UI Buka Suara Soal Kontroversi Akademisi Pro-Israel Jadi Pembicara, Ini Penjelasannya

Universitas Indonesia (UI) menjadi perbincangan hangat setelah mengundang Peter Berkowitz, seorang akademisi yang dikenal karena pandangannya tentang Israel, sebagai pembicara di acara orientasi program Pascasarjana UI 2025. Kritik dari warganet pun bermunculan, memaksa UI untuk memberikan penjelasan resmi. Pihak universitas mengakui adanya kelalaian dalam proses seleksi dan menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Kontroversi Undangan untuk Peter Berkowitz
Gelombang Kritik di Media Sosial
Kehadiran Peter Berkowitz dalam Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) Pascasarjana UI 2025 menuai kecaman di berbagai platform media sosial. Warganet ramai-ramai mengkritik keputusan UI mengundang tokoh yang dianggap pro-Israel, mengingat konflik yang masih berlangsung antara Israel dan Palestina. Kritik ini menyoroti rekam jejak Berkowitz, yang dituding sebagai pendukung zionisme dan pembela tindakan Israel di wilayah Palestina. Beberapa pengguna media sosial bahkan menuding Berkowitz pernah menulis artikel yang dianggap mendukung genosida di Palestina, sehingga kehadirannya di UI dianggap tidak pantas.
Siapa Sebenarnya Peter Berkowitz?
Peter Berkowitz adalah seorang ilmuwan politik dan hukum yang saat ini menjabat sebagai Peneliti Senior Tad and Dianne Taube di Hoover Institution, Universitas Stanford. Ia meraih gelar PhD dari Yale University setelah menempuh pendidikan di Swarthmore College dan Hebrew University of Jerusalem. Selain berkarier di dunia akademis, Berkowitz juga pernah mengajar filsafat politik di Universitas Harvard dan sempat menjabat sebagai Direktur Perencanaan Kebijakan di pemerintahan sebelumnya. Latar belakang inilah yang menjadi fokus utama dalam kontroversi undangan UI.
Apa yang Dilakukan Berkowitz di Acara UI?
Dalam acara PSAU Pascasarjana UI 2025 yang diselenggarakan pada Sabtu, 23 Agustus, Peter Berkowitz tampil sebagai salah satu narasumber, bersama dengan Direktur Utama PT Pindad Sigit Santoso dan Rektor UI Heri Hermansyah. Berkowitz menyampaikan orasi yang menyoroti peran pendidikan dalam sistem demokrasi untuk melindungi hak asasi manusia. Ia juga membahas struktur kurikulum dan kesempatan yang dapat diberikan mahasiswa kepada negara. Dalam presentasinya, Berkowitz bahkan mengutip karya filsuf Yunani Aristoteles berjudul "Politik". Kehadirannya dalam forum akademik UI ini, di tengah posisinya yang kontroversial, memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Penjelasan dari Universitas Indonesia
UI Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Menanggapi kritik yang muncul, Universitas Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Arie Afriansyah, menyatakan bahwa UI memegang teguh konstitusi negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yang mengamanatkan penghapusan penjajahan di dunia, termasuk dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina melawan penjajahan Israel. "UI tetap konsisten pada sikap dan pendirian berdasarkan konstitusi Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yang terus memperjuangkan agar penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, termasuk terdepan dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina menghadapi penjajahan yang dilakukan Israel," ujarnya pada Minggu (24/8/2025).
Afriansyah juga menambahkan bahwa Rektor UI secara langsung menyampaikan dukungan penuh kemerdekaan Palestina saat bertemu dengan Duta Besar Palestina pada 17 Januari 2025 lalu.
Insiden Ini Jadi Pembelajaran Berharga Bagi UI
Arie Afriansyah mengakui bahwa kasus ini menjadi pembelajaran berharga bagi UI. Pihaknya menerima kritik dan masukan dari publik sebagai bentuk perhatian positif agar UI lebih selektif dan sensitif dalam mempertimbangkan berbagai aspek saat mengundang akademisi internasional di masa mendatang. "Kami memahami reaksi dan keprihatinan publik yang mungkin muncul akibat orasi yang disampaikan oleh salah seorang akademisi tamu pada kegiatan PSAU tersebut. Kasus ini menjadi sebuah pembelajaran sekaligus bentuk perhatian positif untuk UI agar lebih selektif dan sensitif dalam mempertimbangkan berbagai aspek saat mengundang akademisi internasional pada masa yang akan datang," jelasnya. UI berjanji akan meningkatkan kehati-hatian dalam proses seleksi pembicara untuk acara-acara akademis di masa depan.
Alasan UI Memilih Peter Berkowitz
UI kemudian menjelaskan alasan di balik pemilihan Peter Berkowitz sebagai salah satu narasumber dalam acara PSAU Pascasarjana UI 2025. Menurut Arie Afriansyah, saat memilih kandidat pembicara, UI menilai bahwa Peter Berkowitz dan Sigit Santoso adalah nama-nama terbaik dari luar negeri dan dalam negeri dalam bidang terkait. "Saat pemilihan kandidat pembicara, UI menilai bahwa Prof. Peter Berkowitz (The Hoover Institutions - University of Stanford) dan Dr. Ir. Sigit P. Santosa (PT Pindad, Alumni terkemuka MIT di Indonesia) adalah di antara nama-nama terbaik dari luar negeri dan dalam negeri dalam bidang terkait," katanya. UI menekankan bahwa pemilihan narasumber didasarkan pada kompetensi dan keahlian mereka di bidangnya masing-masing, tanpa mempertimbangkan pandangan politik atau afiliasi lainnya.
Permohonan Maaf dari UI
Sebagai penutup, Universitas Indonesia menyampaikan permohonan maaf atas kurangnya kehati-hatian dalam melakukan background check terhadap Peter Berkowitz. Arie Afriansyah mengakui bahwa UI kurang teliti dalam memeriksa latar belakang pembicara dari luar negeri tersebut. "Adapun tentang latar belakang pembicara dari luar negeri, Prof. Peter Berkowitz (The Hoover Institutions - University of Stanford), dengan segala kerendahan hati UI mengakui kurang hati-hati, dan untuk itu UI meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas kekhilafan dalam kekurangcermatan saat melakukan background check terhadap yang bersangkutan," imbuhnya. UI berjanji akan meningkatkan standar seleksi pembicara di masa mendatang dan memastikan bahwa nilai-nilai yang diusung oleh universitas selaras dengan pandangan para pembicara yang diundang. Kedepannya, UI akan berupaya membangun komunikasi yang lebih intensif dengan berbagai pihak untuk menghindari kesalahpahaman dan memastikan acara-acara akademis berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi seluruh pihak.