai badan pemerintahan di Gaza, meski dengan kemampuan yang terbatas. Sebuah unit keamanan baru, yang dikenal sebagai Unit Panah, beroperasi untuk menjaga ketertiban umum dan mencegah penjarahan.
Peluang Bertahan dan Relevansi Politik yang Mungkin
Para analis meyakini bahwa Hamas masih memiliki peluang untuk bertahan, terutama jika negara Palestina terbentuk dan kelompok tersebut memenuhi komitmennya untuk melepaskan penggunaan kekuatan bersenjata. Namun, pembentukan negara Palestina tampaknya masih jauh dari kenyataan, kecuali pemerintah Israel mengubah posisinya secara drastis.
Yossi Mekelberg dari Chatham House memprediksi bahwa Hamas masih berkesempatan untuk membangun kembali dirinya di masa depan dan tetap menjadi bagian dari kancah politik Palestina, baik dari dalam maupun luar wilayah Palestina. "Banyak hal bergantung pada posisi Israel tentang potensi negara Palestina dan seberapa populer Hamas setelah situasi bencana yang dialami warga Gaza saat ini," ujarnya.
Namun, untuk tetap relevan, para pemimpin Hamas yang tersisa harus mengambil keputusan sulit. Pilihan bagi kelompok tersebut semakin menipis, terutama setelah Netanyahu menyatakan niatnya untuk mengambil "kendali penuh" atas Gaza dan "menyingkirkan Hamas." Masa depan Hamas di Gaza, dan di panggung politik Palestina, masih menjadi tanda tanya besar.