TERBARU

Heboh UI Undang Tokoh Pro-Israel, Ada Apa di Balik Ini?

Heboh UI Undang Tokoh Pro-Israel, Ada Apa di Balik Ini?


Kehadiran Peter Berkowitz, seorang peneliti senior di Hoover Institution Universitas Stanford yang dikenal memiliki pandangan pro-Israel, menjadi pembicara di acara Orientasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Hal ini sontak menuai kritik dari berbagai pihak. Mengapa UI mengundang tokoh dengan latar belakang tersebut? Apa dampaknya bagi citra universitas, serta bagaimana pengaruhnya terhadap dukungan Indonesia bagi Palestina? Pertanyaan-pertanyaan ini ramai diperbincangkan.

Keberatan atas Kehadiran Tokoh Pro-Israel

Kontroversi bermula ketika Peter Berkowitz, yang dikenal publik memiliki rekam jejak mendukung kebijakan Israel, memberikan orasi di hadapan mahasiswa pascasarjana baru UI. Tindakan ini langsung memicu reaksi keras, terutama dari kalangan yang selama ini gigih membela perjuangan kemerdekaan Palestina. Kritik yang muncul menyoroti adanya ketidaksesuaian antara pandangan Berkowitz dengan posisi Indonesia yang selama ini konsisten menyuarakan dukungan bagi Palestina di berbagai forum internasional.

DPR Turut Angkat Bicara

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, tak ketinggalan menyampaikan kekecewaannya atas kejadian ini pada Selasa (26/8/2025). Ia menekankan pentingnya bagi institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi, untuk berhati-hati dalam memilih narasumber. "Ini menjadi pembelajaran penting agar setiap institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi, lebih berhati-hati dalam memilih dan mengundang narasumber," tegasnya kepada wartawan.

Menurut Himmatul, pengecekan latar belakang akademisi atau tokoh yang diundang harus dilakukan secara mendalam. "Bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari sisi ideologi, rekam jejak, dan posisi politiknya dalam isu-isu nasional dan global yang sensitif," imbuhnya. Ia mengapresiasi langkah cepat UI yang langsung meminta maaf atas kejadian ini. Permintaan maaf tersebut dinilai sudah seharusnya dilakukan, mengingat sensitivitas isu yang diangkat.

"Apalagi dunia kampus adalah ruang intelektual yang sangat berpengaruh bagi mahasiswa pascasarjana, calon pemimpin masa depan bangsa. Maka jangan sampai ruang itu diisi dengan narasi yang berpotensi merusak solidaritas bangsa kita terhadap perjuangan rakyat Palestina, yang selama ini konsisten kita dukung di forum-forum internasional," tegas Himmatul. Ia menyayangkan kehadiran narasumber pro-Israel di UI dan berharap kejadian serupa tidak terulang. Himmatul juga mengingatkan bahwa sikap politik luar negeri Indonesia secara tegas mendukung kemerdekaan Palestina, seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

UI Sampaikan Permohonan Maaf

Menanggapi berbagai kritik yang bermunculan, Universitas Indonesia secara terbuka menyampaikan permintaan maaf. Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Arie Afriansyah, membenarkan bahwa acara yang menghadirkan Peter Berkowitz berlangsung pada Sabtu (23/8/2025). Pihak UI menyatakan menerima segala kritik yang dilayangkan publik terkait kekeliruan ini.

"Universitas Indonesia (UI) menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas kritik dan masukan sebagai bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat yang bersifat konstruktif," ujar Arie dalam keterangan resmi yang diterima media pada Minggu (24/8/2025).

Arie menegaskan bahwa UI tetap memegang teguh konstitusi negara dalam mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Sikap ini, lanjutnya, telah ditunjukkan melalui berbagai upaya, termasuk pertemuan rektor UI dengan Duta Besar Palestina pada Januari 2025.

"Kami memahami reaksi dan keprihatinan publik yang mungkin muncul akibat orasi yang disampaikan oleh salah seorang akademisi tamu pada kegiatan PSAU tersebut. Kasus ini menjadi sebuah pembelajaran sekaligus bentuk perhatian positif untuk UI agar lebih selektif dan sensitif dalam mempertimbangkan berbagai aspek saat mengundang akademisi internasional pada masa yang akan datang," jelasnya.

Alasan UI Memilih Narasumber

Lebih lanjut, UI memberikan penjelasan mengenai proses pemilihan narasumber dalam acara orientasi tersebut. Menurut Arie, UI menilai bahwa Peter Berkowitz dan Dr. Ir. Sigit P. Santosa dari PT Pindad, yang merupakan alumni terkemuka MIT di Indonesia, adalah figur terbaik dari luar negeri dan dalam negeri di bidang terkait.

"Saat pemilihan kandidat pembicara, UI menilai bahwa Prof. Peter Berkowitz (The Hoover Institutions - University of Stanford) dan Dr. Ir. Sigit P. Santosa (PT Pindad, Alumni terkemuka MIT di Indonesia) adalah di antara nama-nama terbaik dari luar negeri dan dalam negeri dalam bidang terkait," kata Arie.

UI juga mengakui adanya kekurangcermatan dalam proses pengecekan latar belakang Berkowitz. "Adapun tentang latar belakang pembicara dari luar negeri, Prof. Peter Berkowitz (The Hoover Institutions - University of Stanford), dengan segala kerendahan hati UI mengakui kurang hati-hati," kata Arie. "Dan untuk itu UI meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas kekhilafan dalam kekurangcermatan saat melakukan background check terhadap yang bersangkutan," imbuhnya.

Komitmen UI terhadap Palestina

Meskipun terjadi kekeliruan dalam pemilihan narasumber, UI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Dukungan ini, menurut UI, tercermin dalam berbagai kegiatan dan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak universitas. Pertemuan antara rektor UI dan Duta Besar Palestina pada awal tahun 2025 menjadi salah satu bukti nyata dukungan tersebut.

"Kami akan terus menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang mendukung kemerdekaan Palestina dan berupaya untuk memberikan kontribusi positif bagi perdamaian di Timur Tengah," ujar Arie. UI juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam memilih narasumber untuk acara-acara mendatang dan memastikan bahwa pandangan yang disampaikan sejalan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut oleh universitas.

Ke depannya, UI berencana untuk memperkuat proses seleksi narasumber, melibatkan lebih banyak pihak dalam pengambilan keputusan, dan meningkatkan sensitivitas terhadap isu-isu global yang kompleks. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa dan menjaga reputasi UI sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi UI untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam memilih narasumber serta memastikan keselarasan dengan nilai-nilai yang dianut. Sementara itu, publik berharap UI dapat terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment