Ngeri! Senjata Israel Ini Bikin Warga Gaza Lenyap Tanpa Bekas
Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza dilaporkan menghilang tanpa jejak sejak eskalasi konflik pada Oktober 2023. Fenomena mengerikan ini memicu dugaan kuat penggunaan senjata mematikan oleh militer Israel, yang disebut-sebut memiliki kemampuan menguapkan jaringan tubuh manusia. Sebuah investigasi mendalam yang baru-baru ini dipublikasikan mengungkap bahwa banyak korban serangan tidak menyisakan jenazah utuh, melainkan hanya percikan darah atau fragmen daging kecil di lokasi kejadian. Kondisi tragis ini tentu menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang tidak dapat memakamkan orang-orang terkasih mereka.
Laporan Investigasi: Ribuan Warga Gaza 'Lenyap' Akibat Senjata Israel
Dugaan penggunaan amunisi termal dan termobarik oleh militer Israel semakin mencuat berkat laporan investigasi khusus berjudul 'The Rest of the Story'. Laporan ini ditayangkan pada awal Februari 2024 oleh Al Jazeera, media terkemuka yang berbasis di Qatar. Investigasi tersebut secara spesifik menyoroti bagaimana ribuan warga Palestina tidak dapat ditemukan jenazahnya setelah menjadi korban serangan. Istilah "lenyap" di sini merujuk pada ketiadaan jenazah yang utuh, yang hanya menyisakan jejak biologis minim.Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim pertahanan sipil Gaza, sejak dimulainya perang pada Oktober 2023 hingga awal 2024, investigasi ini mendokumentasikan sedikitnya 2.842 warga Palestina yang diklasifikasikan 'menguap'. Angka ini bukanlah estimasi semata, melainkan hasil dokumentasi lapangan yang teliti di Jalur Gaza, menunjukkan skala dampak yang tak terbayangkan dari penggunaan senjata tersebut.
Metode 'Eliminasi' untuk Mengklasifikasikan Korban yang 'Menguap'
Untuk mengklasifikasikan korban sebagai 'menguap', otoritas pertahanan sipil Gaza menerapkan metode yang dikenal sebagai 'eliminasi' di lokasi-lokasi serangan. Mahmoud Bassal, juru bicara otoritas pertahanan sipil Gaza, menjelaskan bahwa metode ini melibatkan perbandingan jumlah penghuni yang diketahui di dalam sebuah bangunan yang hancur dengan jumlah jenazah utuh yang berhasil ditemukan. "Jika sebuah keluarga melaporkan ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga mayat utuh, kami menganggap dua sisanya sebagai 'menguap' setelah pencarian menyeluruh tidak menghasilkan apa pun selain jejak biologis — percikan darah di dinding atau fragmen kecil seperti kulit kepala," jelas Bassal. Prosedur ini krusial untuk memastikan akurasi data di tengah kondisi konflik yang sangat sulit dan penuh tantangan.Kesaksian Pilu Keluarga Korban yang Tak Temukan Jejak
Fenomena 'lenyapnya' korban ini menyisakan trauma mendalam bagi keluarga-keluarga di Gaza. Salah satu kesaksian pilu datang dari Yasmin Mahani, seorang warga Palestina yang tidak dapat menemukan jenazah putranya, Saad, setelah serangan Israel di reruntuhan sekolah al-Tabin di area Gaza City pada pertengahan 2024. "Saya masuk ke dalam masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah," tutur Mahani kepada jurnalis. Ia melakukan pencarian intensif di sejumlah rumah sakit dan kamar mayat selama berhari-hari tanpa hasil. "Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu bagian paling sulit," ucap Mahani, yang kini menjadi salah satu dari ribuan warga Palestina yang anggota keluarganya "lenyap" usai serangan Israel.Mengenal Amunisi Termal dan Termobarik: 'Bom Vakum' yang Dilarang
Sejumlah pakar militer dan saksi mata, dalam laporan investigasi, mengaitkan fenomena mengerikan ini dengan dugaan penggunaan sistematis amunisi termal dan termobarik oleh militer Israel. Senjata-senjata ini, yang populer disebut sebagai 'bom vakum' atau 'bom aerosol', dilaporkan dipasok oleh Amerika Serikat (AS). Penting untuk digarisbawahi bahwa amunisi termal dan termobarik dilarang secara internasional karena efek destruktifnya yang dahsyat dan tanpa pandang bulu terhadap sasaran sipil. Kemampuannya menghasilkan suhu ekstrem menjadi sorotan utama dalam dugaan pelanggaran hukum perang.Jenis-Jenis Amunisi yang Diduga Digunakan Israel di Gaza
Laporan investigasi mengidentifikasi beberapa tipe amunisi pasokan AS yang diduga digunakan Israel di Jalur Gaza. Ini mencakup bom MK-84 berbobot 900 kilogram, bom penghancur bunker BLU-109, dan bom luncur presisi GBU-39. Bom MK-84, yang berisi tritonal, disebutkan mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celsius. Sementara itu, bom BLU-109 didesain khusus untuk menciptakan bola api besar di dalam ruang tertutup, membakar habis segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya. Bom jenis ini diduga digunakan dalam serangan di Al-Mawasi, Jalur Gaza, pada akhir tahun 2024. Adapun GBU-39 dilaporkan digunakan dalam serangan di Sekolah Al-Tabin, lokasi di mana putra Yasmin Mahani 'lenyap'.Mekanisme Senjata Termobarik Melenyapkan Materi dan Jaringan Tubuh
Pakar militer Rusia, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa senjata termobarik tidak hanya membunuh, melainkan memiliki kemampuan unik untuk melenyapkan materi secara fisik. Berbeda dengan bahan peledak konvensional yang mengandalkan fragmentasi, senjata ini bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar di udara. Kemudian, awan tersebut dinyalakan, menciptakan bola api yang sangat besar. Ledakan dahsyat ini juga menghasilkan efek vakum yang menyedot oksigen dari area target, menghancurkan organ internal dan membakar jaringan lunak pada suhu yang sangat tinggi. Fatigarov menyebut GBU-39 mampu "membunuh melalui gelombang tekanan yang merusak paru-paru dan gelombang termal yang membakar jaringan lunak." Otoritas tim pertahanan sipil Gaza sendiri telah mengonfirmasi temuan serpihan GBU-39 di lokasi-lokasi di mana warga Palestina dinyatakan 'lenyap'.Implikasi Hukum dan Seruan Akan Tanggung Jawab Internasional
Penggunaan senjata yang dilarang secara internasional, dan dampaknya yang mengerikan, menimbulkan implikasi hukum yang sangat serius. Para pakar hukum internasional menilai bahwa penggunaan senjata tanpa pandang bulu ini tidak hanya melibatkan Israel, tetapi juga negara-negara Barat yang memasok amunisi tersebut. Mereka berpendapat bahwa negara-negara pemasok memiliki tanggung jawab moral dan hukum atas kejahatan perang yang mungkin terjadi akibat penggunaan senjata yang mereka suplai. "Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida oleh Israel," sebut pengacara dan dosen Georgetown University di Qatar, Diana Buttu, menyerukan perlunya akuntabilitas menyeluruh dari semua pihak yang terlibat.Di sisi lain, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari militer Israel terkait laporan investigasi ini. Namun, seruan untuk penyelidikan independen dan penegakan hukum internasional semakin menguat dari berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi hak asasi manusia di seluruh dunia. Komunitas global menanti langkah konkret untuk memastikan keadilan bagi para korban dan mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.