Gaza Membara, Israel Tak Henti Meski Dunia Mengecam

Kondisi terkini di Gaza semakin mencekam. Tank-tank Israel dilaporkan terus merangsek masuk ke pinggiran Kota Gaza pada Rabu (27/08), memaksa warga Palestina untuk mengungsi. Sementara itu, militer Israel bersiap menjalankan rencana pemerintah untuk merebut apa yang disebut sebagai "benteng terakhir Hamas".
Desakan Pembebasan Sandera Menggema di Israel
Di Israel, puluhan ribu orang kembali turun ke jalan pada Selasa (24/08), mendesak pemerintah untuk menyetujui kesepakatan pembebasan 50 sandera yang masih ditawan. Aksi unjuk rasa ini terpusat di Lapangan Sandera, Tel Aviv, yang menjadi simbol perjuangan untuk memulangkan para sandera sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Naama, seorang mahasiswa psikologi yang kehilangan temannya dalam serangan di festival musik Nova, turut serta dalam aksi tersebut. "Saya di sini untuk mendukung keluarga. Saya berharap pemerintah melakukan segalanya untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung 22 bulan," ujarnya kepada DW.
Kontroversi di Balik Layar Kabinet Israel
Demonstrasi yang diorganisir oleh Forum Keluarga Sandera dan Hilang ini bertepatan dengan rapat Kabinet Keamanan Israel. Namun, media Israel melaporkan rapat tersebut ditunda dan tidak membahas kesepakatan gencatan senjata yang disetujui Hamas. Para menteri disebut menghadiri jamuan makan malam perayaan legalisasi 17 permukiman Yahudi di Tepi Barat.
Hanoch Milwidsky, anggota parlemen senior dari partai Likud pimpinan Netanyahu, bahkan menuduh para pengunjuk rasa "membantu Hamas". Sementara itu, relawan bernama Dan Perlman tetap optimistis, "Kita semua di sini memiliki secercah harapan bahwa keadaan akan berubah."
Gencatan Senjata: Israel Belum Beri Kepastian
Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker, mengkritik Netanyahu karena melanjutkan "kampanyenya untuk menggagalkan kesepakatan" gencatan senjata dengan Hamas. Mediator internasional menyatakan masih menunggu tanggapan resmi dari Israel terkait perjanjian yang didukung AS dan telah disetujui Hamas. Perwakilan Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut adanya upaya mengulur waktu dan mendesak Israel memberikan jawaban serius.
Pergeseran Strategi Netanyahu?
Netanyahu sebelumnya tampak terbuka untuk kesepakatan parsial yang membebaskan sebagian sandera. Namun, kini ia lebih memilih kesepakatan komprehensif untuk membebaskan seluruh sandera. Di sisi lain, ia memerintahkan militer untuk mempercepat persiapan serangan darat di Kota Gaza, yang dikhawatirkan akan membahayakan nyawa para sandera.
Gadi Moses, mantan sandera, menegaskan bahwa kondisi Hamas tidak berubah sejak Oktober 2023 dan pemerintah Israel harus menyetujui kesepakatan tersebut.
Dampak Kemanusiaan yang Mencekam di Gaza
Rencana serangan Israel di Kota Gaza dikhawatirkan akan menjadi bencana bagi warga Palestina yang berjuang melawan kelaparan, pengungsian, dan pemboman. Meski invasi penuh dilaporkan direncanakan pada pertengahan September, Israel terus menyerang Gaza. Tank-tank dilaporkan menyerbu beberapa permukiman di Kota Gaza di tengah kemarahan global atas serangan terhadap rumah sakit Khan Younis pada Senin (23/08) yang menewaskan 20 orang, termasuk tenaga medis dan jurnalis.
Menurut jajak pendapat terbaru, 42% publik Yahudi Israel setuju dengan klaim pemerintah bahwa tidak ada orang tak bersalah di Gaza, sementara 34% sebagian setuju. Maya Rosenfeld, sosiolog di Universitas Ibrani Yerusalem, menyebut jumlah korban Palestina telah mencapai lebih dari 62.000, termasuk banyak anak-anak.
Puluhan ribu warga Israel telah menerima surat panggilan untuk bertugas di militer cadangan mulai 2 September. Dan Cohen, yang juga ikut serta dalam protes, menekankan pentingnya mengingatkan pemerintah bahwa mereka seharusnya melayani rakyat.
Konflik Meluas: Serangan dari Yaman
Militer Israel melaporkan mencegat pesawat tanpa awak yang diluncurkan dari Yaman pada Kamis (26/08), setelah sirene berbunyi di permukiman dekat Jalur Gaza. Pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran telah berulang kali meluncurkan rudal dan pesawat tanpa awak ke Israel sejak serangan Hamas pada Oktober 2023. Militer Israel juga mengklaim telah mencegat rudal yang ditembakkan dari Yaman pada Rabu (26/07).