Gaza Berduka, Seribu Bangunan Rata dengan Tanah, Tangisan Korban Menggema di Balik Puing

Gaza dilanda duka mendalam. Lebih dari seribu bangunan kini hanya tinggal puing, sementara jeritan pilu terdengar dari bawah reruntuhan. Serangan tanpa henti membuat tim penyelamat kesulitan menjangkau korban.
Kerusakan Masif Akibat Serangan
Kota Gaza kembali menjadi saksi bisu kehancuran. Sejak awal Agustus 2025, permukiman padat penduduk di wilayah Zeitoun dan Sabra, Kota Gaza, rata dengan tanah akibat gempuran dahsyat. Pertahanan Sipil Palestina melaporkan lebih dari seribu bangunan hancur, mengubah wajah kota menjadi lautan puing. Bukan hanya rumah warga, fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan masjid pun tak luput dari serangan, melumpuhkan infrastruktur penting bagi kehidupan masyarakat.
"Ini tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Kami melihat langsung bagaimana rumah-rumah warga sipil hancur," ujar Mahmud Khalil, relawan Pertahanan Sipil di lokasi kejadian. "Kerusakannya sangat besar, kami butuh bantuan secepatnya untuk evakuasi dan pertolongan pertama."
Korban Terjebak di Bawah Reruntuhan
Di balik tumpukan beton dan besi, ratusan orang masih terperangkap. Tim penyelamat berpacu dengan waktu, berusaha menembus reruntuhan untuk menyelamatkan nyawa. Tangisan dan teriakan minta tolong sayup-sayup terdengar di antara puing, menambah kepedihan. Namun, upaya penyelamatan kerap terhambat serangan lanjutan dan minimnya peralatan memadai.
"Kami mendengar suara anak-anak dari balik reruntuhan, tapi sulit menjangkau mereka. Peralatan kami terbatas, dan serangan terus terjadi," ungkap seorang anggota tim penyelamat dengan nada putus asa. "Kami butuh alat berat dan dukungan internasional untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa."
Kendala dalam Upaya Penyelamatan
Blokade yang diberlakukan otoritas Israel semakin mempersulit upaya penyelamatan. Pembatasan pergerakan dan masuknya bantuan kemanusiaan menghambat tim penyelamat mencapai lokasi tepat waktu serta membawa peralatan yang dibutuhkan. Akses terbatas juga menyulitkan evakuasi korban luka ke rumah sakit, memperburuk kondisi mereka.
"Blokade ini pelanggaran HAM. Kami tidak bisa menjangkau korban karena pembatasan akses. Ini bencana kemanusiaan buatan manusia," kecam juru bicara organisasi kemanusiaan internasional. "Kami mendesak komunitas internasional menekan Israel mencabut blokade dan membiarkan bantuan kemanusiaan masuk tanpa hambatan."
Kapasitas Penyelamat Terbatas
Tim penyelamat di Gaza menghadapi keterbatasan kapasitas yang besar, tidak sebanding dengan skala kerusakan. Kekurangan peralatan, personel terlatih, dan dukungan logistik membuat mereka kewalahan menghadapi situasi darurat ini. Risiko serangan yang tinggi juga menambah bahaya dan tantangan tugas mereka.
"Kami bekerja tanpa henti berhari-hari, tapi tak bisa menjangkau semua korban. Kami kekurangan peralatan dan tenaga. Kami juga takut jadi target serangan," ungkap seorang anggota tim penyelamat dengan wajah lelah. "Kami butuh dukungan internasional untuk memperkuat kapasitas tim penyelamat dan memberikan perlindungan."
Situasi Kemanusiaan Memprihatinkan
Klaim "wilayah aman" di Gaza hanyalah ilusi. Serangan terus menghantam berbagai wilayah tanpa pandang bulu, termasuk permukiman padat, kamp pengungsian, dan fasilitas publik. Tidak ada tempat aman bagi warga sipil, memaksa mereka hidup dalam ketakutan dan ancaman kematian setiap saat.
"Tidak ada tempat aman di Gaza. Kami selalu hidup dalam ketakutan. Kami tidak tahu kapan dan di mana serangan berikutnya terjadi," kata Fatima, ibu tiga anak yang tinggal di kamp pengungsian. "Kami hanya ingin hidup damai, tapi entah kapan mimpi itu jadi kenyataan."
Korban Tewas Meningkat, Kelaparan Mengancam
Jumlah korban tewas terus bertambah, didominasi warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Selain itu, kelaparan semakin mengancam nyawa warga Gaza, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Pembatasan akses terhadap makanan dan air bersih memperburuk kondisi mereka, meningkatkan risiko penyakit dan kematian. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat ratusan orang, termasuk puluhan anak-anak, meninggal akibat kekurangan gizi dan dehidrasi sejak konflik dimulai. Sejak perang dimulai, 289 orang meninggal karena kekurangan gizi termasuk 115 anak-anak.
"Kelaparan adalah pembunuh senyap. Kami melihat anak-anak mati kelaparan di depan mata kami. Ini tragedi tak terlukiskan," ujar seorang dokter di rumah sakit di Gaza. "Kami butuh bantuan makanan dan obat-obatan segera untuk menyelamatkan nyawa." Pada hari Minggu (24/8/2025), 51 orang tewas dan 24 orang diantaranya sedang mencari bantuan.
Seruan untuk Tidak Mengungsi
Di tengah situasi yang kian memburuk, Kementerian Dalam Negeri Gaza memperingatkan warga sipil untuk tidak menanggapi seruan Israel agar mengungsi dari Kota Gaza dan wilayah utara. Mereka mendesak warga tetap tinggal di rumah atau pindah ke daerah terdekat jika terancam, daripada mengungsi ke wilayah selatan yang juga tidak aman.
"Kami menyerukan kepada warga dan pengungsi di Kota Gaza untuk tidak menanggapi ancaman dan terorisme pendudukan. Tetaplah di komunitas Anda. Jangan mengungsi ke selatan karena tidak ada tempat yang aman di sana," tegas juru bicara Kementerian Dalam Negeri Gaza.
Kamp Pengungsian Juga Tidak Aman
Pengungsian ke wilayah selatan bukanlah solusi. Kamp-kamp pengungsian pun menjadi sasaran serangan, membuktikan tidak ada tempat aman bagi warga Gaza. Kondisi di kamp-kamp sangat memprihatinkan, dengan keterbatasan air bersih, sanitasi, dan tempat tinggal layak. Hal ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan memperburuk kondisi kesehatan para pengungsi.
"Kami mengungsi ke selatan, tapi kami tidak lebih aman di sini. Tenda-tenda kami dibom. Kami hidup dalam kondisi yang sangat buruk. Kami tidak punya apa-apa," keluh seorang pengungsi yang kehilangan rumah dan keluarganya akibat serangan. "Kami hanya ingin perdamaian. Kami ingin kembali ke rumah kami."
Situasi di Gaza semakin mendesak. Bantuan kemanusiaan segera sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi penderitaan warga sipil. Komunitas internasional harus bertindak cepat untuk mengakhiri kekerasan dan menciptakan kondisi yang memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk tanpa hambatan. Masa depan Gaza dan penduduknya tergantung pada tindakan kita hari ini.