TERBARU

Tragis, Anak-Anak Gaza Terlalu Lapar untuk Menangis

Tragis, Anak-Anak Gaza Terlalu Lapar untuk Menangis


Gaza dilanda krisis kemanusiaan yang mengerikan. Kondisi kelaparan ekstrem telah merenggut bahkan kemampuan anak-anak untuk menangis. Gambaran pilu ini menjadi pusat perhatian dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, mendesak aksi cepat untuk mengatasi bencana kemanusiaan yang semakin memburuk.

Jeritan yang Terbungkam: Kondisi Anak-Anak Gaza Memprihatinkan

Kelaparan: Lebih dari Sekadar Angka

Inger Ashing, pimpinan Save the Children, sebuah organisasi kemanusiaan terkemuka, menyampaikan pidato yang menggugah hati di hadapan Dewan Keamanan PBB. Ia menegaskan bahwa deklarasi kelaparan oleh PBB di Gaza bukanlah sekadar istilah teknis. Lebih dari itu, ia adalah realitas pahit yang merenggut nyawa anak-anak melalui kekurangan gizi parah. "Ketika makanan tidak mencukupi, anak-anak mengalami malnutrisi akut, kemudian perlahan tapi pasti meregang nyawa dengan cara yang menyakitkan. Sederhananya, itulah kelaparan," ujar Ashing.

Ashing menjelaskan bagaimana tubuh anak-anak yang kelaparan terpaksa membakar cadangan lemaknya sendiri demi bertahan hidup. Ketika lemak habis, tubuh mulai "memakan" dirinya sendiri, menghancurkan otot dan organ vital. Proses ini menyebabkan penurunan berat badan drastis, kelelahan ekstrem, dan kerentanan terhadap berbagai penyakit.

Ketika Tangisan Pun Tak Mampu Terucap

Lebih jauh, Ashing menggambarkan suasana sunyi yang mencekam di klinik-klinik Gaza. Biasanya, ruangan-ruangan ini dipenuhi tangisan anak-anak yang kesakitan. Namun, kini keheningan menyelimuti. "Klinik kami nyaris tanpa suara. Anak-anak tak punya lagi tenaga untuk berbicara, bahkan sekadar menangis karena sakit. Mereka terbaring lemah, tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, benar-benar menderita," tuturnya. Keadaan ini mencerminkan betapa parahnya kelaparan yang menimpa anak-anak Gaza, merampas kekuatan fisik dan emosional mereka.

Peringatan dan Tanggung Jawab yang Diabaikan?

Jeritan Frustasi dari Lembaga Bantuan

Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan telah berulang kali menyuarakan peringatan tentang ancaman kelaparan yang membayangi Gaza. Mereka menuding Israel menghalangi masuknya pasokan makanan dan kebutuhan dasar lainnya ke wilayah tersebut. Pembatasan akses bantuan ini memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah sangat genting. Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa banyak keluarga di Gaza kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, terutama bagi anak-anak mereka.

Seruan Mendesak untuk Bertindak

Dalam pidatonya, Ashing menyerukan tindakan segera dari semua pihak untuk menghentikan kekejaman yang terjadi di Gaza. "Setiap individu di ruangan ini memikul tanggung jawab hukum dan moral untuk bertindak menghentikan kekejaman ini," tegasnya. Seruan ini ditujukan kepada seluruh negara anggota PBB, organisasi internasional, dan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, untuk segera mengambil langkah konkret dalam mengatasi krisis kelaparan di Gaza.

Deklarasi Kelaparan PBB: Fakta yang Tak Terbantahkan?

Dampak Kelaparan yang Merenggut Nyawa

Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi mendeklarasikan bencana kelaparan di Gaza pada hari Jumat, 28 Agustus 2025. PBB menuding Israel melakukan penghalangan sistematis terhadap bantuan selama lebih dari 22 bulan konflik. Integrated Food Security Phase Classification Initiative (IPC), lembaga pemantau kelaparan yang didukung PBB, melaporkan bahwa kelaparan telah berdampak pada 500.000 warga Jalur Gaza, termasuk di Kota Gaza.

IPC juga memperkirakan bahwa kelaparan akan meluas hingga mencakup sekitar dua pertiga wilayah Gaza pada akhir September mendatang. Proyeksi ini menggarisbawahi betapa kritisnya situasi kelaparan di Gaza, dan mendesak tindakan segera untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih dahsyat.

Respons Israel: Bantahan dan Sangkalan

Menanggapi laporan PBB tentang kelaparan di Gaza, Israel mendesak IPC untuk menarik kembali laporan tersebut, menyebutnya sebagai "direkayasa." Pemerintah Israel mengklaim bahwa bantuan kemanusiaan telah masuk ke Gaza dalam jumlah yang memadai, dan membantah tuduhan bahwa mereka menghalangi masuknya bantuan. Namun, berbagai laporan dari lapangan justru menunjukkan bahwa pembatasan akses bantuan tetap menjadi kendala utama, menghambat upaya penanggulangan krisis kelaparan.

Reaksi Internasional: Keprihatinan yang Mendalam

Kekhawatiran Dewan Keamanan PBB

Setelah pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu, 14 negara anggota -- semuanya kecuali Amerika Serikat, sekutu utama Israel -- mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan "kekhawatiran dan kesedihan mendalam" atas deklarasi kelaparan tersebut. Mereka juga menegaskan kepercayaan mereka terhadap validitas pekerjaan dan metodologi IPC. Pernyataan ini menunjukkan adanya kesepahaman yang kuat di antara sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB mengenai keseriusan situasi kelaparan di Gaza, dan perlunya tindakan segera untuk mengatasinya.

Kelaparan Sebagai Senjata Perang?

Pernyataan bersama dari 14 anggota Dewan Keamanan PBB juga menyoroti bahwa "Penggunaan kelaparan sebagai senjata perang jelas dilarang berdasarkan hukum kemanusiaan internasional. Kelaparan di Gaza harus segera dihentikan." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa mereka meyakini bahwa pembatasan akses bantuan ke Gaza merupakan pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional.

Krisis kelaparan di Gaza adalah tragedi kemanusiaan yang membutuhkan perhatian mendesak. Tindakan nyata diperlukan dari semua pihak, termasuk pemerintah Israel, organisasi internasional, dan negara-negara anggota PBB, untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza tanpa hambatan dan anak-anak yang kelaparan dapat segera menerima makanan dan perawatan yang mereka butuhkan. Tanpa tindakan, tragedi yang lebih besar dikhawatirkan akan terjadi, dan lebih banyak nyawa anak-anak yang akan hilang. Masyarakat internasional memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah hal ini terjadi.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment