Al-Aqsa Memanas, Gelombang Warga Israel Masuk, Palestina Minta Tolong PBB

Gelombang kunjungan warga Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsa memicu ketegangan baru di wilayah tersebut. Pemerintah Palestina dengan tegas mengecam aksi ini dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera turun tangan melindungi situs suci tersebut, khawatir akan meningkatnya konflik di Yerusalem Timur.
Kecaman Keras Palestina atas Kunjungan ke Al-Aqsa
Pemerintah Palestina melayangkan kecaman keras atas tindakan sejumlah warga Israel yang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Aksi ini dianggap provokatif, melanggar status quo, dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Pernyataan Tegas dari Kementerian Luar Negeri Palestina
Kementerian Luar Negeri Palestina, dalam pernyataan resminya pada Selasa (8/7/2025), mengecam keras "penyerbuan" Masjid Al-Aqsa oleh warga Israel. Mereka menilai tindakan ini tidak dapat diterima dan memperingatkan akan konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.
"Tindakan provokatif ini akan berdampak signifikan pada status quo historis dan hukum di lokasi konflik dan di kota yang diduduki," demikian bunyi pernyataan tersebut. Kementerian juga menegaskan posisi mereka bahwa Yerusalem Timur adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki dan merupakan ibu kota Negara Palestina.
Desakan kepada PBB untuk Ambil Tindakan Nyata
Merespons situasi yang memanas, Pemerintah Palestina mendesak PBB untuk segera mengambil langkah nyata. Mereka meminta PBB dan badan-badannya untuk memikul tanggung jawab dalam melindungi tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem, khususnya Masjid Al-Aqsa.
"Kami menyerukan kepada PBB untuk bertindak cepat menyelamatkan kota Yerusalem dan tempat-tempat suci Kristen dan Islam, terutama Masjid Al-Aqsa, serta memberikan perlindungan terhadap tindakan dan rencana eskalasi sepihak," lanjut pernyataan Kementerian Luar Negeri Palestina, mengharapkan peran aktif PBB dalam mencegah eskalasi dan menjaga perdamaian.
Al-Aqsa: Lebih dari Sekadar Bangunan
Masjid Al-Aqsa bukan hanya sekadar bangunan, tetapi memiliki arti penting yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Kompleks ini juga menjadi pusat perhatian karena klaim yang berbeda dari berbagai pihak.
Nilai Spiritual Masjid Al-Aqsa bagi Umat Muslim
Sebagai situs tersuci ketiga dalam agama Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki nilai spiritual dan historis yang sangat tinggi. Umat Muslim meyakini bahwa di sinilah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi'raj. Menjaga kesucian dan keamanan Masjid Al-Aqsa adalah sebuah kewajiban agama bagi umat Muslim.
Klaim Yahudi atas "Temple Mount"
Umat Yahudi juga memiliki klaim historis atas area yang sama, yang mereka sebut sebagai "Temple Mount" atau "Gunung Bait Suci". Mereka meyakini bahwa di lokasi tersebut pernah berdiri dua kuil Yahudi pada zaman kuno. Klaim yang berbeda ini menjadi sumber konflik yang berkepanjangan antara umat Muslim dan Yahudi. Status kompleks Al-Aqsa sebagai situs yang sensitif memerlukan penanganan yang hati-hati dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing pihak.
Meningkatnya Kunjungan Pemukim Israel ke Al-Aqsa
Laporan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kunjungan oleh pemukim Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan perubahan status quo dan potensi konflik yang lebih luas.
Data dari Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina
Data dari Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina mengungkap bahwa setidaknya terjadi 25 kunjungan oleh pemukim Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa selama bulan terakhir. Peningkatan ini dianggap sebagai upaya untuk mengubah status quo dan melemahkan kendali umat Muslim atas tempat suci tersebut.
Penutupan Gereja Makam Kudus
Selain Masjid Al-Aqsa, pasukan Israel juga dilaporkan menutup Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus selama 11 hari dengan alasan masalah keamanan. Penutupan ini menyebabkan umat Kristen tidak dapat beribadah di sana dan menimbulkan kecaman dari berbagai pihak, menandakan bahwa ketegangan tidak hanya terjadi di kalangan umat Muslim, tetapi juga mempengaruhi komunitas Kristen di Yerusalem.
Status Yerusalem Timur yang Belum Selesai
Status Yerusalem Timur menjadi salah satu isu sentral dalam konflik Israel-Palestina, menjadi sumber ketegangan yang berkelanjutan.
Pendudukan Israel Sejak 1967
Israel menduduki Yerusalem Timur sejak perang Arab-Israel tahun 1967. Sejak saat itu, Israel memberlakukan hukum dan kebijakan yang dianggap diskriminatif terhadap warga Palestina. Pendudukan ini menjadi sumber penderitaan bagi warga Palestina dan menimbulkan kecaman dari masyarakat internasional.
Pencaplokan Sepihak yang Tidak Diakui
Pada tahun 1980, Israel secara sepihak mencaplok seluruh kota Yerusalem dan menyatakan sebagai ibu kota abadi mereka. Tindakan ini tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional. Sebagian besar negara di dunia menganggap Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan dan tidak mengakui klaim Israel atas kota tersebut. Status Yerusalem Timur harus diselesaikan melalui perundingan damai antara Israel dan Palestina berdasarkan resolusi PBB.
Saat ini, ketegangan di sekitar Masjid Al-Aqsa masih tinggi. Pemerintah berbagai negara dan organisasi internasional terus menyerukan de-eskalasi dan penghormatan terhadap status quo tempat-tempat suci di Yerusalem. Upaya diplomatik terus diupayakan untuk mencegah konflik yang lebih luas dan mencapai solusi damai yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak.