TERBARU

Gaza di Ambang Kelaparan, Mengapa Dunia Terlambat Bertindak?

Gaza di Ambang Kelaparan, Mengapa Dunia Terlambat Bertindak?


Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, mencapai titik nadir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengumumkan terjadinya bencana kelaparan di wilayah tersebut. Ironisnya, pengumuman ini dinilai terlambat oleh sebagian warga Gaza yang sudah lama bergulat dengan kekurangan pangan yang ekstrem. Deklarasi ini muncul di tengah desakan global untuk peningkatan bantuan dan penghentian permusuhan guna mencegah tragedi yang lebih dahsyat.

Gaza Dilanda Kelaparan, PBB Akhirnya Bersuara

Kabar buruk ini terungkap dalam laporan panel Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Jumat (22/8). Laporan tersebut memaparkan bahwa setidaknya 500.000 warga Gaza tengah menghadapi "bencana besar" kelaparan. Bahkan, IPC memprediksi angka ini bisa melonjak menjadi 641.000 orang pada akhir September, atau hampir sepertiga dari total populasi Gaza. Kondisi kelaparan diperkirakan akan semakin parah dan meluas ke Deir al-Balah dan Khan Younis.

Tom Fletcher, Kepala bantuan PBB di Jenewa, menegaskan bahwa tragedi ini sebetulnya bisa dihindari. "Ini adalah kelaparan yang sebenarnya bisa kita cegah jika kita diizinkan," ujarnya, merujuk pada "makanan menumpuk di perbatasan karena hambatan sistematis."

Sebelumnya, pada akhir Juli, IPC sudah memberi sinyal bahaya. Inisiatif yang didukung PBB ini memperingatkan bahwa kelaparan, malnutrisi, dan penyakit telah memicu peningkatan angka kematian akibat kelaparan. Data menunjukkan lebih dari 20.000 anak membutuhkan perawatan akibat malnutrisi akut antara April hingga pertengahan Juli, dengan lebih dari 3.000 di antaranya mengalami kondisi parah. "Data terbaru menunjukkan bahwa ambang batas kelaparan telah tercapai untuk konsumsi pangan di sebagian besar Jalur Gaza dan untuk malnutrisi akut di Kota Gaza," bunyi peringatan tersebut.

Israel Menampik Laporan Kelaparan

Kementerian Luar Negeri Israel langsung membantah temuan PBB tersebut. Dalam pernyataannya, Tel Aviv menyebut laporan IPC "didasarkan pada kebohongan yang diproses melalui organisasi-organisasi berkepentingan." "Tidak ada kelaparan di Gaza," tegas Kementerian Luar Negeri Israel. Mereka juga mengklaim bahwa bantuan dalam jumlah besar telah masuk ke Jalur Gaza dalam beberapa pekan terakhir, yang berdampak pada penurunan harga pangan.

Pemerintah Israel juga mengecam laporan itu sebagai "dokumen politik yang layak dibuang," dan bersikeras bahwa mereka telah melakukan segala upaya untuk memastikan ketersediaan pangan bagi warga Gaza. Bantahan ini kontras dengan laporan dari PBB dan organisasi kemanusiaan yang menggambarkan situasi kelaparan yang meluas.

Desakan Aksi Nyata dari Hamas hingga UNRWA

Menanggapi deklarasi PBB, kelompok Hamas menyatakan bahwa keputusan tersebut terlambat. Mereka mendesak pencabutan segera pengepungan Israel dan pembukaan penyeberangan tanpa batas untuk memungkinkan masuknya bantuan makanan, obat-obatan, air, dan bahan bakar. "Kami di gerakan Hamas menekankan pentingnya deklarasi PBB ini, meskipun datangnya sudah sangat terlambat," demikian pernyataan mereka.

Philippe Lazzarini, Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), juga mendesak Israel untuk berhenti menyangkal bencana kelaparan. "Sudah saatnya Pemerintah Israel berhenti menyangkal bencana kelaparan yang telah diciptakannya di Gaza," tegasnya, seraya menekankan bahwa pengakuan masalah adalah langkah pertama untuk menemukan solusi.

Seruan untuk tindakan segera juga datang dari berbagai organisasi kemanusiaan dan pemimpin dunia. Mereka menekankan pentingnya akses bantuan tanpa hambatan dan penghentian permusuhan.

Warga Gaza: "Deklarasi PBB Terlambat!"

Sehari setelah pengumuman PBB, potret pilu terlihat di dapur umum Kota Gaza, di mana warga Palestina saling berebut makanan. Rekaman video menunjukkan perempuan dan anak-anak berdesakan untuk mendapatkan beras, menggambarkan keputusasaan dan kebutuhan mendesak akan bantuan.

Yousef Hamad (58), seorang pengungsi dari Beit Hanoun, menceritakan: "Kami tidak punya rumah lagi, tidak ada makanan, tidak ada penghasilan... jadi kami terpaksa beralih ke dapur amal, tetapi mereka tidak memuaskan rasa lapar kami."

Umm Mohammad (34), seorang ibu, mengatakan bahwa deklarasi PBB "terlalu terlambat" karena banyak anak-anak sudah sakit akibat kekurangan makanan dan air. Hal ini menyoroti dampak jangka panjang kelaparan terhadap kesehatan generasi muda Gaza.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment